Ketika Mantan Musuh Jadi Sahabat -->

Ketika Mantan Musuh Jadi Sahabat

18 Jan 2026, Minggu, Januari 18, 2026

Poernomo menjabat sebagai kepala Jawatan PMR Karesidenan Priangan, sedangkan Jan Willems adalah seorang sersan Belanda pada Agresi Militer Belanda II. Keduanya pernah bertemu secara langsung selama masa revolusi, kemudian secara tidak sengaja berjumpa kembali di Amerika Serikat sebagai guru dan murid, lalu menjadi sahabat.

Artikel ini dimuat di Bengkalispos.com edisi Agustus 1994 dengan judul "Bertemu Bekas Seteru di New York" | Penulis: Poernomo

---

Bengkalispos.com hadir di channel WhatsApp, ikuti dan peroleh berita terkini kami di sini.

---

Bengkalispos.comOnline.com -Ini cerita pertemuan yang istimewa antara dua orang dari dua negara yang pernah berselisih dan bertikai selama 3,5 abad.

Dulunya, Poernomo harus menghadapi Jan Willems, seorang serdadu Belanda dari Divisi 7 Desember, guna membebaskan salah satu bawahan yang ditangkap oleh pasukan patroli Willems. Tidak terduga, keduanya menjadi sahabat setelah secara tak terduga bertemu di Amerika Serikat sebagai guru dan murid pada awal tahun 1960-an.

Ini adalah Tuan Jan Willems,kepala divisi pembagian internasional. Ia akan menjadi pembimbing Anda selamatraining di sini," kata vice presidentBank of New York pada masa itu memperkenalkan Poer sebagai pejabat sebuah bank di Indonesia yang diberi tugas belajar di Amerika Serikat pada tahun 1963.

Selama Jan menjelaskan tentang berbagai kegiatan Bank of New York, Poer tetap mengamati wajahnya saat mereka bertemu di meja makan di kafe. Entah mengapa, dia merasa seolah-olah pernah mengenal seseorang yang wajahnya mirip dengan mentor tersebut. Jika saja janggut, kumis, dan cambangnya yang mirip orang Iran itu tidak ada ....

"Mengenai nama Anda, tampaknya Anda berasal dari Belanda. Apakah Anda pernah berkunjung ke Indonesia?" tanya Poer dengan rasa penasaran. Ternyata benar, Jan memang berasal dari Belanda dan pernah bertugas di Indonesia. Selama 2 tahun, yaitu dari tahun 1946 hingga 1948, dia bertugas sebagai tentara di Divisi 7 Desember.

Perbincangan mereka semakin memanas, karena kini tidak lagi menggunakan bahasa Inggris tetapi bahasa Belanda. Ketika Poer secara langsung menyebutkan tempat di mana ia bertugas di Indonesia, yaitu di daerah Kawali, Priangan, Jawa Barat, pria kulit putih itu merasa terkejut.

"Bagaimana kamu mengetahuinya?" tanya Jan.

Diumpetkan di besek

Percakapan tersebut kemudian mengingatkan Poer pada peristiwa yang terjadi pada 18 April 1948 – setelah Renville. Pada saat itu, Poer bersama enam bawahan beserta keluarga mereka tiba di Desa Pasir-peuteuy, sekitar 10 km timur laut Ciamis, Jawa Barat, dalam rangka berlindung dari serangan pasukan Belanda.

Desa tersebut merupakan salah satu wilayah penghasil kelapa terbesar di Kabupaten Ciamis. Dari kejauhan terlihat puluhan ribu pohon kelapa yang tumbuh tinggi ke langit. Pohon-pohon yang ramping dengan daun-daun hijau lebat menciptakan pemandangan yang menarik.

Poer bersama rombongannya meninggalkan Bandung sambil membawa uang sebesar Rp40 juta serta kain belacu sepanjang 1.000 meter dan bahan pakaian untuk perempuan sepanjang 1.000 meter. Jumlah uang tersebut harus mereka bawa karena telah diberikan oleh kantor di Cirebon. Semua barang tersebut digunakan untuk membeli beras dari rakyat guna menyuplai kebutuhan tentara kita.

Oleh karena itu, tugas Badan Persediaan Makanan Rakyat (PMR) yang dipimpin oleh Poer adalah menyediakan makanan untuk tentara. Sementara bahan pakaian yang diberikan bertujuan sebagai insentif bagi warga yang menjual berasnya kepada rombongan tersebut.

