
JATIMTIMUR.COM, JEMBER - Muhammad Irfan Maulana, anak dari seorang tukang bangunan yang menjadi siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 6 Jember, Provinsi Jawa Timur.
Anak laki-laki dari Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, Jember ini, sedang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD) di sekolah baru yang dimiliki pemerintah.
Jurnalis Jatim Network, menemui siswa tersebut ketika ia baru keluar dari halaman sekolah, sedang berjalan kaki menuju tempat pangkas rambut di Jalan dr Soebandi Jember.
Muhammad Irfan Maulana menyampaikan bahwa fasilitas pendukung belajar di sekolah sangat baik, bahkan setiap siswa diberikan laptop sehingga kegiatan belajar menjadi lebih nyaman.
Terdapat berbagai fasilitas yang tersedia, termasuk laptop. Jadi ketika belajar matematika atau bahasa Inggris, kami menggunakan laptop agar lebih efisien," katanya, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, hal ini sangat berbeda dengan sekolah lain, karena saat masih kelas 1-5 di SD Surabaya sebelumnya fasilitasnya tidak sebaik itu.
"Saya adalah murid pindahan, sebelumnya bersekolah di Surabaya. Setelah pindah ke Jember, saya masuk Sekolah Rakyat," kata anak laki-laki yang akrab disapa Lana ini.
Dengan dukungan fasilitas dan sarana belajar yang tersedia, Lana percaya diri akan meraih hasil Ujian Nasional yang lebih baik tahun ini. "Menghadapi ujian nasional jadi sedikit lebih ringan," katanya.
Meskipun demikian, Lana mengakui terkadang merindukan keluarga, karena di sekolah ini ia harus tinggal di asrama. Namun rasa rindu terhadap orang tua harus disimpan sendiri.
"Dimaksakan saja, untuk menghilangkan rasa rindu pada orang tua biasanya bermain bersama teman-teman," katanya.
Mengingat, menurut Lana, sekolah memberikan liburan panjang kepada siswa setelah ujian semester serta pada momen keagamaan tertentu.
"Biasanya kepuasan itu bisa mendapatkan libur. Sisanya, siswa diperbolehkan pulang ke rumah tetapi harus meminta izin terlebih dahulu," tambahnya.
Namun, Lana mengakui bahwa ia cukup menikmati proses belajarnya di lembaga pendidikan ini meskipun jauh dari orang tuanya. Karena semua guru bersikap kepada siswanya seperti anak mereka sendiri.
"Kurang lebih menyenangkan, banyak teman-temannya dan semua guru baik. Setiap hari Minggu, terdapat kunjungan dari orang tua," katanya.
Sementara kegiatan siswa di Sekolah Rakyat, menurutnya, di pagi hari seluruh murid diberikan makanan pagi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan upacara pagi.
Setelah itu, sekolah, pukul 11.00 makan lagi, kembali masuk sekolah. Setelah itu pulang (ke asrama), baru waktu bebas untuk beraktivitas. Jika makan tiga kali, jelas Lana.
Saat Jatim Network berusaha memverifikasi hal tersebut di Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember, tetapi tidak diberi izin memasuki area sekolah.
"Harus mendapatkan izin dari kepala sekolah terlebih dahulu. Namun, kepala sekolah sedang dalam perjalanan dinas keluar, mungkin akan kembali pada hari Senin. Jika saya memberikan izin, saya yang akan bersalah," ujar Ridwan, satpam di Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember.
Di sisi lain, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember Kartika Sari Dewi menyatakan, tidak ada guru yang diperbolehkan mewakilinya dalam menerima wawancara media.
"Hanya kepala sekolah yang diperbolehkan menerima wartawan," katanya melalui pesan singkat di Whatsapp.
(Imam Nawawi/JatimTimur.com)