Ringkasan Berita:
- Kelenteng Tien Kok Sie terkenal sebagai tempat ibadah tertua di Surakarta, yang telah berdiri selama ratusan tahun.
- Bangunan ini didirikan oleh para pengusaha Tionghoa yang pernah singgah dan tinggal di Solo.
- Pada masa kerusuhan 1998, Kelenteng Tien Kok Sie tetap berdiri, selamat dari api dan amuk massa.
STYLE.COM -Di wilayah Pasar Gede, terdapat sebuah bangunan yang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi tanda sejarah panjang Kota Solo.
Kelenteng Tien Kok Sie terkenal sebagai bangunan kuil tertua di Surakarta, yang telah bertahan selama ratusan tahun di tengah perubahan sosial, politik, dan budaya.
Bangunan Kelenteng yang terletak di area penting pusat kota tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi umat Tri Dharma, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjalanan komunitas Tionghoa di Solo sejak masa kolonial.
Lokasi Kelenteng Tien Kok Sie terletak di sisi selatan Pasar Gede Hardjonagoro.
Hanya berjarak sekitar 40 meter dari Pasar Gede Solo dan hanya memerlukan satu menit untuk sampai dengan berjalan kaki.
Muncul bersama lahirnya Kota Solo
Asal usul Kelenteng Tien Kok Sie tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Kota Solo yang modern.
Bangunan ini didirikan oleh para pengusaha Tionghoa yang singgah dan tinggal di Solo, seiring dengan perpindahan Keraton Kasunanan Surakarta dari Kartasura ke Desa Sala pada tahun 1745.
Kelenteng Tien Kok Sie terletak di Jalan RE Martadinata Nomor 12, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, dekat Pasar Gede Hardjonagoro.
Sejak awal berdirinya, wilayah ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, serta pertukaran sosial masyarakat perkotaan.
Lahan di mana kelenteng berdiri diketahui merupakan hadiah dari Keraton Kasunanan Surakarta.
Bukti dokumen berupa surat perjanjian pernah ada, tetapi hilang akibat banjir besar yang terjadi di wilayah tersebut pada 15 Maret 1966.
Pusat kegiatan spiritual dan sosial masyarakat Tionghoa
Kelenteng Tien Kok Sie diperkirakan dibangun pada pertengahan abad ke-18.
Nama “Tien Kok Sie” berarti “Istana Dewa Langit”, mencerminkan fungsinya sebagai tempat pemujaan kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa) dalam tradisi Tionghoa.
Di masa penjajahan Belanda, wilayah Pasar Gede tumbuh menjadi pusat perdagangan bagi masyarakat Tionghoa.
Dalam konteks tersebut, Kelenteng Tien Kok Sie tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan, tetapi juga menjadi tempat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Meskipun telah mengalami beberapa kali perbaikan, klenteng ini tetap mempertahankan gaya arsitektur khas Tionghoa, dominasi warna merah, hiasan naga, ukiran kayu, serta altar-altar dewa yang penuh makna simbolis.
Simbol percampuran budaya Tionghoa dan Jawa
Ciri khas Kelenteng Tien Kok Sie terdapat pada penggabungan budaya Tionghoa dan Jawa.
Hal ini terlihat dalam tata letak bangunan, hiasan, serta kebiasaan upacara yang melibatkan masyarakat dari berbagai budaya.
Di perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, dan upacara sembahyang bersama, kuil ini selalu ramai dikunjungi, bukan hanya oleh penganut Tri Dharma, tetapi juga masyarakat luas dan para wisatawan.
Keberadaan Kelenteng Tien Kok Sie menunjukkan bahwa Solo telah lama berkembang sebagai kota yang plural, tempat berbagai budaya hidup bersama.
Selamat dari kerusuhan 1998
Mei 1998 menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah Solo.
Kerusuhan sosial menyasar kawasan yang identik dengan komunitas Tionghoa.
Toko-toko dijarah, bangunan dibakar, dan ketakutan menyelimuti kota.
Di tengah kekacauan itu, Kelenteng Tien Kok Sie tetap berdiri tegak.
Bangunan yang telah berusia ratusan tahun ini berhasil terhindar dari kobaran api dan kerusuhan massa.
Bagi masyarakat Tionghoa di Solo, tempat ibadah ini bukan hanya struktur fisik yang bertahan, tetapi juga lambang ketahanan identitas di tengah ancaman.
Kelenteng Tien Kok Sie menjadi saksi bisu bahwa perpecahan sosial mampu merusak berbagai hal, tetapi tidak selalu bisa menghancurkan akar budaya dan kepercayaan spiritual.
Tetap bertahan di tengah tantangan masa kini
Kelenteng Tien Kok Sie telah mengalami berbagai tahap sejarah, mulai dari masa kolonialisme Belanda, masa kemerdekaan, hingga era Orde Baru.
Pada tahun 1970-an, kegiatan agama dan budaya Tionghoa pernah mengalami pembatasan.
Umat Buddha bahkan memilih beribadah di rumah untuk menghindari perselisihan.
Pada masa kerusuhan tahun 1998, bangunan ini hampir menjadi sasaran para massa.
Namun, berkat hubungan yang baik dengan warga sekitar, seperti tukang becak dan pekerja angkut, kelenteng berhasil diselamatkan.
Pernyataan negara dan status situs warisan budaya
Proses panjang dalam pengurusan dokumen hukum tanah akhirnya membuahkan hasil pada bulan Oktober 2020.
Setelah lebih dari dua setengah abad berdiri, Kelenteng Tien Kok Sie secara resmi menerima sertifikat tanah yang diberikan oleh Pemerintah Kota Surakarta.
Kelenteng ini telah diakui sebagai bangunan cagar budaya sejak 3 Mei 2013 dengan nomor registrasi CB.1269.
(Style.com/Ika Bramasti).
Baca artikel terbaru Style.com lainnya di Google News
Ikuti dan daftar di saluran Threads Style.com