Jatuhnya Saham: Tanda Kekacauan Pasar -->

Jatuhnya Saham: Tanda Kekacauan Pasar

30 Jan 2026, Jumat, Januari 30, 2026

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

Bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA -- Angka tersebut jatuh seperti piring keramik yang terjatuh dari meja rapat: keras, menggelegar, dan membuat semua orang tiba-tiba memperhatikan. Kemarin (29/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG turun tujuh koma beberapa persen.

Kemerahan bukan lagi berasal dari cabai rawit, melainkan cabai setan — yang membuat mata perih hanya dengan dilihat dari layar ponsel. Di media sosial perkotaan, jari-jari bergerak cepat.

Pengguna WhatsApp investor kacau seperti ayam yang kehilangan induk. Sementara di desa, ayam masih berkotek seperti biasa. Petani tetap pergi ke ladang. Harga singkong tidak turun. IHSG turun, namun pohon mangga tidak tahu apa-apa.

Di sinilah ironi ekonomi Indonesia bekerja secara sangat mendalam. Di satu sisi, pasar modal dianggap sebagai jantung dari perekonomian modern. Di sisi lain, sebagian besar rakyat bahkan tidak tahu lokasi jantung tersebut, apalagi merasakan detakannya.

Presiden Prabowo pernah mengatakan dengan tulus — dan mungkin terlalu tulus — kira-kira seperti ini: saham adalah urusan para elit. Kalimat yang terdengar sederhana, namun menyimpan filsafat politik yang mendalam: bahwa negara ini berjalan dengan dua dunia yang hampir tidak saling berhubungan. Dunia grafik dan dunia cangkul. Dunia chart lilin dan dunia lampu sentir.

Maka ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pasar akan pulih secara alami, pernyataan tersebut terdengar menenangkan — seolah dokter berkata, "Tenang saja, nanti juga akan sembuh."

Kendala yang dihadapi pasien ini bukan hanya sekadar pilek. Bukan juga flu musiman. Ini adalah penyakit kronis yang kambuh akibat pola hidup.

Saya setuju: Pak Purbaya adalah seorang teknokrat murni. Otaknya penuh dengan data tabel. Ia menguasai makroekonomi sebagaimana menghafal jalannya pulang. Namun, pasar modal bukan hanya sekadar makro. Ia juga melibatkan psikologi, etika, dan — yang paling sensitif — hukum.

Dan di Indonesia, bila sudah disebutkan hukum, suasana langsung berubah seperti lampu tiba-tiba padam. Pasar mungkin bisa memaafkan kerugian. Namun pasar tidak pernah memaafkan kecurangan.

Masalahnya bukan hanya soal kehadiran atau penghapusan. Masalahnya adalah bisikan-bisikan yang terlalu sering menjadi kenyataan: saham dimainkan, free float diubah seperti sulap pernikahan, kapitalisasi dihias seperti wajah pengantin namun tak pernah tersentuh air wudhu transparansi.

Di negara-negara maju, tindakan semacam ini dianggap sebagai pelanggaran serius dalam ekonomi. Di Amerika Serikat, satu kali penipuan pasar bisa membuat pelakunya mendekam di penjara lebih lama daripada masa cicilan rumah. Di Jepang, rasa malu sosialnya bisa lebih menakutkan daripada hukuman dari pengadilan.

Di Indonesia? Ah, negara ini sangat kreatif dalam membedakan antara benar dan "salah tapi siapa yang lebih dulu."

Investor global membaca informasi dengan sangat cermat. Mereka tidak mengikuti pidato. Mereka memperhatikan pola. Dan ketika pola yang muncul adalah ketidakpastian hukum, modal bersikap sangat tenang: ia pergi tanpa keributan. Tidak ada demonstrasi. Tidak ada konferensi pers. Cukup satu klik saja: jual.

Kemudian muncul nama yang membuat banyak pejabat merasa tidak nyaman, seperti mendengar hasil laboratorium: MSCI (Morgan Stanley Capital International). Lembaga ini tidak pernah bersuara keras. Bahasanya dingin, teknis, hampir tanpa emosi. Namun justru karena hal itulah ia dianggap menakutkan.

