
Bengkalispos.comRasa "aku tertinggal" sering muncul secara diam-diam. Bukan karena kehidupan benar-benar berhenti, melainkan karena kita melihat orang lain terlihat lebih cepat maju.
Rekan sebaya menikah, naik pangkat, memiliki rumah, dan berkunjung ke berbagai belahan dunia—sedangkan kita merasa masih berada di posisi yang sama.
Psikologi mengungkapkan bahwa perasaan ketinggalan ini biasanya tidak muncul dari kegagalan yang nyata.
Sebaliknya, hal tersebut muncul akibat cara kita menentukan dan mengukur keberhasilan—sering kali dengan ukuran yang salah, sempit, serta tidak sesuai dengan kehidupan pribadi kita.
Dikutip dari Geediting pada Selasa (27/1), terdapat 8 metrik keberhasilan yang salah yang sering digunakan oleh orang-orang yang merasa tertinggal dalam hidup.
1. Menyamakan Usia dengan Prestasi Kehidupan
Salah satu indikator yang paling sering digunakan adalah:
Pada usia seperti ini, seharusnya aku sudah...
Psikologi perkembangan menyatakan bahwa tidak ada jadwal tetap yang berlaku umum untuk masa dewasa. Namun, masyarakat membentuk kesan bahwa pada usia tertentu seseorang seharusnya telah mencapai hal-hal tertentu—seperti karier yang mapan, pasangan hidup, dan kestabilan finansial.
Kendala utamanya adalah ketika usia digunakan sebagai patokan, kehidupan berubah menjadi kompetisi, bukan perjalanan. Padahal, banyak orang mengalami perkembangan terbesar setelah melewati usia yang dianggap "ideal".
2. Membandingkan Diri dengan Pencapaian Terbaik Orang Lain
Banyak orang yang merasa tertinggal cenderung membandingkan kehidupan mereka yang asli dengan tampilan yang telah disusun oleh orang lain—terutama di platform media sosial.
Psikologi sosial mengistilahkan hal ini sebagai perbandingan sosial ke atas, yang jika dilakukan secara terus-menerus dapat mengurangi rasa percaya diri serta meningkatkan rasa cemas.
Kita jarang membandingkan:
kegagalan orang lain,
kebingungan mereka,
ketakutan yang tidak mereka unggah.
Namun kita membandingkan segalanya dengan kehidupan kita yang utuh—termasuk rasa lelah, keraguan, dan stagnasi sementara.
3. Menilai Kepribadian Berdasarkan Posisi dan Peran
Banyak orang menyamakan kesuksesan dengan:
jabatan,
titel,
prestise pekerjaan.
Padahal, psikologi eksistensial menunjukkan bahwa makna hidup tidak selalu sejajar dengan status sosial. Seseorang bisa memiliki pekerjaan bergengsi namun merasa kosong, sementara yang lain hidup sederhana tetapi merasa bermakna dan utuh.
Ketika status dijadikan ukuran utama, harga diri menjadi rapuh—mudah runtuh saat karier melambat atau berubah arah.
4. Memandang Kecepatan sebagai Bukti Kepemimpinan
Cepat lulus.
Cepat sukses.
Cepat kaya.
Di tengah masyarakat yang mengagungkan produktivitas, kecepatan sering dianggap sebagai tanda kemampuan dan kecerdasan. Namun, psikologi menyatakan bahwa kecepatan tidak selalu berkorelasi dengan kedalaman atau ketahanan.
Banyak tahapan penting dalam kehidupan—pemulihan, pematangan emosional, pencarian identitas—memang membutuhkan waktu. Terlambat tidak selalu berarti kegagalan; sering kali artinya sedang dalam proses pembentukan.
5. Menghitung Kehidupan Berdasarkan Daftar "Checklist Sosial"
Rumah?
Pasangan?
Anak?
Daftar sosial memberikan kesan rasa aman yang palsu, seakan-akan kehidupan bisa diukur seperti formulir administratif. Namun psikologi humanistik menekankan bahwa kehidupan yang bermakna bersifat subjektif dan pribadi, bukan sekadar daftar yang sama-sama umum.
Isu muncul ketika seseorang merasa gagal bukan karena kehidupannya tidak memuaskan, melainkan karena kehidupannya tidak sesuai dengan pola yang ditentukan masyarakat.
6. Mengabaikan Perkembangan Internal yang Tidak Terlihat
Orang yang merasa tertinggal biasanya memperhatikan hasil luaran dan mengabaikan:
ketahanan emosional yang tumbuh,
keberanian menetapkan batasan,
kemampuan memahami diri sendiri,
pemulihan dari pengalaman traumatis atau luka yang telah lama terjadi.
Meskipun dari sudut pandang psikologi, perkembangan internal sering kali menjadi pencapaian paling mendasar, meski tidak bisa ditunjukkan atau diukur dengan angka.
7. Memandang keberhasilan sebagai sesuatu yang harus terlihat oleh orang lain
Jika tidak diakui, dipuji, atau dianggap sah, maka dianggap belum berhasil.
Hal ini membuat kesuksesan bergantung pada tanggapan dari luar, bukan kepuasan dari dalam. Psikologi motivasi menunjukkan bahwa fokus pada hal-hal eksternal cenderung menyebabkan kecemasan terus-menerus dan perasaan tidak pernah cukup.
Keberhasilan yang baik sering kali bersifat tersembunyi—dirasakan, bukan ditunjukkan.
8. Menganggap Kehidupan Orang Lain Lebih "Sudah Selesai"
Banyak orang merasa ketinggalan dengan mengira orang lain telah "sampai", sementara mereka sendiri masih "di tengah perjalanan".
Meskipun psikologi menyatakan bahwa kebingungan, keraguan, dan perubahan arah merupakan kondisi yang wajar sepanjang hidup, bukan hanya dialami oleh orang-orang yang gagal.
Perbedaannya terkadang hanya terletak pada satu hal: beberapa orang menyembunyikannya dengan lebih teratur.
Penutup: Mungkin Bukan Kamu yang Tertinggal, Tapi Standarmu yang Salah
Tidak selalu berarti gagal jika merasa tertinggal. Pada banyak situasi, hal itu menunjukkan bahwa seseorang menggunakan arah yang salah untuk mengevaluasi kehidupan sendiri.
Psikologi mengingatkan kita bahwa kehidupan bukanlah lomba lari dengan garis akhir yang sama bagi semua individu. Lebih tepatnya, ia seperti perjalanan jauh yang memiliki medan, kecepatan, dan tujuan yang berbeda-beda.