Uang dalam jumlah besar memang sulit dibawa. Untuk tidak menarik perhatian, uang tersebut dimasukkan Poer ke dalam beberapa tempat berupa anyaman secara sembunyi-sembunyi. Selain takut ketahuan pihak Belanda, mereka juga khawatir dijarah. Hanya Poer selaku kepala bagian dan staf keuangan yang mengetahui rahasia ini.

Di Kebun-Peuteuy suasana tenang dan damai. Jarang terdengar kabar tentang patroli tentara Belanda atau tembakan mortir yang tidak terkendali setelah mereka menerima serangan dari pasukan RI.

Sebagai kepala Jawatan PMR Keresidenan Priangan Poer masih mampu menjalin komunikasi dengan karyawan kantor PMR Kabupaten Garut, Sumedang, Tasikmalaya, dan Ciamis yang kebanyakan juga mengungsi. Komunikasi ini dianggap penting, karena kami bisa saling membantu, baik secara moral maupun material.

Selama masa pengungsian, ia juga harus waspada jika ingin berkeliling desa. Terutama karena Poer tidak menguasai bahasa Sunda dan kulitnya agak putih, sehingga mungkin dicurigai sebagai mata-mata Belanda. Jika sudah dicurigai, dampaknya bisa sangat berbahaya, nyawa menjadi taruhannya. Untungnya hal tersebut tidak pernah terjadi pada dia dan rombongannya.

Namun pada 17 April 1948 terjadi kejadian yang tak bisa ia lupakan. Pada hari itu, Poer merayakan ulang tahunnya. Teman-teman dan keluarganya sedang menikmati makan siang ketika tiba-tiba Sastro datang dengan tampak lelah.

"Pak, ketiwasan (celaka - Red.), Pak Sutadi ketahuan oleh patroli Belanda!”

Sutadi, ketua PMR Kabupaten Tasikmalaya, memang sedang dalam perjalanan menuju Pasir-peuteuy. Sayangnya, dia tertangkap oleh patroli Belanda dan ditahan di Kawali. Sementara Sastro yang menyertainya diminta untuk mengundangnya sebagai ketua PMR se-Karesidenan Priangan agar datang menghadap komandan di pos tersebut. Jika tidak, Sutadi akan ditembak mati.

Menghadap dengan setelan jas

Situasi pesta ulang tahun yang awalnya menyenangkan berubah menjadi penuh kecemasan. Poer memutuskan untuk mengunjungi komandan pos Belanda keesokan harinya. Selain menjadi kepala, dia masih lajang.

Para istri bawahan pada masa itu sangat takut jika suami mereka harus menghadapi komandan Belanda. Mereka khawatir suaminya tidak akan kembali. Baru pada saat itulah Poer menyadari seberapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin.

Alangkah baiknya dalam pengungsian ini Poer masih sempat membawa kemeja Arrow, setelan jastropical wool, dan sepatu Robinson. Barang-barang tersebut langsung diambilnya dari koper. Sepeda Fongers yang sangat membantu dalam membawa hartanya selama masa pengungsian pun dibersihkan hingga mengilap.

Poer ingin tampil terbaik agar memberikan kesan pertama yang menarik. Setidaknya, dia berharap penampilannya yang demikian dapat memudahkan misi pembebasan Sutadi.

Sambil berboncengan bersama Sastro, Poer tiba di pos Kawali sekitar pukul 10.00. Setelah melakukan laporan di pos jaga, ia dibawa menghadap kepada komandannya, seorang sersan dari Divisi 7 Desember.

Ternyata komandan sedang sibuk membaca majalah sambil meletakkan sebotol bir dingin yang tersisa separuh di sampingnya, dengan kakinya berada di atas meja.

"Goede morgen"Sersan," sapanya. Dengan malas-malasan prialondoitu mengalihkan pandangannya dari majalah ke arah Poer yang berada di pintu sambil menggerutu, "Apa lagi yang terjadi!(Apaan sih!) Namun tiba-tiba dia menurunkan kakinya, mungkin terkesan dengan penampilan tamu tersebut. Apalagi Poer langsung mengucapkan kata-kata dalam bahasa Belanda yang lancar.

Sebagai komandan di wilayah terpencil, ia sudah lama tidak berkomunikasi atau bertukar pikiran dengan seseorang yang bisa diajak berbicara dengan nyaman. Oleh karena itu, keduanya justru senang berbincang.

