Orang Terus-Menerus Tertipu dalam Hubungan Beracun Punya 8 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi -->

Orang Terus-Menerus Tertipu dalam Hubungan Beracun Punya 8 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi

31 Jan 2026, Sabtu, Januari 31, 2026

Bengkalispos.com- Banyak orang yang merasa bingung dan bertanya pada diri sendiri, "Mengapa aku selalu berjumpa dengan pasangan yang tidak tepat?"

Hubungan bisa berubah, wajah pasangan mungkin berbeda, namun polanya terasa mirip: penuh pengaruh, penuh drama, melelahkan secara emosional, bahkan menyakitkan.

Dalam bidang psikologi, kejadian ini tidak hanya terkait dengan keberuntungan buruk. Pola hubungan yang beracun sering kali berkaitan dengan dinamika kepribadian, pengalaman masa lalu, serta cara seseorang memahami cinta dan dirinya sendiri.

Perlu dijelaskan dengan jelas: memiliki ciri-ciri tersebut tidak berarti seseorang "layak" menderita. Justru sebaliknya, memahami ciri-ciri ini adalah langkah awal untuk menghentikan siklus tersebut dan menciptakan hubungan yang lebih baik.

Dikutip dari Geediting pada Selasa (27/1), terdapat delapan sifat kepribadian yang secara psikologis sering ditemui pada individu yang kerap terjebak dalam hubungan beracun yang sama.

1. Terlalu Merasa Kasihan (Over-Empathy)

Individu yang memiliki tingkat empati yang tinggi mampu merasakan perasaan orang lain secara mendalam. Sayangnya, dalam hubungan yang tidak sehat, empati ini sering kali dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan negatif pasangan.

Mereka cenderung berpikir:

Ia bersikap kasar akibat pengalamannya di masa lalu.

Sebenarnya dia baik, hanya saja sedang luka.

Jika aku cukup sabar, dia akan berubah.

Dalam bidang psikologi, keadaan ini menyebabkan seseorang cenderung melupakan batasan pribadi untuk melindungi orang lain.

2. Kehargaan Diri yang Terikat pada Persetujuan Orang Lain

Banyak orang yang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat sering merasa tidak pernah cukup tanpa adanya pengakuan dari pasangannya.

Ciri ini tampak dalam:

Takut ditinggalkan berlebihan

Merasa berharga hanya jika diperlukan

Menilai harga diri berdasarkan sejauh mana mereka "mengorbankan" diri

Akibatnya, hubungan yang tidak sehat justru dianggap penting, karena menjadi sumber pengakuan emosional.

3. Pola Kelekatan Tidak Aman (Insecure Attachment)

Menurut teori attachment, pengalaman masa kecil membentuk cara kita menjalin hubungan saat dewasa.

Orang dengan anxious attachment atau fearful attachment sering:

Terobsesi akan keakraban namun takut ditinggalkan

Menerima tingkah laku negatif agar dapat mempertahankan hubungan

Merasa hubungan yang tenang justru "tidak cukup menghibur"

Hubungan yang beracun sering terasa seperti yang sudah dikenal oleh sistem saraf mereka, meskipun menyebabkan rasa sakit.

4. Keyakinan Bawah Kesadaran bahwa Cinta Selalu Menyebabkan Rasa Sakit

Bagi sebagian orang, cinta yang sehat terasa asing. Secara tidak sadar, mereka memiliki panduan internal seperti:

“Cinta itu perjuangan”

Jika tidak sakit, berarti tidak benar-benar serius

Hubungan seharusnya mengalami fluktuasi yang sangat ekstrem

Psikologi menyebut ini sebagai internalized relationship beliefs, yaitu keyakinan lama yang membentuk pilihan pasangan secara otomatis.

5. Kesulitan Menetapkan dan Menjaga Batasan (Boundaries)

Salah satu ciri paling konsisten dalam hubungan beracun adalah batasan yang kabur atau tidak ditegakkan.

Orang yang memiliki ciri ini biasanya:

Merasa bersalah ketika mengatakan "tidak"

Takut dianggap egois

Lebih memperhatikan kebutuhan pasangan daripada dirinya sendiri

Tanpa adanya batasan yang jelas, hubungan bisa dengan mudah berubah menjadi hubungan yang tidak seimbang dan melelahkan.

6. Tren Menjadi "Pahlawan" (Kompleks Penyelamat)

Banyak orang secara tidak sadar menarik perhatian pada pasangan yang memiliki masalah karena merasa hidup mereka lebih bermakna ketika mampu memperbaiki orang lain.

Di bidang psikologi, hal ini sering dikaitkan dengan:

Kebutuhan untuk merasa dibutuhkan

Kekhawatiran menghadapi kekosongan emosional sendiri

Identitas seseorang yang dibentuk melalui peran membantu

Sayangnya, hubungan semacam itu jarang seimbang dan sering berakhir dengan kelelahan batin.

7. Rasa takut kesepian lebih besar dibandingkan rasa takut dilukai

Banyak orang merasa kesepian lebih menakutkan dibandingkan hubungan yang menyebabkan rasa sakit.

Mereka mungkin berpikir:

Lebih baik berada bersama siapa saja daripada kesepian.

“Setidaknya aku tidak sendiri.”

“Nanti juga membaik.”

Psikologi mengungkapkan bahwa rasa takut terhadap kesepian yang berkepanjangan bisa menyebabkan penurunan kualitas hubungan secara signifikan.

8. Kesulitan Mengidentifikasi Tanda Peringatan Dini

Bukan karena kurang pintar, tetapi karena tanda peringatan sering dianggap sebagai "kimia" oleh orang yang terbiasa dengan hubungan yang intens dan tidak stabil.

Tanda-tandanya:

Cemburu dianggap tanda cinta

Drama dianggap bukti kepedulian

Intensitas yang cepat sering disalahpahami sebagai keakraban emosional

Tanpa adanya kesadaran, pola ini terus berulang dengan pasangan yang berbeda.

Penutup: Pola Dapat Dipelajari, dan Dapat Diubah

Psikologi menekankan satu hal yang penting:

apa yang dipelajari, dapat dipelajari kembali.

Memiliki ciri-ciri tersebut bukan berarti menjadi vonis permanen. Dengan kesadaran, introspeksi diri, terapi, serta pengalaman emosional yang lebih baik, seseorang dapat:

Menciptakan batasan yang lebih jelas

Memilih pasangan secara sadar, bukan karena luka masa lalu

Merasa cinta yang tenang, nyaman, dan saling menghormati

Jika kamu merasa artikel ini "mengenai", itu bukan berarti lemah.

Itu tanda bahwa kamu mulai menyadari — kesadaran merupakan awal dari perubahan.

TerPopuler