Mengenakan Estetika Pesta, Whip Pink Dianggap Menyesatkan dan Berbahaya bagi Generasi Muda -->

Mengenakan Estetika Pesta, Whip Pink Dianggap Menyesatkan dan Berbahaya bagi Generasi Muda

29 Jan 2026, Kamis, Januari 29, 2026

Bengkalispos.comWhip Pink akhir-akhir ini menjadi perhatian karena sering disalahgunakan oleh kalangan pemuda. Produk gas krim whipped cream ini dianggap berbahaya karena memiliki tampilan yang menarik dan mirip pesta, sehingga menyesatkan.

Kemasan yang berwarna menarik dan cerita yang mengalirfunmembuat Whip Pink sering dianggap aman. Namun, produk ini mengandung Nitrous Oxide yang berbahaya jika dihirup secara sengaja.

Kepala Laboratorium Narkoba BNN RI, Brigjen Pol dr. Supiyanto, menegaskan bahwa Nitrous Oxide memiliki dampak berbahaya terhadap sistem saraf. Penggunaan gas ini secara tidak wajar dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang tidak boleh dianggap remeh.

"Nitrous Oxide yang dihirup tanpa rekomendasi medis dapat menyebabkan kekurangan oksigen hingga kematian," kata Supiyanto, seperti dikutip Bengkalispos.com melalui tayangan Youtube Denny Sumargo, Rabu (28/01/2026).

Dari sudut pandang medis, dampak Whip Pink juga mendapat perhatian dari dr. Samuel Sunarso Sp.P. Ia mengatakan penggunaan yang berulang dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru dan otak.

Efek sementara seperti rasa gembira sering kali membuat pengguna tidak waspada terhadap bahaya jangka panjang. Padahal, tubuh dapat mengalami kekurangan oksigen secara perlahan.

"Kerusakan saraf akibat kekurangan oksigen dapat bersifat tetap jika terjadi berulang," ujar Samuel.

Peristiwa ini semakin memprihatinkan mengingat Whip Pink bisa dengan mudah diperoleh melalui internet. Tidak ada pembatasan usia yang jelas dalam penjualannya.

Doni, mantan pengguna Whip Pink, mengakui awalnya tertarik karena tren yang muncul di media sosial. Ia mengatakan penggunaan pertama terasa ringan, tetapi dampaknya cepat membuatnya ketagihan.

"Pertama kali hanya ikut-ikutan karena terlihat menarik, tetapi akhirnya sering mengalami sakit kepala dan sulit berkonsentrasi," kata Doni.

Doni juga mengakui pernah meremehkan Whip Pink karena bukan termasuk narkoba. Pandangan inilah yang membuat banyak pemuda lengah dan mencoba tanpa berpikir panjang.

 

Pengajar kesehatan di media sosial, Doktif, menganggap kemasan dan promosi Whip Pink sebagai masalah utama. Menurutnya, estetika pesta menciptakan ilusi keamanan pada produk yang berisiko.

Jika sesuatu berbahaya dikemas seolahfun"Anak muda pasti menganggapnya remeh," kata Doktif.

Doktif juga menekankan relevansi literasi kesehatan pada masa media sosial. Materi edukatif dianggap penting untuk menyeimbangkan tren yang bisa berisiko.

BNN mengingatkan bahwa keabsahan suatu produk tidak menjamin keselamannya jika digunakan secara salah. Pengawasan dan pendidikan dianggap perlu dilakukan secara bersamaan.

Kasus Whip Pink menjadi peringatan bahwa tren yang viral dapat memiliki konsekuensi serius. Pemuda diharapkan lebih waspada terhadap produk yang terlihat menarik namun menyimpan bahaya bagi kesehatan. (*)

TerPopuler