:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Suasana-rumah-duka-Deden-Maulana-pegawai-KKP-korban-pesawat-ATR-jatuh-di-Maros-Pangkep.jpg)
Ringkasan Berita:
- Tetangga mengingat perpisahan sederhana Deden sebelum ia menghilang dalam penerbangan.
- Istri dan tetangga kaget mendengar berita pesawat hilang.
- Tim pencarian dan pertolongan menemukan sisa bangunan serta satu korban di dalam jurang.
NEWS.COM, JAKARTA —"Kami duluan dulu Pak," menjadi ucapan perpisahan terakhir Deden Maulana yang kini menjadi kenangan bagi warga sekitar, sebelum pesawat ATR 42-500 yang ia tumpangi hilang kontak di Gunung Bulusaraung, perbatasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Deden, karyawan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), merupakan salah satu dari sepuluh korban kecelakaan pesawat tersebut.
Suratno (66), tetangga dekat Deden, mengingat sifat korban yang baik dan jarang berbicara banyak. Sehari sebelum kejadian, Deden hanya mengatakan:
Pak No, saya pergi dulu ya.
Tidak ada pesan khusus atau gerakan lain.
"Ia memang selalu seperti itu. Saat berangkat, hanya sekadar pamit. Setiap kali saya ada di depan, ketika bertemu dia, ia langsung pergi, tidak pernah berhenti, hanya sekadar menyampaikan pamit," ujar Suratno di rumah duka, Jalan Mesir II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (18/1/2026).
Kaget, Tahu-tahu Istri Menangis
Ketika berita pesawat hilang terdengar, Suratno merasa kaget.
Istri Deden tiba-tiba menangis di depan pintu, memberitahu suaminya mengalami kecelakaan pesawat.
"Saya juga kaget, karena saya tidak mengetahui informasi apa pun, hanya tidur di rumah. Tiba-tiba istri menangis di depan pintu saya, 'Pak No, Deden jatuh dari pesawat. Pesawatnya jatuh, kehilangan kontak.' Ya, saya berkata agar tetap sabar, kita harus bersabar dan berdoa," kata Suratno.
Anggota keluarga dan tetangga masih menantikan informasi dari tim pencarian dan pertolongan serta tim bersama hingga sore hari Minggu.
"Siapa tahu, namanya saja mukjizat, kita tidak tahu. Semoga segera ditemukan, agar ada kabar yang sampai ke sini," tambahnya.
Sisa Pesawat dan Seorang Korban Ditemukan
Kepala Kantor Pencarian dan Penolong Kelas A Makassar yang menjabat sebagai Koordinator Misyon SAR (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengumumkan bahwa satu korban laki-laki telah berhasil ditemukan.
Proses evakuasi sedang dilakukan melalui jalur pendakian dari puncak Gunung Bulusaraung, sisi Kabupaten Pangkep.
"Pada pukul 14.20 WITA, seorang korban laki-laki ditemukan di koordinat 04°54'44"S dan 119°44'48"S dengan kedalaman jurang sekitar 200 meter serta berada di dekat serpihan pesawat," ujar Arif.
Selain para korban, tim Search and Rescue Unit (SRU) 3 menemukan potongan pesawat yang diduga merupakan bagian rangka dan kursi. Laporan visual juga menunjukkan posisi mesin pesawat di sekitar lokasi penemuan tersebut.
Kegiatan pencarian dan penyelamatan berlangsung dalam kondisi cuaca buruk: hujan lebat serta kabut tebal mengurangi jarak pandang petugas hanya sekitar lima meter.
"Kejadian ini memengaruhi pergerakan tim, termasuk pernah terjadi pembatalan penurunan vertikal untuk menjaga keselamatan personel," ujar Arif.
Identitas 20 Korban dan Misi
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT) kehilangan kontak pada hari Sabtu (17/1/2026) saat sedang dalam penerbangan menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar.
Rute Yogyakarta–Makassar dilalui dalam rangka tugas pengawasan sumber daya laut dan perikanan oleh Kementerian KP.
Di dalam pesawat terdapat 10 orang, yang terdiri dari tujuh anggota kru IAT dan tiga personel dari tim pengawasan udara KKP.
Tujuh anggota kru: Kapten Andy Dahananto (pilot), Muhammad Farhan Gunawan, Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilia.
Tiga anggota KKP: Analis Kapal Pengawas Ferry Irawan, Pengelola Barang Milik Negara Deden Mulyana, serta Operator Foto Udara Yoga Naufal.
Kepala Eksekutif IAT, Tri Adi Wibowo, menekankan agar jumlah awak dan penumpang menyampaikan informasi yang jelas dan tidak memperkeruhkan kebingungan sebelumnya.
Harapan Keluarga
Pengucapan perpisahan yang sederhana dari Deden kini menjadi kenangan yang mengharukan bagi tetangga dan keluarga, sambil menantikan kepastian dari tim pencarian dan pertolongan.
Permohonan dan harapan senantiasa menyertai proses pencarian, hingga nasibnya benar-benar diketahui.