
JATENG.COM, WONOSOBO- Kondisi pagi di jalan baru yang menghubungkan Desa Jengkol dengan Desa Tlogo, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo terasa sangat damai.
Mobil empat roda berjalan perlahan di atas jalan beton yang memotong area pertanian warga.
Di sebelah kiri dan kanan, lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat terbentang mengikuti bentuk permukaan tanah.
Dari atas jembatan yang memiliki pagar tinggi, Sungai Serayu mengalir di bawahnya, menjadi batas alami yang selama ini sulit dicapai oleh kendaraan.
Jalan ini terletak di ketinggian, meskipun berbelok-belok, jalurnya tidak terlalu berbahaya. Kemiringan dan kelandaiannya terasa normal, khas daerah pegunungan, tanpa belokan tajam yang menyulitkan.
Dari beberapa lokasi, dataran hijau dan permukiman penduduk terlihat jelas, memberikan pemandangan yang luas yang sebelumnya hanya bisa dinikmati oleh pejalan kaki atau pengendara sepeda motor.
Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Inilah Jalan Jengkol-Tlogo, akses baru yang kini menjadi jalur alternatif utama di kawasan wisata Wonosobo. 2. Jalan Jengkol-Tlogo merupakan akses terbaru yang kini menjadi rute alternatif penting di wilayah pariwisata Wonosobo. 3. Jalan Jengkol-Tlogo kini menjadi jalur alternatif yang sangat berarti bagi kawasan wisata Wonosobo. 4. Akses baru bernama Jalan Jengkol-Tlogo kini menjadi jalan alternatif yang penting di kawasan wisata Wonosobo. 5. Jalan Jengkol-Tlogo, sebuah akses baru yang kini menjadi jalur alternatif strategis di kawasan wisata Wonosobo.
Dulunya Jalan Tanah, Kini Jalan Aspal Lebar
Jalur yang dahulu hanya berupa jalan sempit, sebagian masih berupa lahan pertanian, kini telah berubah menjadi infrastruktur beton yang dapat dilalui kendaraan empat roda.
Bagi penduduk Desa Tlogo, perubahan ini terasa jelas.
Selama bertahun-tahun, pergerakan penduduk bergantung pada jalan sempit yang hanya dapat dilalui oleh sepeda motor.
Kendaraan empat roda hampir tidak memiliki ruang, terutama ketika mengangkut hasil panen atau kebutuhan pertanian.
Basirun Sugiarto, salah seorang warga, mengatakan perubahan paling mendasar terkait dengan akses.
“Yang dulu lahan tidak bisa dimasuki kendaraan empat roda sekarang bisa,” katanya, Senin (26/1/2026).
Namun, bagi penduduk, jalan ini tidak sepenuhnya tanpa masalah. Basirun menyampaikan masih terdapat kekurangan yang dirasakan, khususnya mengenai sistem pengurasan air.
Beberapa saluran air masih bersifat sementara dan mengalir ke lahan penduduk, bahkan berpotensi menimbulkan kerugian pada musim hujan. Meski begitu, rasa terima kasih tetap menjadi sikap utama masyarakat.
"Kami sebagai warga Tlogo masih merasa bersyukur kepada pemerintah daerah Wonosobo yang telah membangun jalan ini," katanya.
Sebagai warga yang sering melewati jalan tersebut, Basirun juga memperhatikan peran jalan ini dalam ranah pariwisata.
Ia mengatakan, kawasan ini merupakan daerah yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
Sebelumnya, kemacetan kerap terjadi karena jalan utama sempit dan terbatas.
“Kalau hari-hari libur kita sering kena macet dari desa,” sebutnya.
Dengan hadirnya jalan baru, arus kendaraan mulai terurai dan mobilitas menjadi lebih lancar.
Atasi Kemacetan Wisata, Sebagai Jalur Pertanian Juga
Kepala Dusun Tlogo, Ahmad Mahmudin, mengatakan jalan ini awalnya dirancang sebagai jalur pengganti untuk mengurangi kemacetan menuju area pariwisata.
Namun, manfaat terbesar justru dirasakan oleh penduduk dalam kegiatan pertanian sehari-hari.
Sebelumnya, penyebaran pupuk dan hasil panen hanya dilakukan dengan menggunakan sepeda motor. Kini, kendaraan beroda empat dapat langsung mencapai lahan pertanian.
Ini mempermudah petani untuk membawa pupuk dalam jumlah besar sekaligus mengangkut hasil panen sayuran tanpa perlu kembali berulang kali.
"Yang dulu hanya jalan kecil yang dilewati motor kini bisa dilalui mobil empat roda," katanya.
Menurut Mahmud, jalan ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur kunjungan wisata, tetapi juga menjadi jalur penghasil pertanian yang penting.
"Selain jalur pariwisata, juga digunakan sebagai jalur pertanian," tambahnya.
Namun, Mahmud menegaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah dalam pembangunan, tetapi dalam pemeliharaan.
