
jatim.Bengkalispos.com, SURABAYA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengakui bahwa ia menjalani masa penahanan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan cara yang efektif dan penuh refleksi.
Hasto menyatakan sejak awal ia telah memahami bahwa kasus yang menimpanya penuh dengan nuansa politik hukum. Informasi tersebut bahkan sudah ia dapatkan sejak 2023, ketika perkara itu mulai berjalan.
"Saya tetap produktif di dalam penjara. Sejak awal saya memahami bahwa ini adalah penggunaan hukum secara politik. Setelah masuk, saya langsung menulis pledoi serta teori hukum dengan perspektif ideologis dan historis," kata Hasto.
Menurut Hasto, kehidupan di balik jeruji justru memberinya kesempatan untuk berpikir bebas yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Tanpa handphone dan tanpa campur tangan dari luar, ia merasa benar-benar leluasa secara intelektual.
"Tidak memegang ponsel justru membuat saya merasa bebas. Tidak ada perintah apa pun. Saya bisa membaca buku, menulis, dan berpikir secara leluasa," katanya.
Ia menyampaikan selama menjalani penahanan, kebiasaan harian yang dijalaninya menjadi lebih teratur. Setiap hari ia melakukan olahraga dua kali, mengonsumsi makanan secara teratur, serta menjalani puasa yang memberikan dampak baik terhadap kesehatannya.
"Secara kesehatan, justru paling baik ketika berada di dalam. Saya melakukan tes darah, kolesterolnya bagus, gula darahnya baik, dan vitamin D juga baik. Kehidupan rohani juga lebih baik," kata Hasto.
Selama masa penahanannya, Hasto menghasilkan enam buku yang ia anggap sebagai puncak karyanya sepanjang hidupnya. Buku-buku tersebut mencakup topik seperti pembelaan hukum, panduan untuk para korban kriminalisasi, spiritualitas PDI Perjuangan, peran Megawati Soekarnoputri dalam tiga era, serta suara kemanusiaan.
Selain itu, Hasto juga memulai sebuah sekolah hukum di dalam penjara. Ia mengajak rekan tahanan untuk berdiskusi dan menganalisis kasus-kasus hukum yang mereka alami.
"Kami mengadakan diskusi dan analisis kasus, mirip dengan proses perkuliahan. Banyak orang berbagi pengalaman mereka sebagai korban kriminalisasi dan tekanan politik," katanya.
Hasto juga menyampaikan kebiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pagi pukul 06.00 bersama tahanan lain. Selain itu, dia sering diminta untuk menulis surat-surat penuh semangat bagi keluarga para tahanan.
"Ada 14 surat yang saya tulis untuk anak-anak dan keluarga teman-teman di dalam. Mereka meminta saya agar menyampaikan semangat dan harapan," katanya.
Berdasarkan pendapat Hasto, pengalaman-pengalaman tersebut justru memperkuat keyakinannya terhadap prinsip kemanusiaan, keadilan, serta pentingnya kebebasan berpikir ketika menghadapi tekanan politik dan hukum.(mcr12/jpnn)