Ketimpangan Investasi: Dana Merusak Lingkungan 30 Kali Lebih Besar dari Solusi Alam -->

Ketimpangan Investasi: Dana Merusak Lingkungan 30 Kali Lebih Besar dari Solusi Alam

26 Jan 2026, Senin, Januari 26, 2026

Bengkalispos.com, JAKARTA — Laporan terkini yang diterbitkan lembagaPBB, Program Lingkungan PBB (UNEP), mengungkapkan ketidakseimbangan besar dalam pendanaan investasi berbasis solusi iklim. Untuk setiap US$1 yang dialokasikan untuk mendanai upaya perlindungan alam,investasidalam kegiatan-kegiatan yang merusak lingkungan, angkanya justru mencapai lebih dari 30 dolar AS.

Temuan tersebut menjadi perhatian utama dalam laporan ituLaporan Keuangan untuk Alam 2026yang menggunakan data tahun 2023. UNEP menilai diperlukan perubahan besar dalam pendanaan solusi berbasis alam (Nature-based Solutions(NbS) sekaligus penghentian investasi yang merusak, agar menghasilkan keuntungan lebih besar, mengurangi risiko, serta memperkuat ketahanan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa total aliran pendanaan yang berdampak buruk terhadap lingkungan mencapai angka 7,3 triliun dolar AS. Dari jumlah tersebut, sebesar 4,9 triliun dolar AS berasal dari sektor swasta yang fokus pada utilitas, industri, energi, dan bahan baku dasar.

Di sisi lain, subsidi publik yang berdampak merusak lingkungan di sektor bahan bakar fosil, pertanian, air, transportasi, dan konstruksi mencapai angka US$2,4 triliun pada tahun 2023.

Di sisi lain, pendanaan untuk Nature-Based Solutions (NbS) hanya mencapai 220 miliar dolar AS, di mana hampir 90% berasal dari sektor pemerintah. Investasi dari pihak swasta dalam NbS tercatat sebesar 23,4 miliar dolar AS atau sekitar 10% dari total pendanaan NbS.

"Hal ini menunjukkan bahwa sektor bisnis dan keuangan belum melakukan investasi dalam jumlah besar meskipun kesadaran akan risiko serta peluang yang terkait dengan lingkungan semakin meningkat," demikian tulis laporan tersebut.

UNEP memperkirakan investasi NbS perlu meningkat 2,5 kali lipat menjadi US$571 miliar per tahun pada 2030, atau setara hanya 0,5% dari produk domestik bruto (PDB) global pada 2024.

"Jika mengikuti alur dana, kita dapat melihat seberapa besar tantangan yang ada di depan. Kita hanya memiliki dua pilihan: berinvestasi dalam kerusakan lingkungan atau mendukung pemulihan ekosistem, tidak ada jalan tengah," kata Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen, dilansir dari pernyataan resmi pada Senin (26/1/2026).

Ketika pendanaan solusi berbasis alam bergerak lambat, investasi dan subsidi yang merusak justru berkembang pesat. Laporan ini menyajikan panduan yang jelas bagi para pemimpin untuk mengubah tren tersebut dan bekerja sesuai dengan alam, bukan melawan alam.

Sebagai tanggapan, UNEP meluncurkan kerangka Nature Transition X-Curve guna membantu para pengambil kebijakan dan pelaku bisnis dalam mengatur perubahan serta memperluas penerapan solusi berbasis alam yang berkualitas tinggi di seluruh sektor ekonomi.

Struktur tersebut menggambarkan langkah penghentian subsidi dan investasi yang merusak dalam sistem produksi yang sudah mapan, sambil meningkatkan dana yang berdampak baik terhadap lingkungan.

UNEP juga menyoroti beberapa contoh penerapan di berbagai negara, seperti penanaman pohon di area perkotaan untuk mengurangi dampak pulau panas, pengintegrasian elemen alam dalam infrastruktur jalan dan energi, hingga pengembangan bahan bangunan yang memiliki emisi karbon rendah.

Prinsip pokok investasi yang positif terhadap lingkungan, menurut UNEP, adalah memastikan pendekatan yang didasarkan pada konteks ekologis, budaya, dan sosial setempat, serta memastikan aspek inklusivitas dan keadilan.

"Arus keuangan dunia perlu segera berpindah dari yang merusak lingkungan menuju investasi dalam solusi yang berbasis alam," kata Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali-Radovan.

Ia menyatakan bahwa sektor swasta memiliki peran penting dalam hal ini. Mengenai hal tersebut, Alabali-Radovan mengungkapkan bahwa kebijakan pembangunan Jerman mendukung negara mitra dalam melestarikan sumber daya alamnya sehingga dapat dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan kebijakan utama.

"Hal ini bisa menjadi jalur menuju perekonomian yang berkelanjutan dan kuat di masa depan," katanya.

Biaya Jumbo Energi Bersih

Sementara itu, laporan terpisah yang diterbitkan Forum Ekonomi Dunia (WEF) bekerja sama dengan Bain & Company yang berjudulMenggerakkan Masa Depan: Cara Bisnis Mempercepat Pasar Bahan Bakar Bersihmenyatakan bahwa investasi global pada energi bersih perlu meningkat empat kali lipat pada 2030 agar dapat mencapai tujuan energi bersih global.

Laporan ini menyatakan bahwa peningkatan investasi dalam bahan bakar bersih dari 25 miliar dolar AS saat ini menjadi 100 miliar dolar AS per tahun pada tahun 2030 dapat membangun dan memperkuat sistem serta infrastruktur ketahanan energi yang ada, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Roberto Bocca, Direktur Pusat Energi dan Material WEF, menyatakan bahwa bahan bakar bersih menjadi hal krusial dalam mendorong keberlanjutan serta menjamin ketersediaan energi yang andal.

"Penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa industri bahan bakar ramah lingkungan mampu memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada untuk menghasilkan manfaat lingkungan yang berkelanjutan serta nilai ekonomi," katanya.

Laporan ini juga menyoroti kemampuan sektor tersebut dalam mendorong pertumbuhan lapangan kerja serta memperluas variasi pasokan energi. Meskipun bahan bakar bersih saat ini hanya menyumbang lebih dari 1% dari investasi energi bersih global, potensinya terus berkembang.

Hal ini terlihat dalam inisiatif seperti komitmen "Belém 4x", di mana lebih dari 25 negara berjanji untuk menggandakan produksi dan penggunaan hingga empat kali lipat pada 2035 dalam COP30.

Cate Hight, Partner di sektor Energi dan Sumber Daya Alam Bain & Company menyatakan bahwa selama beberapa tahun terakhir, pertanyaan yang diajukan oleh para pemimpin bisnis di industri ini semakin spesifik. “Dari pertanyaan apakah kita perlu berinvestasi, kini berubah menjadi bagaimana dan kapan,” ujarnya.

Meskipun demikian, masih banyak proyek bahan bakar ramah lingkungan menghadapi tantangan dalam berkembang akibat biaya awal yang besar, permintaan yang tidak jelas, rantai pasok yang terpecah, serta kebijakan regional yang tidak konsisten.

TerPopuler