
Bengkalispos.com,JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pagi ini dibuka melemah tajam karena adanya tekanan jual yang besar di pasar saham. Pada awal perdagangan, IHSG mengalami penurunan sebesar 6,69% atau turun 600,92 poin. Sampai pukul 10.00 WIB, indeks komposit tetap berada di area merah dengan penurunan hingga 6%.
Tekanan pasar terjadi bersamaan dengan turunnya beberapa saham perusahaan yang terkait dengan konglomerasi. DataStockbit Sekuritasmenunjukkan terdapat 10 saham yang mengalami penurunan paling besar dalam perdagangan intraday, termasuk saham yang terkait dengan Grup Bakrie, perusahaan yang berkaitan dengan Happy Hapsoro, hingga konglomerasi besar lainnya.
Saham PT Artha Mahiya Investama Tbk. (AIMS) mengalami penurunan terbesar dengan koreksi sebesar 15% menuju harga Rp595. Diikuti oleh saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) yang turun 15% menjadi Rp1.445 serta saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang juga mengalami penurunan 15% ke level Rp98.600.
Kekuatan serupa juga dirasakan saham PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC) yang turun 15% menjadi Rp3.060 dan PT Jasa Berdikari Logistics Tbk. (LAJU) yang melemah 15% ke Rp102. Saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) juga mengalami penurunan sebesar 15% menjadi Rp4.590.
Sementara itu, saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN) mengalami penurunan sebesar 14,98% menjadi Rp2.270, diikuti oleh PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) yang turun 14,97% menjadi Rp1.420. Saham PT Royalindo Investa Wijaya Tbk. (INDO) melemah sebesar 14,95% menjadi Rp438 dan PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk. (RMKO) mengalami penurunan 14,94% menjadi Rp1.310.
Tekanan juga menghampiri saham-saham besar yang menjadi penggerak IHSG. Selain DSSA dan IMPC, saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) turun 14,89% menjadi Rp9.575. Saham-saham afiliasi Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), mengalami penurunan sebesar 14,81% ke Rp2.300 dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melemah 12,11% menjadi Rp8.350.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Selanjutnya, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) mengalami penurunan sebesar 13% menjadi Rp13.725, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) melemah sebesar 11,20% menjadi Rp1.150, dan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 10,67% menjadi Rp1.590. 2. Berikutnya, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) turun 13% ke harga Rp13.725, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) melemah 11,20% ke Rp1.150, serta saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) terkoreksi 10,67% ke Rp1.590. 3. Setelah itu, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) merosot 13% menjadi Rp13.725, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) melemah 11,20% ke Rp1.150, dan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 10,67% ke Rp1.590. 4. Selanjutnya, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) turun 13% menjadi Rp13.725, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mengalami pelemahan sebesar 11,20% ke Rp1.150, serta saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) terkoreksi 10,67% ke Rp1.590. 5. Berikutnya, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) mengalami penurunan sebesar 13% menjadi Rp13.725, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) melemah 11,20% ke Rp1.150, dan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 10,67% ke Rp1.590.
Penurunan IHSG pada pagi ini terjadi bersamaan dengan pengumuman hasil konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai kebijakan rebalancing MSCI Indonesia Index. Pada 27 Januari 2026, MSCI mengumumkan kebijakan sementara berupa penundaan perubahan indeks saham Indonesia yang mulai berlaku segera.
Kebijakan tersebut meliputi tidak adanya kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares/NOS), tidak ada penambahan saham Indonesia ke MSCI Investable Market Index (IMI), serta tidak dilakukannya perpindahan saham dari kategori Small Cap ke Standard atau segmen ukuran yang lebih besar.
Selain itu, MSCI menilai bahwa transparansi mengenai struktur kepemilikan saham di Indonesia masih kurang memadai, khususnya jika hanya mengandalkan data klasifikasi pemegang saham dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Keadaan ini dinilai dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek, terutama untuk saham-saham dengan kapitalisasi besar yang rentan terhadap aliran dana global.
--
Disclaimer: berita ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Bengkalispos.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil oleh pembaca.