
Bengkalispos.com- Kondisi dan pergerakan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) selama masa puncak haji direkam dalam simulasi di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Rabu (28/1).
Dalam simulasi tersebut, calon petugas haji dari PPIH Arab Saudi menghadapi berbagai kemungkinan kendala yang bisa muncul saat memberikan pelayanan kepada jamaah haji di Armuzna.
Berlangsung selama 6 hingga 7 hari, Armuzna merupakan tahap paling krusial dalam rangkaian ibadah haji. Selama hampir seminggu, sekitar 1,6 juta jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkerumun di Armuzna.
Di Arafah, petugas menghadapi berbagai kondisi. Salah satunya adalah kejadian jamaah yang masuk ke tenda yang tidak seharusnya, yang ditujukan untuk rombongan lain.
Kemudian, terjadi kondisi di mana sejumlah jamaah berebut makanan di dalam tenda. Terdapat pula kejadian jamaah yang sakit dan meninggal dunia di Arafah akibat kelelahan.
Petugas haji diberi kewenangan untuk mengatasi dan menyelesaikan setiap permasalahan secara langsung di tempat. Sehingga kondisi tidak semakin memburuk dan jamaah dapat lebih fokus dalam menjalankan ibadah.
Setelah wukuf, jamaah diajak bergerak ke Muzdalifah untuk bermalam. Di Muzdalifah, yang luasnya lebih sempit dibanding Arafah, beberapa kemungkinan kendala juga diuji coba. Salah satunya adalah jamaah haji yang saling berebut karpet untuk duduk.
Juga terjadi kondisi di mana bus yang mengangkut jamaah haji mengalami kemacetan akibat kerumunan orang yang memadati area Muzdalifah. Beberapa jamaah pasti merasa tidak nyaman dengan situasi ini, sehingga petugas harus turun tangan untuk menenangkan mereka.
Kepala Satgas Muzdalifah Ihsan Faisal mengungkapkan, petugas yang memberikan pelayanan kepada jamaah haji di Muzdalifah merupakan mereka yang ditugaskan di Wilayah Kerja (Daker) Makkah.
Setelah wukuf, mereka meninggalkan Arafah lebih awal guna mempersiapkan kedatangan jamaah haji di Muzdalifah. "Petugas berpindah atau bergerak dari Arafah pada pukul 13.00," jelasnya setelah simulasi.
Sementara itu, jamaah haji akan mulai diberangkatkan secara bertahap ke Muzdalifah sekitar pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS) atau setelah shalat Maghrib yang dilakukan bersamaan dengan Isya.
Jamaah haji tidak menginap lama di Muzdalifah. Pukul 23.30 WAS, mereka mulai berpindah ke Mina.
"Di Muzdalifah, yang paling utama adalah bagaimana kita mengatur jemaah agar tetap tertib. Itu yang paling penting," ujar Ihsan yang juga menjabat sebagai Kadaker Makkah itu.
Jamaah yang tiba lebih dulu harus diarahkan masuk, bahkan ke ujung area Muzdalifah yang dekat dengan Mina.
Tujuannya adalah agar jamaah yang tiba terakhir juga dapat memperoleh tempat. Sebelumnya, sering kali rombongan awal langsung duduk di dekat pintu masuk Muzdalifah sehingga menghambat pergerakan jamaah lainnya.
"Maka ketika mereka tiba terlebih dahulu, yaitu first come, first out. Jadi mereka yang datang lebih dulu akan keluar terlebih dahulu untuk dikirim ke Mina," jelas Ihsan.
Setelah jamaah dipindahkan ke Mina, bukan berarti tugas telah selesai. Salah satu tahap paling sulit dalam ibadah haji adalah menginap di Mina.
Itu disebabkan oleh para jamaah haji yang akan melempar jumrah selama 2-3 hari.
Oleh karena itu, seringkali tahap ini menyebabkan jamaah haji merasa lelah, bahkan ada yang meninggal.