Ia menilai, infrastruktur yang baik dapat segera rusak jika saluran air dan lingkungan sekitarnya tidak dipelihara.
Selain itu, kebutuhan penerangan jalan juga mendapat perhatian. Jalan yang panjang dan lebar ini dianggap memerlukan penerangan agar pengguna merasa aman, khususnya saat malam hari.
Harapan Peningkatan Ekonomi Warga
Pemerintah Desa Jengkol menyebut jalan ini sebagai jawaban dari harapan lama masyarakat. Kepala Desa Jengkol, Asrof, mengungkapkan bahwa jalan penghubung Jengkol-Tlogo telah lama diinginkan sebagai jalur utama antar wilayah.
"Itu adalah jalan utama yang menghubungkan Desa Jengkol dan Tlogo," katanya.
Sebelum jalan ini dibuat, akses yang sulit menghambat pergerakan penduduk, baik dalam kegiatan ekonomi maupun sosial.
Sekarang, keadaan berbeda. Jalan yang lebih lebar dan aman mempermudah warga dalam membawa hasil panen sayuran serta kebutuhan usaha pertanian.
“Sekarang Insyaallah sudah mudah, gampang, aman, dan bisa dimanfaatkan warga," ucapnya.
Asrof memandang jalan ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi desa.
Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkannya secara lebih luas, termasuk dalam pengembangan area istirahat atau potensi wisata baru yang diinisiasi oleh warga sendiri.
"Semoga masyarakat memiliki inisiatif kreatif dalam memanfaatkan jalan tersebut untuk meningkatkan perekonomian warga," harapnya.
Tekankan Perencanaan Mitigasi Bencana dan Pemeliharaan Infrastruktur
Jalan Jengkol-Tlogo memiliki panjang sekitar 1,2 kilometer dan dilengkapi dengan sebuah jembatan yang berukuran 12 meter. Keseluruhan dana yang digunakan untuk pembangunan jalan ini mencapai sekitar Rp8 miliar.
Pembangunan Jalan Jengkol-Tlogo tidak hanya bertujuan sebagai proyek pembukaan jalur akses baru, tetapi juga merupakan bagian dari upaya pengelolaan pergerakan lalu lintas di kawasan wisata Wonosobo.
Pada waktu yang berbeda, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menyampaikan bahwa jalan tersebut sebenarnya sudah siap dioperasikan dan hanya menunggu pengesahan resmi dari Bupati Wonosobo.
"Jalan Jengkol-Tlogo akan segera dibuka dan Bapak Bupati berharap nanti akan ada acara sebagai puncak peresmiannya, yaitu acara slow runner atau fun run," kata Adin, Rabu (21/1/2026).
Pembukaan ini bertujuan untuk memperkenalkan akses baru yang menghubungkan ke kawasan wisata Telaga Menjer, kini dapat dicapai dengan jarak yang lebih dekat.
Selain fungsi akses, Adin juga menyoroti tantangan besar yang melekat di hampir seluruh wilayah Wonosobo, yaitu risiko bencana, khususnya tanah longsor.
Ia menekankan bahwa masalah keamanan tidak hanya terjadi di satu titik atau satu bagian jalan.
"Sebenarnya di sebagian besar Kabupaten Wonosobo, peta risiko bencana, hampir 75 persen berada dalam kategori rentan longsor sedang," katanya.
Menurutnya, titik-titik bahaya longsor terdapat di berbagai daerah, khususnya pada tebing-tebing yang memiliki kemiringan curam. Jalan Jengkol-Tlogo bukan satu-satunya jalur yang menghadapi risiko tersebut.
"Titik bahaya tidak hanya terdapat di Jengkol-Tlogo, misalnya di Watumalang, titik-titik bahaya longsor memang ada di kawasan kami," tambahnya.
Secara teknis, pemerintah daerah berusaha mencegah dengan merencanakan konstruksi dan memperkuat struktur.
Namun, ia menekankan bahwa bahaya bencana tidak dapat sepenuhnya dihilangkan hanya melalui tindakan pemerintah.
Oleh karena itu, ia menegaskan peran masyarakat, khususnya dalam menjaga saluran air agar tetap berjalan lancar, terutama saat memasuki musim hujan pertama setelah proses pembangunan.
“Kami serahkan saluran-saluran, karena saluran yang tersumbat menyebabkan terjadinya tanah longsor,” katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan kerja bakti secara rutin, membersihkan saluran yang tersumbat, serta segera melaporkan jika terdapat kondisi yang memerlukan penanganan yang lebih mendesak.
"Jika tidak dapat dilakukan secara bersama-sama, diperlukan banyak tenaga, dan tenaga serta peralatan kami siap," tegasnya.
Dengan pendekatan ini, Adin berharap infrastruktur yang telah dibangun, termasuk di Jalan Jengkol-Tlogo, tidak hanya bermanfaat secara singkat, tetapi juga mampu bertahan dan memberikan manfaat jangka panjang kepada masyarakat. (ima)