
SURABAYA, Bengkalispos.com- Ia tidak memiliki tangan yang sempurna, namun dunianya hadir dengan pegangan yang kuat. Harapan dan tekad menyertai perjalanan untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya hingga ke Negara Kanguru.
Muhammad Novsyahroni Umar (30), seorang penyandang disabilitas dari Jawa Timur, kini sibuk menjalani peran sebagai asisten dosen atau tutor di University of Sydney, Australia, dalam bidang Media dan Komunikasi.
Kekuatan di dalam dirinya menciptakan keyakinan dan semangat perjuangan. Tidak mudah menghancurkan prasangka dengan bukti melalui prestasi akademik yang membuat berbagai ejekan diam.
Lahir dari orang tua yang bekerja sebagai tenaga kerja migran
Tekanan ekonomi mendorong orang tua Umar untuk mencari penghidupan di Arab Saudi sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Hal ini menyebabkan Umar lahir dan tumbuh di Negeri Minyak.
"Saya lahir dan tumbuh di Arab Saudi karena orang tua saya dulu bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Jadi dari sekolah dasar hingga SMA saya menempuh pendidikan di Arab Saudi," ujar Umar kepada Bengkalispos.com, Minggu (25/1/2026).
Umar mengatakan, orang tua memilih bekerja sebagai pekerja migran juga tidak terlepas dari faktor kakeknya yang juga seorang pekerja migran pada masa itu.
"Latar belakang orang tua saya sebagai tenaga kerja Indonesia dan menurut yang saya ketahui keduanya sama-sama lulusan SD. Namun dukungan mereka terhadap pendidikan saya sangat besar," katanya.
Lahir sebagai anak kedua, Umar memiliki kakak yang juga berhasil lulus sebagai sarjana dan adiknya masih menduduki bangku perkuliahan. Kegigihan orang tua yang menjadi bekalnya.
Umar memperoleh pendidikan sekolah di Arab Saudi dengan kurikulum yang hampir sama dengan Indonesia karena ia belajar di Sekolah Indonesia Jeddah.
Tak ayal, dari pendidikan tersebut membuat ia mampu menguasai tiga bahasa; Arab, Indonesia dan Inggris. Meski begitu, perjalanannya tak semudah membalikkan telapak tangan.
Melawan stigma
Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Arab Saudi selama puluhan tahun, Umar pernah beberapa kali mengalami penolakan saat mendaftar ke sekolah umum di Arab Saudi.
“Saya baru masuk sekolah di usia 7 tahun lebih karena ditolak sama Sekolah Indonesia karena fisik tentunya. Waktu daftar usia 5 atau 6 tahun itu gak boleh, tahun depan balik lagi tetap gak bisa,” ujarnya.
Sekolah Indonesia Jeddah malah menyarankan Umar untuk mendaftar di sekolah internasional saja. Saat mencoba, penolakan pun kembali datang.
Baru pada usia 7 tahun, Sekolah Indonesia Jeddah bersedia menerima siswa tersebut setelah ia secara rutin mengikuti pelajaran agama Islam dan konsisten berada di peringkat pertama.
“Ada salah satu ustazah yang berjasa banget. Dia ngeyakinin guru-guru bahwa anak ini (Umar) bisa kok dia ranking 1 terus, tulisannya bagus,” ujarnya.
Saat bersekolah dasar, Umar mengalami penganiayaan karena kondisi tangannya. Saat itu, tempat umum belum menjadi lokasi yang aman bagi seseorang dengan disabilitas.
Perilaku tersebut membuatnya merasa tidak nyaman dan kurang percaya diri di usia yang masih sangat muda, sehingga terpaksa sesekali memakai kerudung untuk menutupi tangannya.
"Jika pergi ke pasar atau mal pasti ada saja orang yang tidak sopan, anak-anak menghina. Akhirnya beberapa momen aku tidak ingin keluar rumah, lalu ibuku memikirkan cara menggunakan jilbab," katanya.
Kritikan yang menyakitkan datang secara terus-menerus, bahkan ada seseorang yang menyarankan agar orang tua Umar menguburkannya. Namun keteguhan dan kasih sayangnya berhasil mengatasi perasaan marah.
Saat kecil ada yang berkata kepada orang tua, "Mengapa anak seperti ini dibesarkan?" lalu ada yang mengatakan saat masih bayi, "Lebih baik dikuburkan saja ke ember itu," katanya.
