Ibnu Taimiyah: Di Antara Perpecahan Mazhab dan Etika Menilai Ulama -->

Ibnu Taimiyah: Di Antara Perpecahan Mazhab dan Etika Menilai Ulama

26 Jan 2026, Senin, Januari 26, 2026

Bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA -- Dua pernyataan berikut sering dikutip untuk saling menegasikan, padahal keduanya lahir dari tradisi keilmuan yang sama: Al-Azhar, Kairo-Mesir. “Siapa yang membaca karya Ibnu Taimiyah dalam akidah, ia tersesat; dan siapa yang membaca karyanya dalam fikih, ia akan jenius.”(Prof Muhammad Ibrahim al-‘Asymawi) dan "Siapa saja yang membaca karya Ibnu Taimiyah di bidang aqidah, akan mendapatkan petunjuk; dan siapa saja yang membaca karyanya dalam bidang fiqih, akan merasa cukup."(Dr Abdullah Rusydi al-Azhari)

Terlebih lagi, banyak pernyataan yang saling bertentangan berasal dari dua kelompok pemikiran Sunni yang berbeda: Universitas Al-Azhar bersama Dewan Ulama Senior di Mesir serta lembaga Dewan Ulama Senior Arab Saudi dengan lulusan Universitas Islam Madinah. Kedua institusi ini memiliki pengaruh yang besar di seluruh dunia Muslim.

Pertanyaannya bukan: siapa yang benar?Hanya: mengapa seorang tokoh ilmiah (Ibnu Taimiyah) yang sama menghasilkan dua pengalaman bacaan yang sangat berbeda?

Jawabannya tidak semudah "benar atau salah", tetapi berkaitan erat dengan metode membaca, posisi epistemologis pembaca, serta etika perbedaan pendapat dalam kalangan Ahlus Sunnah.

Ibnu Taimiyah dalam Pandangan Ulama Besar

Salah satu aspek yang sering terlewat dalam perdebatan modern adalah fakta bahwa Ibnu Taimiyah tidak pernah dikeluarkan dari kalangan Ahlus Sunnah oleh para ulama besar ahlusunnah sepanjang masa, bahkan oleh mereka yang paling tajam mengkritiknya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani—seorang ahli hadis yang diakui oleh berbagai mazhab—menyatakan bahwa: GelarSyaikhul IslamIbnu Taimiyah diakui oleh banyak orang; Karyanya penuh dengan penolakan terhadap tajsim; Kesalahan-kesalahannya dikenali, namun kebenarannya lebih utama; Ia memiliki alat ijtihad yang sah. Beliau mengatakan:

Kewibawaan Imam Syaikh Taqiyuddin lebih terang daripada matahari. Gelar 'Syaikhul Islam' yang diberikan kepadanya pada masa dahulu hingga kini masih diucapkan oleh mulut-mulut yang bersih, dan akan tetap demikian besok seperti hari ini. Tidak ada yang menyangkal hal tersebut kecuali orang yang tidak mengetahui posisinya atau sengaja meninggalkan keadilan. Karyanya penuh dengan penyangkalan terhadap orang-orang yang mengatakan tajsim dan berusaha melepaskan diri dari tuduhan itu.

Namun demikian, beliau tetap merupakan seorang manusia yang bisa benar dan bisa salah. Apa yang benar darinya—dan jumlahnya lebih banyak—diambil manfaatnya serta didoakan karena kebenarannya. Sementara itu, yang salah tidak diikuti, tetapi beliau tetap diberi kelonggaran; karena para imam pada masa itu telah menyaksikan bahwa alat ijtihad telah sempurna pada dirinya.” (sumber: Ar-Radd Al-Wâfir karya Ibnu Nashiruddin al-Dimasyqi)

Bukanlah pertahanan emosional, tetapi evaluasi metodologis para ulama muhaqqiq.

Meskipun Taqiyuddin as-Subki—yang merupakan lawan debat teologisnya yang paling tajam—tetap menggambarkan Ibnu Taimiyah sebagai: "berjalan di atas jalan salaf dengan cara yang paling sempurna, dan sosok seperti ini sangat langka dalam berbagai masa."sumber: Thabaqat al-Hanabilah karya Ibnu Rojab al-Hanbali)

Di sinilah letak kejujuran tradisi keilmuan klasik: berbeda keras tanpa membatalkan keilmuan dan keislaman lawan berfikir.