Dalam bahasa Belanda yang lancar, Poer menceritakan bahwa pada tahun 1936 ia pernah mengunjungi negaranya sebagai pandu dalam jambore dunia di Vogelenzang. Ia bahkan sempat berjabat tangan dengan Ratu Wilhelmina saat ada acara pesta di Istana Den Bosch.

Obrolan yang menyenangkan tiba-tiba terhenti, saat Willems bertanya tentang tujuan kedatangan tamunya. "Mohon maaf, Serda Willems, saya datang ke sini sebenarnya untuk menyelesaikan masalah Saudara Sutadi yang ditahan di sini," ujar Poer.

Wajah serdadu itu tiba-tiba berubah menjadi murung, dan sempat mengucapkan, "Selompretttt...!!"

"Jij'tahu, sesuai Perjanjian Renville, kantung-kantung di Jawa Barat harus dikosongkan dari pasukan dan organisasi Republik. Sekarang sudah lebih dari enam bulan perjanjian berlaku, dan jabatanmu masih aktif di wilayah ini. Oleh karena itu Sutadi saya tahan dan kamu saya mintai pertanggungjawabannya," katanya.

Setelah melakukan diskusi, mereka sepakat bahwa dalam waktu seminggu Poer bersama rekan-rekannya akan meninggalkan wilayah Kawali dan berangkat ke Yogyakarta.

"Perhatikan, jika setelah seminggu patroli saya masih menemukan kamu atau bawahanmu di wilayah ini, saya akan menangkap kamu dan pelepasannya tidak akan secepat sekarang ini!" katanya dengan ancaman.

Setelah Sutadi dibebaskan, mereka segera melanjutkan perjalanan pengungsian ke Yogyakarta yang menjadi pusat pemerintahan RI. Karena masih lajang, Poer memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta bersama seorang pemuda desa sambil membawa uang hasil penjualan beras.

Yang lainnya yang telah menikah, kembali ke kampung halaman masing-masing. Selama seminggu mereka berjalan kaki di malam hari dan melewati hutan-hutan karena takut ketahuan Belanda.

Sebelum tiba di Yogyakarta, rombongan Poer melalui Bumiayu, lereng Gunung Slamet, turun ke Banjarnegara, lalu menuju Wonosobo. Di Wonosobo, kami menginap di sebuah hotel yang cukup bagus bernama Hotel Dieng. Dengan membawa beban berupa pakaian dan sandal jepit, mereka berdua masuk ke hotel tersebut dan sempat beristirahat sebelum akhirnya tiba di Yogyakarta.

Tiba-tiba muncul Arjuna

Itu adalah pertemuan Poer dengan Willems pada tahun 1947, dan tanpa diduga mereka kembali bertemu di lokasi dan suasana yang berbeda 16 tahun setelahnya.

"Poer, bagaimana aku bisa melupakan pertemuan beberapa hari lalu di Kawali. Setelah dua bulan aku merasa bosan karena tidak ada kejadian apa pun. Tiba-tiba kamu muncul seperti Arjuna dari langit di posku," kata Jan.

Ia menceritakan, setelah menyelesaikan tugasnya di Divisi 7 Desember, ia kembali ke Belanda dan melanjutkan studinya yang terhenti di Economische Hogeschool, Rotterdam. Setelah memperoleh gelar akuntan, Janminggatke Amerika, serta diterima oleh Bank of New York.

Orang-orang di bank kaget mengapa keduanya yang baru dua hari saling mengenal sudah bisa sangat akrab. Selama masa pelatihan, Jan sering memanggil Poer untuk makan di rumahnya dan pada hari libur membawanya berlibur bersama keluarganya. Secara keseluruhan, kata Poer, pelatihannya berjalan dengan sangat baik.

Karena selain menerima transfer teknologi perbankan, dia juga bisa berdiskusi terbuka mengenai berbagai isu sambil berkenangan.

Setelah kembali ke tanah air, hubungan Poer dan Jan tetap terjalin dengan baik hingga akhirnya Poer memutuskan untuk pensiun. Secara umum, setiap sebulan sekali suratnya sampai di New York, diselingi ucapan selamat ulang tahun untuk anak, istri, atau bahkan untuk Jan sendiri.

Ternyata, para tentara yang sebelumnya menjadi lawan, pada masa kemerdekaan duduk bersama sebagai teman dekat.

TerPopuler