Tidak hanya sampai di situ, Umar bersama keluarganya memutuskan kembali ke Indonesia sekitar tahun 2015. Ia mulai mencari perguruan tinggi negeri untuk melanjutkan studinya.
Berbagai macam ujian seleksi telah ia ikuti, baik melalui jalur prestasi maupun tes tertulis, namun tidak memperoleh hasil yang memuaskan. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk salah satu universitas swasta di Surabaya, yaitu Universitas 17 Agustus 1945 (Untag).
"Dan satu-satunya perguruan tinggi swasta yang menerima saat itu. Dia tidak melihat disabilitasku tetapi melihatku sebagai manusia biasa, seperti calon mahasiswa biasa," katanya.
Mimpi di Negeri Kanguru
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Umar berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai perwakilan publik di universitasnya.
Namun, di antara waktu libur dan istirahatnya, ia fokus mempelajari Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik (TPA) guna persiapan melanjutkan studi.
Ia memperoleh gelar magister ilmu komunikasi melalui program pascasarjana di Universitas Airlangga Surabaya secara gratis dengan mendapatkan beasiswa LPDP.
Hanya lima bulan setelah lulus S2, kesempatan untuk melanjutkan studi S3 di Negeri Kanguru muncul.
"Selama jeda menunggu jadwal sidang tesis, saya bingung apa yang harus dilakukan, akhirnya saya mempersiapkan S3 dengan dukungan seorang profesor di kampus. Ternyata tidak tahu mengapa prosesnya dimulai," ujarnya.
Ia diterima untuk melanjutkan studi magister di bidang Media dan Komunikasi di Universitas Sydney, Australia, melalui beasiswa LPDP.
"Selama berada di Australia, karena aku anak satu-satunya yang memiliki disabilitas dan awalnya banyak dibantu oleh orang tua, di sini benar-benar seperti hidup dari awal. Semua aktivitas dilakukan sendiri," katanya.
Umar harus segera beradaptasi dengan kondisi kesehatannya yang juga mengalami kelainan tulang belakang. Selain itu, kemampuan memahami bahasa di Australia menjadi hal yang penting.
Kampus ini menerima mahasiswa dengan disabilitas. Terdapat dua jenis akses pintu, salah satunya khusus untuk disabilitas.
"Kemudian mereka memiliki layanan untuk disabilitas, jadi kita periksa ke dokter dan mendaftar setiap semester, ada email yang harus kita isi sesuai dengan kondisi disabilitas serta kebutuhan kita," jelasnya.
Selama menempuh studi di University of Sidney, Umar bukan hanya seorang mahasiswa biasa. Ia diberikan tanggung jawab sebagai tutor atau asisten dosen untuk membantu mengajar teman-temannya yang lain.
"Di Indonesia mungkin disebut asdos atau asisten dosen. Di sini disebut tutor dengan istilah academic casual. Di Sydney, kelasnya besar-besar. Jadi ada dosen yang memberikan kuliah dan ada tutor. Jadi kita tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga memfasilitasi diskusi," katanya.
Selain mengikuti perkuliahan, Umar juga aktif sebagai pembicara dalam seminar dan forum diskusi.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, ia berencana kembali ke negara asal untuk berkontribusi sebagai dosen dan ilmuwan.
Pendidikan adalah kunci
Bagi Umar, dalam kondisi yang terbatas, mencapai pendidikan yang setinggi-tingginya bukanlah hal yang menghalangi. Baginya, pendidikan merupakan cahaya yang mampu membimbing seseorang keluar dari kegelapan.
"Dengan memiliki pendidikan, aku memiliki suara untuk melawan ketidakadilan. Pendidikan sangat membantu orang-orang yang terpinggirkan seperti saya," katanya.
Cahaya tersebut akan selalu muncul dan menjadi teman yang membantu seseorang bangkit kembali, berdiri, serta melangkah dengan tegak.
cahaya tidak hanya menerangi kita, tetapi juga orang lain. Dan itulah yang saya kaitkan dengan kehidupan saya, ingin bermanfaat bagi orang lain.
"Maka mengapa aku S3, bukan karena ingin menjadi seorang akademisi, tetapi ingin teman-teman disabilitas merasakan kesempatan yang sama," tutupnya.