Kesalahan Alim Tidak Menghilangkan Kepemimpinan dalam Ilmu

Argumen utama dalam teks di atas sangat relevan dengan situasi saat ini:Kesalahan seorang pendeta dalam beberapa hal tidak membuatnya keluar dari kalangan Ahlus Sunnah.

Jika aturan ini diabaikan, maka: Imam Malik dapat "dihancurkan" akibat kritik yang diajukan oleh Imam Al-Laits bin Sa’d; Imam Syafi‘i bisa "dipertanyakan" oleh Imam Ahmad bin Hanbal; bahkan para sahabat Nabi juga akan saling bertentangan.

Meskipun sejarah Islam justru menunjukkan kebalikannya: perbedaan yang tajam hidup berdampingan dengan pengakuan akan keunggulan.

Maka masalah sebenarnya bukanlah terletak pada Ibnu Taimiyah, melainkan pada pola pikir pembaca yang memanfaatkan perbedaan sebagai alat untuk merusak kredibilitas dan menjalankan proyek memecah belah umat.

Mengapa Ada yang "Kehilangan Jalan" dan Ada yang "Menerima Petunjuk"?

Di sinilah dua kutipan awal perlu dipahami dengan cara yang lebih matang.

Mereka yang menyebut "tersesat" biasanya: Membaca Ibnu Taimiyahdengan belenggu vonis sektarian; Mengambil perkataan-perkataan lahir tanpa memahami maksudnya; Menggunakannya sebagai alat ideologis untuk menipu orang lain.

Sementara mereka yang menyatakan "mendapat petunjuk" biasanya: Membaca karya Ibnu Taimiyah dalam lingkungan Ahlus Sunnah; Menempatkannya setara dengan Asy‘ari, Maturidi, dan para fuqaha; Mengambil semangatittiba‘ salaf, bukan literalisme retorik

Dengan kata lain: masalahnya terkadang bukan terletak pada teks itu sendiri, melainkan pada pikiran pembacanya.

Teks ini—khususnya pengakuan penulisnya yang bersedia mengubah pandangan lama demi kebenaran—merupakan kritik tajam terhadap budaya dakwah saat ini: yang menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai simbol ideologis; yang merujuk ulama untuk memenangkan pihak tertentu; yang menyembah atau membenci tanpa adab ilmiah.

Meskipun aliran Ahlus Sunnah selalu jelas: mengambil kebenaran, meninggalkan kesalahan, dan menjaga martabat para ulama.

Kebenaran Tidak Membutuhkan Fanatisme

Ibnu Taimiyah bukan seorang nabi. Ia juga bukan orang yang terlindungi dari kesalahan. Namun, ia tidak termasuk dalam golongan penyimpang, mubtadi' yang sesat, atau mujassimah yang kafir sehingga pantas dijauhi dari kalangan Ahlus Sunnah, sebagaimana dituduhkan oleh sebagian ulama dan pengikut Asy’ariyah.

Sebaliknya, kita sering mendengar sikap arogan dari tokoh dan umat Salafi yang mengatakan, "Bacalah karya Imam an-Nawawi atau Ibn Hajar ‘Asqalani dan ambil manfaat dari ilmunya, tetapi waspadalah terhadap aqidah mereka (Asy’ari) yang rusak."

Bukankah kedua pihak melakukan praktik pemilahan yang bersifat memilih-milih (intiqa’iyyah - iqsha’iyyah) yang sama—mengurangi dan memotong warisan para ulama sesuai dengan ukuran diri serta keinginan mereka sendiri?

Menghadapinya dengan adil bukan hanya terkait sejarah, tetapi juga tentang masa depan etika ilmu pengetahuan umat: apakah kita mewarisi tradisi para ulama—atau hanya mewarisi perselisihan mereka tanpa mendalamnya ilmu mereka.

Dan saat ini, pernyataan penutup pantas menjadi cermin bagi kita semua:Seorang Muslim yang autentik adalah seseorang yang mencari kebenaran; dan ketika kebenaran muncul, ia mengakui hal itu, meskipun berasal dari kelompok yang berbeda darinya.

Wallahu a’lam bil-shawab.

TerPopuler