
Ringkasan Berita:* Pada masa 1980-an, Pardi (52) pernah mengalami masa keemasan. Ia dulu adalah pemandu wisata di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, namun akhirnya memutuskan untuk tinggal di luar negeri.* Menjadi tour leader merupakan bagian dari kehidupan saya. Rasanya seperti kembali ke masa muda ketika pertama kali memandu para wisatawan di Pangandaran. Kini anak-anak sudah tumbuh dewasa, sehingga saya memiliki lebih banyak waktu.
Laporan Kontributor Priangan.com Pangandaran, Padna
PRIANGAN.COM, PANGANDARAN -Pada masa 1980-an, Pardi (52) pernah merasakan masa kejayaannya. Mantan pemandu wisata di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, akhirnya memutuskan untuk tinggal di luar negeri.
Dulunya, Pardi dikenal sebagai pemandu wisata lokal Pangandaran yang mahir dalam menghubungkan budaya dan bahasa.
Pardi adalah seorang pria asli Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih yang memulai perjalanan hidupnya sebagai pemandu wisata pantai.
Dengan kemampuan berbahasa asing yang dipelajari secara mandiri, Pardi sering kali menemani wisatawan dari berbagai negara.
Pada masa itu, Pangandaran benar-benar penuh sesak. Hampir setiap hari terdapat wisatawan asing yang datang. Saya banyak memperoleh ilmu langsung dari mereka, khususnya bahasa Inggris dan sedikit bahasa Jerman," kata Pardi kepada melalui WhatsApp, Kamis (29/1/2026) siang.
Dari pertemuan-pertemuan tersebut, nasib mengubah jalannya hidupnya. Pardi mulai mengenal seorang turis asal Swiss.
Hubungan yang dimulai dari persahabatan, berkembang menjadi hubungan pernikahan. Dari pernikahan tersebut, keduanya memiliki seorang putri.
Namun, kebahagiaan tersebut tidak bertahan selamanya. Setelah beberapa tahun tinggal di Swiss, pernikahan mereka berakhir dengan perceraian.
Meski begitu, Pardi memutuskan untuk tetap tinggal di negara pegunungan itu demi anaknya.
"Saya tidak ingin terpisah dari putri saya. Meskipun sulit, saya memutuskan ini agar tetap bisa mengawasi perkembangan anak," katanya.
Kehidupan Pardi di Swiss terus berlanjut. Ia kemudian bertemu dengan cinta baru, seorang perempuan dari Sukabumi, Jawa Barat.
Pernikahan mereka juga membawa kebahagiaan baru berkat kelahiran tiga putri.
Meskipun tinggal jauh dari tanah airnya, Pardi tidak pernah melupakan akar budayanya. Dalam tengah kehidupan yang modern di Swiss, Pardi tetap mengajarkan nilai-nilai tradisional Indonesia kepada anak-anaknya.
"Di rumah, saya mengajarkan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Sunda. Saya berharap anak-anak mengetahui asal usul orang tua mereka," ujar Pardi.
Pekerjaan lama Pardi di Pangandaran kembali menyertai perjalanannya. Kini, ia bekerja sebagai pemandu wisata di Swiss, khususnya untuk mendampingi para pengunjung dari Indonesia.
Gunung Alpen yang megah, danau-danau biru yang jernih, serta kota-kota kuno yang terkenal ia perkenalkan dengan penuh semangat.
Untuk Pardi, pekerjaannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setiap perjalanan menghadirkan kenangan tentang masa muda yang pernah ia lalui di Pangandaran.
"Menjadi tour leader merupakan bagian dari kehidupan saya. Rasanya seperti kembali ke masa muda ketika pertama kali memandu para wisatawan di Pangandaran. Sekarang anak-anak sudah tumbuh dewasa, jadi saya memiliki lebih banyak waktu," katanya.
Meski jarak ribuan kilometer memisahkan dia dari kampung halamannya, Pangandaran tetap terasa dalam ingatan Pardi.
Keindahan pantai serta kisah sejarahnya di Pangandaran sering ia sampaikan kepada para wisatawan maupun teman-temannya di Swiss.
"Pangandaran selalu menjadi bagian dari kehidupan saya. Dari sana semua perjalanan ini dimulai," kata Pardi. (*)