Jumlah korban, pengungsi, dan penyebab longsor Cisarua -->

Jumlah korban, pengungsi, dan penyebab longsor Cisarua

26 Jan 2026, Senin, Januari 26, 2026

TANAH longsormenghancurkan Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu, KecamatanCisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada dini hari Sabtu, 24 Januari 2026. Bencana ini terjadi setelah curah hujan tinggi mengguyur kawasan Bandung Barat sejak Jumat, 23 Januari 2026.

Kondisi tersebut memicu longsoran besar pada pagi hari sekitar pukul 03.00 WIB, diikuti aliran banjir dari daerah perbukitan. Material longsor dan lumpur menghancurkan permukiman penduduk, merusak infrastruktur, serta memutus beberapa jalur jalan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan Status Tanggap Darurat sejak 23 Januari 2026 selama 14 hari. Berikut perkembangan penanganan bencana hingga hari kedua pada Minggu, 25 Januari 2026:

25 Korban Tewas Dievakuasi

Kepala Divisi Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Hendra Rochmawan menyampaikan bahwa telah ditemukan 25 jenazah korban tanah longsor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 jenazah berhasil diidentifikasi. Sisanya masih dalam proses pemeriksaan post mortem di pos.Disaster Victim Identification atau DVI Polda Jabar.

Dengan demikian, berdasarkan data keseluruhan sebanyak 113 jiwa yang terkena dampak longsor tersebut, 23 orang ditemukan selamat, sehingga kini masih tersisa 65 orang lainnya yang belum ditemukan sejak kejadian insiden terjadi.

680 Warga Mengungsi

Berdasarkan laporan tertulis dari BPBD Provinsi Jawa Barat, bencana yang terjadi di Cisarua telah menimbun sekitar 30 rumah yang terletak di dua rukun tetangga, yaitu RT 05, RW 11, Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.

Pada Minggu, 25 Januari 2026, posko pengungsian yang berada di Kantor Desa Pasirlangu dihuni oleh 680 orang. Jumlah pengungsi ini muncul akibat meningkatnya kekhawatiran warga. Selain penduduk yang rumahnya tertimbun atau rusak di RW 10 dan RW 11, warga dari RW 12 yang berada dekat lokasi kejadian juga mengungsi karena takut terjadi longsoran tambahan.

Diduga Longsor Akibat Urbanisasi

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menganggap pergeseran tanah ini disebabkan oleh perubahan penggunaan kawasan hutan menjadi lahan pertanian intensif. Perubahan penggunaan lahan ini dipengaruhi oleh proses urbanisasi.

Menurutnya, urbanisasi yang besar di kota-kota menyebabkan perubahan pola makan yang tidak biasa bagi masyarakat Indonesia, seperti kentang, kol, dan paprika. Sayuran-sayuran ini, menurut Hanif, merupakan jenis tanaman subtropis yang tumbuh pada ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut.

Oleh karena itu, permintaan akan sayuran-sayuran tersebut mendorong para petani beralih dari daerah perkebunan biasa ke wilayah dataran tinggi. "Sebenarnya karakter kami tidak seperti itu. Pada tahun 2025 lalu tidak sehebat ini, sehingga hal ini menyebabkan pertanian berpindah ke pegunungan dan membuka lahan pertanian seperti ini," ujar Hanif sebagaimana dilaporkan.Antarapada hari Minggu, 25 Januari 2026.

Rentan Gerakan Tanah Menengah

Sementara itu, Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebutkan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, termasuk dalam wilayah yang rentan terhadap pergerakan tanah sedang. Pergerakan tanah bisa terjadi khususnya pada kemiringan yang telah mengalami gangguan alami maupun akibat kegiatan manusia, terutama ketika curah hujan tinggi dan berlangsung dalam waktu lama.

"Karakteristik batuan gunung berapi yang sudah lapuk dan adanya struktur geologi meningkatkan kerentanan daerah ini terhadap tanah longsor," ujar Lana Saria dalam keterangan tertulis, Sabtu 24 Januari 2026.

Ia menjelaskan, kawasan Desa Pasirlangu merupakan daerah berbukit dengan tingkat kepadatan permukiman dan aktivitas penggunaan lahan yang cukup tinggi. Penggunaan lahan di sekitar lokasi kejadian, berdasarkan laporan Badan Geologi, didominasi oleh pemukiman penduduk, pertanian lahan kering, perkebunan campuran, serta beberapa area terbuka.

Kegiatan pembersihan lereng untuk pembangunan permukiman dan jalan, serta sistem drainase permukaan yang tidak memadai, turut berkontribusi pada ketidakstabilan lereng dan meningkatkan risiko terjadinya gerakan tanah. Peristiwa ini, menurut Lana, "menunjukkan hubungan erat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik yang sudah lapuk, struktur geologi, serta pengaruh hujan deras terhadap terjadinya tanah longsor yang luas."

Aminuddin membantu dalam penyusunan artikel ini

TerPopuler