MSCI adalah wasit yang diam. Ia tidak ikut berlaga, namun keputusannya mampu membuat stadion menjadi sepi. MSCI lahir dari kecemasan dunia: bagaimana memahami dunia yang terlalu penuh dengan standar.

Ia menawarkan sesuatu yang sangat diminati para investor: kejelasan. Dunia mungkin penuh dengan keributan, tetapi angka harus bersifat jujur. Ketika MSCI mengungkapkan ketidakpuasan terhadap free float dan transparansi, hal itu bukan sekadar komentar ilmiah. Itu adalah peringatan bahaya.

Dan pasar langsung memahami. Tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di sinilah ekonomi modern bekerja seperti filsafat eksistensial.

Douglass North telah lama menyampaikan bahwa institusi bukan hanya sekadar aturan yang tertulis, melainkan rasa aman yang tidak tercantum dalam bentuk tulisan. Ketika rasa aman tersebut rusak, biaya ekonomi meningkat bukan karena penurunan produksi, melainkan karena hilangnya kepercayaan.

Robert Shiller menambahkannya dengan sebuah kalimat yang sederhana namun menyakitkan: krisis sering dimulai dari sebuah cerita. Cerita mengenai keraguan. Cerita tentang "mungkin saja." Dan "mungkin saja" adalah virus paling berbahaya di pasar.

Lalu muncul pertanyaan yang paling klasik, selalu diajukan dengan nada setengah sinis: apa dampaknya terhadap rakyat biasa? Bukankah penduduk desa tidak memiliki kepentingan?

Betul. Namun ekonomi tidak berjalan seperti pagar rumah. Ia berjalan seperti asap. Tidak terlihat, tetapi menyebar.

   

Saat pasar modal mengalami ketidakstabilan, nilai tukar juga menjadi tidak tenang. Ketika nilai tukar tidak stabil, impor meningkat. Saat impor naik, harga pupuk, bahan bakar minyak, obat-obatan, dan bahan makanan ikut melonjak. Mereka yang tidak memiliki saham tetap merasakan dampaknya — dengan cara yang lebih diam dan lebih menyakitkan: harga naik, sementara pendapatan tetap.

Maka penurunan IHSG bukanlah musibah hanya bagi orang kaya. Ini adalah tanda. Seperti demam pada tubuh. Demam bukanlah penyakit, melainkan tanda bahwa sesuatu tidak berjalan dengan baik di dalamnya.

Dan di balik semuanya, isu tersebut tetap kembali pada satu titik yang selalu kita hindari, seperti topik mantan kekasih: penegakan hukum.

Tanpa aturan yang jelas dan adil, pasar hanya akan pulih sementara, lalu kembali mengalami kemunduran. Seperti dinding yang dicat ulang namun dasarnya retak. Menarik dalam foto, tetapi rentan terhadap gempa pertama.

Pasaran tidak menginginkan kesempurnaan. Dunia tidak meminta Indonesia menjadi seperti Swiss. Yang diminta hanya satu hal: dapat dibaca, dapat dipercaya, dan aturan tidak berubah di tengah jalan.

Ironisnya, krisis sering kali menyimpan hadiah yang tak terduga. Ia memaksa kita untuk melihat diri sendiri. Angka yang menurun bukan hanya kehilangan, tetapi juga pesan. Bahwa kepercayaan merupakan fondasi paling mahal—dan paling rentan rusak.

Mungkin benar, penduduk desa tidak memperhatikan saham. Namun negara tidak boleh bersikap sama. Karena ketika para elit menganggap pasar hanya urusan mereka sendiri, yang muncul bukanlah ketenangan, melainkan jarak. Dan jarak, dalam ekonomi maupun politik, selalu memiliki biaya yang tinggi.

Hari ini angka mengalami penurunan. Namun justru di sinilah kesempatan untuk berpikir secara mandiri. Bahwa krisis grafik dapat menjadi pelajaran dalam pengambilan kebijakan. Bahwa kehilangan kepercayaan bisa menjadi pintu untuk perbaikan. Dan bahwa pasar, seperti rakyat, sebenarnya tidak menginginkan banyak — selama diperlakukan secara jujur.

 

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 30/1/2026

TerPopuler