
Museum Bahari Jakarta akan menyelenggarakan pameranpameran tunggal tiga negara “Crimson Gilt” karya Vincent Ruijters yang berlangsung dari 7 Februari hingga 7 April 2026. Pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat kembali jejakmaritim era kolonial dalam jaringan hubungan antara Indonesia, Jepang, dan Belanda.
Pameran karya kolaborasi antara Vincent Ruijters yang didukung oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda denganMuseum BahariJakarta dianggap akan menjadi lebih dinamis karena penyelenggaraannya berlangsung di bekas gudang penyimpanan rempah-rempah milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dengan meletakkan karya seni di museum ini, pengunjung akan dibawa seolah-olah masuk ke mesin waktu untuk menyaksikan dan mendengarkan sejarah kolonialisme maritim secara langsung.
Pilihan Editor: Invasi Permainan Video Sampai ke Museum LouvreVincent menyadari bahwa setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam memandang sejarah.VOC. Belanda memiliki pendekatan yang berbeda, demikian pula Indonesia dan Jepang. Bahkan pandangan terhadap sejarah terus berkembang. "Saya ingin membuat sebuah proyek yang menunjukkan bagaimana masing-masing negara memandang sejarah VOC, lalu menyampaikan perspektif tersebut," kata Vincent saat mengungkapkan rencana pameran tersebut dalam Networking Event Museum Bahari pada hari Rabu, 28 Januari 2026, di Jakarta.
Vincent, seorang yang berasal dari Belanda dengan keturunan campuran Indonesia. Keluarga dari pihak ibunya adalah orang Indonesia keturunan yang berpindah ke Belanda. Latar belakang multikultural ini membuat Vincent sangat memperhatikan isu identitas dan sejarah pasca-koloni.
Ilusi Kapal Melayang
Daya tarik utama dari pameran ini adalah sebuah instalasi kapal yang berukuran ruangan dan terlihat mengambang di tengah museum. Kapal tersebut merupakan salinan Kapal Amsterdam, sebuah kapal milik VOC pada abad ke-18. Vincent memberikan sentuhan artistik yang bermakna dalam karyanya melalui penggunaan warna yang kontras, yang kemudian menjadi inspirasi untuk judul pameran ini: Crimson Gilt.
Pilihan Editor:Pemandangan Hari Nyepi Pada Malam Hari di Museum Saka"Merah darah", yang menggambarkan warna merah gelap, adalah pilihan warna yang ditempatkan di bagian depan kapal. Ini menjadi lambang dari penderitaan, tumpahan darah, dan rasa sakit yang dirasakan masyarakat Indonesia selama masa penjajahan yang berkepanjangan.
Sementara itu, "gilt" menggambarkan emas yang ditempatkan di bagian dalam kapal. Warna ini mencerminkan kekayaan alam dan sumber daya yang terus-menerus dieksploitasi demi keuntungan VOC.
Dengan kombinasi warna ini, Vincent berusaha menunjukkan bagaimana sebuah objek sejarah dapat memiliki makna yang berbeda. Di satu sisi, ia dihormati dalam narasi kejayaan Belanda dan Jepang sebagai simbol perdagangan, tetapi di sisi lain dikritik sebagai lambang kejahatan bagi Indonesia.
Pameran Lintas Negara
Pameran ini dikenal sebagai pameran lintas negara karena diadakan di tiga tempat bersejarah yang berkaitan dengan VOC, yaitu Kantor Perdagangan VOC di Hirado, Nagasaki, Jepang, (Jepang) tahun lalu; Museum Bahari Jakarta, serta Museum Maritim Nasional di Amsterdam.
Pameran ini sebelumnya diadakan di Jepang tahun lalu dengan konsep warna yang berbeda. Warna emas pada bagian depan kapal menggambarkan bahwa VOC dianggap sebagai simbol positif di negara Jepang. Sementara itu, warna merah diartikan sebagai sisi gelap VOC yang tidak terlihat di Jepang, namun ada di negara lain. Penempatan warna ini juga akan disesuaikan di Amsterdam, karena memiliki pandangan yang berbeda terhadap VOC sebagai ikon positif, berbeda dengan Indonesia.
IMANDA ZAHWAPilihan Editor: Lima Koleksi Museum di Jakarta yang Tetap Beroperasi Sampai Malam Hari