
MINNEAPOLIS, Bengkalispos.com- Seorang supervisor FBI di kantor cabang Minneapolis mengundurkan diri setelah usahanya untuk menyelidiki agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang menembak Renee Nicole Good tidak mendapatkan dukungan dari pimpinan FBI pusat di Washington DC.
Supervisor bernama Tracee Mergen mengundurkan diri setelah menghadapi tekanan untuk menghentikan penyelidikan terhadap petugas ICE Jonathan Ross.
Ross membunuh Good pada 7 Januari lalu, sebagaimana dilaporkanThe Guardian, Minggu (25/1/2026).
Dalam rekaman video yang beredar, Good tampak berusaha mengemudikan mobilnya untuk menjauh dari pertikaian sebelum akhirnya ditembak dan meninggal dunia oleh Ross.
FBI enggan memberikan pernyataan terkait pengunduran diri Mergen karena tidak ingin membahas isu terkait pegawai.
Berita pengunduran diri Mergen muncul tidak lama sebelum agen federal kembali menembak mati seorang warga sipil di Minneapolis pada Sabtu (24/1/2026), Alex Pretti, seorang perawat ICU berusia 37 tahun yang juga merupakan warga negara Amerika Serikat.
Baik Pretti maupun Good berusia 37 tahun dan meninggal dalam kejadian terpisah yang melibatkan petugas federal di kota yang sama.
Pembunuhan Pretti memicu gelombang protes yang semakin meningkat, membuat Minneapolis berada dalam situasi yang rumit antara para demonstran yang menuntut pertanggungjawaban agen federal, aparat penegak hukum dari tingkat negara bagian dan lokal, serta pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, Kementerian Kehakiman Amerika Serikat pada masa pemerintahan Trump mengatakan tidak menemukan dasar hukum untuk melakukan penyelidikan dugaan pelanggaran hak asasi terhadap kematian Good.
"Pada saat ini belum ada dasar untuk melakukan penyelidikan pidana terkait pelanggaran hak asasi," ujar Wakil Jaksa Agung Todd Blanche dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 13 Januari.
Pemerintah Trump menyatakan bahwa Ross bertindak untuk membela diri setelah Good dianggap menghalangi penegakan hukum federal dengan menggunakan kendaraannya dan mengancam keselamatan agen.
Sikap pemerintah federal mendapat kritik karena lembaga federal juga menolak bekerja sama dengan aparat setempat.
Hal itu memicu tuduhan dari beberapa pejabat Partai Demokrat bahwa pemerintah pusat terlibat dalam upaya mengabaikan kasus ini.
Selain itu, enam jaksa federal dilaporkan mengundurkan diri setelah diminta untuk menyelidiki Good, yang berada di lokasi saat kejadian penembakan terjadi.
Laporan lain yang muncul pada hari Sabtu menyebutkan bahwa Mergen pernah memberikan kesaksian yang merugikan Tom Barrack, seorang teman dekat dan pendana Trump yang pernah menjabat sebagai ketua komite pelantikan presiden dalam masa jabatan pertamanya.
Pengakuan Mergen diungkapkan dalam persidangan tahun 2022 mengenai dugaan keterkaitan Barrack dengan pejabat Negara Emirat Arab.
Di persidangan tersebut, tim pengacara Barrack menuduh Mergen memberikan kesaksian palsu kepada dewan juri ketika menyatakan bahwa Barrack mengatakan tidak merasa diminta melakukan sesuatu atas nama negara Teluk.