Orang Kurang Empati Sering Tunjukkan 7 Perilaku Ini, Menurut Psikologi -->

Orang Kurang Empati Sering Tunjukkan 7 Perilaku Ini, Menurut Psikologi

28 Jan 2026, Rabu, Januari 28, 2026

Bengkalispos.comDi kehidupan sehari-hari, kita sering berjumpa dengan seseorang yang terlihat dingin, sulit dimengerti, atau seolah-olah tidak memperhatikan perasaan orang lain. Mereka mungkin hadir secara fisik, namun tidak ada secara emosional.

Di bidang psikologi, keadaan ini sering dikaitkan dengan kurangnya sikap empati—yaitu ketidakmampuan atau ketidaksediaan seseorang untuk menunjukkan rasa empati, perhatian, dan dukungan emosional terhadap orang lain.

Kelaparan hati emosional bukan berarti memberikan hadiah atau bantuan finansial, tetapi lebih pada keinginan untuk hadir, mendengarkan, dan memahami perasaan orang lain.

Bila aspek ini tidak berkembang dengan baik, terdapat pola perilaku tertentu yang biasanya muncul.

Dikutip dari Expert Editor pada Senin (26/1), terdapat tujuh sikap yang sering ditunjukkan oleh seseorang yang kurang memiliki kelembutan emosional menurut psikologi.

1. Sulit Menunjukkan Empati

Salah satu indikator yang paling jelas adalah kesulitan dalam merasakan empati. Seseorang yang memiliki kemampuan emosional yang rendah sering kali tidak mampu—atau enggan—melihat situasi dari perspektif orang lain. Ketika seseorang berbagi tentang rasa sedih atau masalahnya, tanggapan yang muncul biasanya datar, menghakimi, atau bahkan beralih ke topik diri sendiri.

Alih-alih mengatakan, "Aku memahami ini pasti sulit bagimu," mereka lebih cenderung berkata, "Ya, semua orang juga memiliki masalah." Sikap demikian membuat orang lain merasa tidak didengar dan tidak diakui.

2. Menghindari Diskusi Emosional yang Mendalam

Orang yang tidak terbuka secara emosional sering merasa canggung ketika pembicaraan mulai menyentuh perasaan, emosi, atau pengalaman pribadi. Mereka mungkin mengalihkan topik, bersenda secara berlebihan, atau bahkan menjauh dari percakapan tersebut.

Dalam hubungan jangka panjang—baik teman, keluarga, atau cinta—penghindaran ini bisa menyebabkan jarak emosional. Hubungan menjadi tidak mendalam karena tidak ada tempat yang aman untuk berbagi perasaan yang lebih dalam.

3. Cenderung Berfokus pada Diri Sendiri

Perilaku lain yang sering muncul adalah kecenderungan untuk selalu fokus pada kebutuhan, perasaan, dan kepentingan diri sendiri. Dalam percakapan, mereka cenderung mendominasi, jarang mengajukan pertanyaan balik, serta kurang menunjukkan rasa minat yang tulus terhadap pengalaman orang lain.

Psikologi tidak selalu melihat ini sebagai sikap egois yang sengaja dilakukan, tetapi bisa jadi merupakan cara untuk melindungi diri. Namun, akibatnya tetap sama: orang di sekitarnya merasa tidak dihargai.

4. Menganggap remeh atau mempersempit perasaan orang lain

Kalimat seperti "Kamu terlalu sensitif," "Itu bukan masalah besar," atau "Sudahlah, jangan dipikirkan" sering kali menjadi ciri khas. Seseorang yang memiliki empati rendah cenderung mengabaikan perasaan orang lain karena mereka tidak terbiasa—atau tidak mampu—menghadapi emosi tersebut.

Sebaliknya, respons semacam ini justru membuat orang lain merasa bersalah terhadap perasaan mereka sendiri dan tidak ingin terbuka lagi di masa depan.

5. Sulit Menyediakan Dukungan Emosional Ketika Dibutuhkan

Saat seseorang sedang menghadapi masa yang berat, dukungan emosional sangat diperlukan. Namun, orang-orang yang tidak memiliki rasa belas kasihan emosional sering kali tidak tahu bagaimana cara membantu. Mereka mungkin hadir secara fisik, tetapi bersikap dingin, kaku, atau tidak peduli.

Pada beberapa situasi, mereka justru menghilang ketika dibutuhkan, bukan karena tidak peduli, melainkan karena tidak mampu menghadapi kondisi emosional yang kuat.

6. Jarang Menunjukkan Rasa Hargai atau Kecintaan

Menunjukkan rasa terima kasih, apresiasi, atau cinta melalui kata-kata maupun tindakan tanpa ucapan merupakan bentuk kebaikan emosional. Orang yang tidak memiliki kemampuan ini biasanya jarang melakukan hal tersebut. Mereka mungkin merasa perasaan baik tidak perlu diungkapkan atau merasa malu untuk melakukannya.

Akibatnya, orang-orang di sekitar mereka mungkin merasa tidak dihargai, meskipun pada kenyataannya tidak selalu ada maksud jahat di balik perilaku tersebut.

7. Cenderung bersikap defensif ketika menghadapi emosi

Saat menghadapi kritik atau perasaan orang lain, seseorang yang memiliki empati rendah cenderung bersikap defensif. Mereka mudah merasa diserang, segera membela diri, atau bahkan menyalahkan orang lain.

Respons defensif ini menghalangi terciptanya komunikasi yang sehat dan menyulitkan penyelesaian konflik secara emosional.

Penutup

Tidak adanya kepekaan emosional bukanlah label tetap atau penilaian terhadap kepribadian seseorang. Banyak kali, perilaku-perilaku ini dibentuk oleh pengalaman masa lalu, cara mendidik, trauma, atau lingkungan yang tidak memfasilitasi ekspresi perasaan.

Berita baiknya, kebaikan hati emosional merupakan keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah.

Dengan kesadaran akan diri sendiri, kemampuan untuk mendengarkan, serta latihan empati, seseorang bisa belajar menjadi lebih peka secara emosional—baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Mengenali tanda-tanda ini tidak hanya membantu kita memahami orang lain, tetapi juga berfungsi sebagai cermin untuk mengevaluasi dan meningkatkan kesehatan emosional kita sendiri.

TerPopuler