
Bengkalispos.comMunculnya gelombang Hallyu yang dipengaruhi oleh kepopuleran K-pop dan K-drama, telah berkontribusi dalam meningkatkan posisi Korea Selatan di peta pendidikan internasional.
Namun ternyata bukan budaya pop yang menjadi jurusan paling diminati oleh mahasiswa internasional yang menempuh studi di Korea Selatan.
Berdasarkan survei Kondisi Kehidupan Imigran dan Tenaga Kerja tahun 2025, jurusan ilmu sosial yang tidak mencakup studi Korea menjadi yang paling umum dipilih oleh penduduk asing dengan visa pelajar, yaitu sebesar 29,3 persen dari jumlah keseluruhan pada Mei tahun lalu.
Studi Korea menduduki posisi kedua dengan persentase sebesar 17,8, diikuti oleh bahasa Korea yang mencapai 16,6 persen dan teknik sebesar 15 persen.
Terdapat peningkatan yang signifikan sebesar 3,3 poin persentase dalam teknik pada Mei 2023.
Sebaliknya, jumlah pendaftar di bidang humaniora dan seni mengalami penurunan sebesar 3,2 poin persentase, dengan total pangsa keduanya berkurang dari 17,2 persen pada tahun 2023 menjadi 14 persen pada tahun 2025.
Berdasarkan data pemerintah, persepsi mengenai kualitas program akademik di Korea Selatan menjadi alasan utama bagi mahasiswa internasional dalam memilih belajar di negara tersebut, yang diungkapkan oleh 34 persen responden.
Alasan ini diikuti oleh kesesuaian antara jurusan di Korea Selatan dengan minat akademis mahasiswa, yaitu sebesar 20,5 persen, serta keyakinan bahwa gelar dari lembaga Korea Selatan dapat meningkatkan peluang karier, sebesar 10,1 persen.
Persentase mahasiswa yang menyebutkan bahwa kekuatan program akademik meningkat naik sebesar 4,0 poin persentase dari 30 persen pada tahun 2023, sementara mereka yang mengatakan datang ke Korea Selatan terutama untuk belajar mata pelajaran terkait Korea turun dari 21,9 persen menjadi 20,5 persen selama periode yang sama.
Temuan ini bertentangan dengan anggapan umum bahwa ledakan konten K-pop secara global menjadi penggerak utama minat untuk belajar di Korea Selatan.
Survei terpisah yang dilakukan pada bulan September 2025 oleh perusahaan perangkat lunak Orangesquare menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh mahasiswa internasional menyatakan bahwa belajar bahasa Korea menjadi alasan utama mereka, sedangkan sisanya mengungkapkan bahwa mereka termotivasi oleh pengaruh Hallyu.
Namun, data resmi yang dikeluarkan pemerintah Korea Selatan menunjukkan bahwa kualitas pendidikan akademik, bukan minat budaya, lebih berpengaruh dalam menentukan keputusan mahasiswa internasional untuk belajar di Korea Selatan.
Peningkatan jumlah mahasiswa di jurusan sains dan teknik tampaknya menunjukkan dampak dari kebijakan pemerintah yang bertujuan mengarahkan mahasiswa ke bidang teknologi tinggi.
Tahun lalu, pemerintah Korea Selatan memperluas jangkauan penerima program Global Korea Scholarship untuk jalur sains dan teknik, dengan menitikberatkan lebih besar pada rekrutmen calon pemimpin di sektor industri yang maju maupun berkembang.
Akibatnya, jumlah mahasiswa internasional yang didukung oleh GKS yang menempuh gelar master dan doktor dalam bidang sains serta teknik meningkat menjadi 2.126 pada tahun 2025, naik dari 1.864 pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan kebijakan Kementerian Pendidikan pada bulan Desember tahun lalu, pemerintah berencana menaikkan proporsi mahasiswa sains dan teknik, termasuk calon magister dan doktoral yang didanai GKS, menjadi 45 persen pada tahun 2027.
Persentase mahasiswa di bidang sains dan teknik mencapai 39,2 persen pada tahun 2024, dengan 1.864 dari total 4.760 mahasiswa pascasarjana GKS yang terdaftar dalam jurusan tersebut, melebihi angka 40 persen pada tahun sebelumnya.
Departemen pendidikan memiliki target meningkatkan proporsi tersebut menjadi 43 persen pada tahun ini, yaitu sekitar 2.500 mahasiswa, dan mencapai 45 persen, atau sekitar 2.700 mahasiswa, pada tahun 2027.
Hal ini secara efektif menjadikan mahasiswa sains dan teknik, hampir separuh dari seluruh mahasiswa pascasarjana yang dibiayai GKS.
Perubahan kebijakan ini terjadi karena Korea Selatan menghadapi penurunan jumlah penduduk yang berkelanjutan akibat tingkat kelahiran yang rendah, sehingga memperkuat kebutuhan untuk menarik mahasiswa dan pekerja asing di bidang-bidang teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan atau AI.
Meskipun demikian, jumlahnya tetap tergolong kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan populasi mahasiswa internasional.