Mengapa Imlek Selalu Berwarna Merah? Ini Rahasianya -->

Mengapa Imlek Selalu Berwarna Merah? Ini Rahasianya

29 Jan 2026, Kamis, Januari 29, 2026

Bengkalispos.comSebenarnya mengapa perayaan Tahun Baru Imlek sering dikaitkan dengan warna merah? Ternyata ada alasan di balik penggunaan warna tersebut.

Tahun ini, Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili akan dirayakan pada 17 Februari 2026. Perayaan Imlek akan diikuti oleh seluruh masyarakat keturunan Tionghoa.

Setiap perayaan selalu diiringi oleh tradisi dan pertunjukan. Berbagai hiasan berwarna merah dapat dilihat menghiasi bagian samping rumah para penganut perayaan tersebut.

Warna merah telah menjadi simbol dari perayaan Tahun Baru Imlek. Termasuk dalam dekorasi seperti lampu lampion, amplop merah, hingga pakaian yang dikenakan. Lalu, mengapa warna merah sering digunakan selama Imlek?

Alasan Tahun Baru Imlek Berkaitan dengan Warna Merah

Dikutip dari Kompas.com, masyarakat Tionghoa memandang warna merah sebagai simbol keberuntungan, kelimpahan, dan kebahagiaan. Pemilihan warna merah dalam perayaan tahun baru bertujuan untuk mencerminkan tiga makna tersebut.

Selain warna merah, terdapat pula warna lain yang dianggap membawa keberuntungan. Dua warna tersebut adalah kuning dan hijau.

Warna tersebut berawal dari teori lima elemen Tiongkok. Warna merah menggambarkan api, kuning melambangkan tanah, hijau atau biru menggambarkan kayu, putih melambangkan logam, dan hitam melambangkan air.

Alasan lainnya, warna merah juga merupakan warna tradisional dari etnis Han, yang merupakan kelompok etnis utama di Tiongkok. Masyarakat Han menganggap bahwa warna merah melambangkan keberuntungan.

Pantangan saat Imlek

1. Membersihkan atau Membuang Limbah

 

Aktivitas menyapu dihubungkan dengan menghilangkan kekayaan. Sementara membuang sampah melambangkan melepas keberuntungan dari rumah.

2. Menagih Utang

Larangan menagih utang mengandung pesan bahwa setiap orang berhak merayakan tanpa perlu merasa cemas dan mendorong sikap saling memahami. Menagih hutang dianggap bisa menyebabkan nasib buruk, mirip dengan meminjam uang saat Tahun Baru Imlek.

3. Makan Labu

Di dalam bahasa Mandarin, kata "labu" dilafalkan sebagai "gwa", yang terdengar mirip dengan kata "kematian", sehingga dianggap sebagai makanan yang dihindari. Larangan ini berkaitan dengan nasihat untuk tidak mengucapkan kata-kata yang memiliki makna negatif.

4. Besaran Uang yang Tidak Genap

Masyarakat Tionghoa cenderung menyukai angka genap. Berdasarkan keyakinan tradisional, hal-hal baik biasanya datang dua kali lipat. Namun jangan lupa untuk menghindari angka-angka yang dianggap sial seperti 4 dan 40, karena angka 4 melambangkan kematian dalam bahasa Tionghoa.

5. Mengonsumsi Bubur dan Daging sebagai Menu Sarapan

Hindari mengonsumsi bubur karena dianggap hanya orang yang kurang mampu yang mengonsumsinya sebagai sarapan. Banyak orang tidak ingin memulai tahun dengan hal semacam ini karena dianggap bisa menjadi tanda buruk.

Alasan mengapa perayaan Imlek sering dikaitkan dengan warna merah adalah karena keyakinan masyarakat Tionghoa yang menganggap merah sebagai simbol keberuntungan dan kelimpahan. Selain itu, ada juga warna lain yang dianggap membawa keberuntungan, yaitu kuning dan hijau. (*)

TerPopuler