
Ringkasan Berita:
- Perayaan setelah penetapan Bupati Pati (Nonaktif) Sudewo sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
- Perayaan rakyat diinisiasi oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dan Gerakan Aktivis Pati (GAP), pada Jumat (23/02/2026) lalu.
- Riyanta mengajak melakukan pembersihan besar-besaran terhadap tindakan korupsi di Indonesia, dimulai dari wilayah Pati.
- Kambing-kambing ini bukan hanya hewan ternak, tetapi merupakan lambang rakyat biasa atau "wedhus gembel".
Bengkalispos.com– Ratusan warga Pati, Jawa Tengah menghadiri Perayaan Rakyat yang digagas oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dan Gerakan Aktivis Pati (GAP), pada Jumat (23/02/2026) lalu.
Perayaan ini dilakukan setelah penetapan Bupati Pati (Nonaktif) Sudewo sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memicu berbagai respons dari masyarakat.
Mereka berdoa bersama, memotong tumpeng, lalu makan bersama. Beberapa orang juga melaksanakan nazar dengan mencukur rambut habis dan berlari keliling alun-alun.
Makna Lepas 7 Sapi dan 7 Ayam Putih
Ketua Umum LSM Gerakan Jalan Lurus (GJL), Riyanta, berdiri di depan para pengikutnya dengan pesan yang jelas namun penuh makna filosofis.
Pada sebuah acara perayaan yang diwujudkan melalui simbol tujuh ekor kambing dan ayam, Riyanta mengajak dilakukannya pembersihan besar-besaran terhadap tindakan korupsi di Indonesia, dimulai dari wilayah Pati.
Riyanta memulai pidatonya dengan menekankan pentingnya kesadaran akan asal-usul kehidupan atau sangkan paraning dumadi.
Ia menekankan bahwa selama manusia masih memiliki napas, maka menjadi kewajiban bagi dirinya untuk menjadi seseorang yang baik dan tidak merugikan orang lain.
"Jangan menjadi orang yang jahat, jangan menjadi manusia yang suka menghancurkan sesama manusia," tegas Riyanta di depan anggota GJL.
Terdapat pemandangan yang menarik dalam kegiatan tersebut, yaitu kehadiran tujuh ekor kambing.
Kambing Sebagai Simbol
Riyanta menyampaikan bahwa kambing-kambing ini bukan hanya hewan ternak, tetapi merupakan simbol dari rakyat kecil atau disebut "wedhus gembel".
Mengambil inspirasi dari pernyataan legendaris Bung Karno mengenai pemuda, Riyanta memberikan tantangan yang baru.
"Untuk Gerakan Jalan Lurus, berikanlah saya 7 ekor kambing, nanti akan saya kembalikan menjadi 7 ekor harimau," katanya.
Metafora ini menggambarkan tekadnya dalam membangun masyarakat kecil agar memiliki semangat dan "jiwa ksatria" untuk melawan penyimpangan.
Riyanta juga menyebutkan kenyataan yang menyedihkan di Kabupaten Pati, menurutnya telah berlangsung selama puluhan tahun, yaitu tindakan pungutan tidak resmi dalam pengisian perangkat desa hingga CPNS.
Menurut mantan anggota Polri ini, sejak tahun 80-an hingga masa reformasi, posisi-posisi tersebut sering kali "tidak diperoleh secara gratis".
Mengenai kecurangan dalam pengisian perangkat desa, saya sampaikan di forum ini bahwa sejak tahun 80-an, proses pengisian perangkat tidak dilakukan secara gratis. Hal ini terus berlanjut hingga era reformasi, bahkan sampai kejadian Pak Sudewo pun juga tidak gratis. Ini adalah kesalahan kita semua, kita perlu introspeksi diri dan tidak perlu menyalahkan orang lain, tetapi harus mencari solusi terbaik.
Ia memperingatkan bahwa jika masyarakat tidak berupaya menentang, maka keturunan mereka yang berbakat tetapi kekurangan dana akan terus diabaikan.