Ringkasan Berita:
- Usaha pelestarian alam di Indonesia telah dimulai sejak zaman Hindu-Buddha.
- Komunitas Kandang Kebo menyelenggarakan pertemuan diskusi mengenai upaya pelestarian lingkungan.
- Makam Seniman Girisapto di Imogiri ditujukan khusus sebagai tempat peristirahatan bagi para seniman.
NEWS.COM, BANTUL– Bukti sejarah berupa prasasti dan naskah kuno menunjukkan bahwa upaya perlindungan alam di Indonesia telah dimulai paling tidak sejak masa Hindu-Buddha klasik. Adanya usaha konservasi menandakan bahwa masyarakat pada masa lalu telah menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan untuk kesejahteraan bersama.
Ahli arkeologi Goenawan Sambodo menyatakan bahwa konservasi alam pada masa Jawa Kuno sering dikaitkan dengan ajaran keagamaan. Berdasarkan ajaran tersebut, manusia dan alam harus memiliki hubungan yang harmonis serta seimbang.
Ia menyampaikan beberapa prasasti yang menyampaikan usaha pelestarian alam. Salah satunya adalah prasasti Sanghyang Tapak (dengan tanggal 952 Saka).
"Itu adalah prasasti dari Jawa Barat. Ia menceritakan bagaimana upaya menanam pohon samida. Di sana terdapat aturan yang melarang menangkap ikan di kawasan tertentu," ujar Goenawan dalam acara penanaman bibit pohon sekaligus diskusi rutin triwulanan Komunitas Kandang Kebo dengan tema "Konservasi Alam: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Mendatang" di area Makam Seniman Girisapto, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, Minggu (25/1/2026).
"Lalu terdapat prasasti Katiden I (1314 Saka) dari Jawa Timur, kawasan Malang," katanya melanjutkan.
Menurut Goenawan, dalam prasasti Katiden I terdapat larangan mengenai penebangan pohon-pohon tertentu.
Kemudian, dalam prasasti Katiden II (1317 S) disebutkan pemberian yang diberikan raja Majapahit kepada penduduk Katiden yang telah membantu mengelola rumput alang-alang. Goenawan menyatakan bahwa masalah alang-alang menjadi penting karena tanaman ini mudah terbakar dan berpotensi memicu kebakaran hutan.
Prasasti berikutnya adalah prasasti Salimar (802, 804 Saka) yang menceritakan sebuah kawasan hutan lindung,
"Isinya sekitar menyatakan bahwa daerah tersebut merupakan kawasan hutan lindung. Jadi, hutan lindung dan hutan konservasi bukan hanya dibentuk oleh pemerintah dalam era-era terkini. Pada masa lalu juga sudah ada," ujar Goenawan yang akrab dipanggil Mbah Goen.
Prasasti lainnya adalah prasasti Munduan (728 Saka) yang ditemukan di Kabupaten Temanggung. Arkeolog lulusan UGM dan ITS tersebut menyatakan bahwa prasasti Munduan memberikan informasi mengenai penentuan tanah sima.
Raja memberikan hadiah berupa wilayah otonom karena penduduk di sekitar Munduan telah menggembalakan kambing milik raja di sebuah hutan, sehingga hutan tersebut menjadi kawasan yang dilindungi dan tidak boleh ditebang sembarangan.
Sebagai contoh, salah satu naskah kuno yang mengisahkan usaha pelestarian lingkungan adalah kitabNagarakrtagama(1287 Saka). Isinya berisi ajakan untuk menjaga huma, sawah, serta seluruh pohon yang ditanam.
Selain itu, dalam kitab tersebut juga disampaikan bahwa tindakan membakar hutan, menebang pohon, serta memanfaatkan hasil hutan tanpa izin raja atau pejabat yang berwenang dapat mengakibatkan hukuman mati.
Goenawan menyampaikan ada beberapa pejabat masa Jawa Kuno yang ditugasi mengurus persoalan yang berkaitan dengan lingkungan atau alam. Pejabat itu di antaranya pasuk alas (petugas kehutanan), pamrsi (mantri kebersihan), tuha alas (mantri kehutanan), tuha kalang (mantri perkayuan), tuha buru (mantri perburuan), dan mataman (tukang kebun).
Untuk menutup pemaparannya, Goenawan kembali menggarisbawahi bahwa aturan-aturan tentang menjaga alam pada masa klasik dibuat demi kesejahteraan bersama.
Tantangan Merumuskan Strategi Konservasi
Sarasehan konservasi oleh Komunitas Kandang Kebo digelar di tengah banyaknya bencana alam yang mendera Indonesia dalam beberapa bulan belakangan. Ketua Kandang Kebo Maria Tri Widayati menyebut bencana di Indonesia tidak hanya dipicu oleh faktor alamiah, tetapi juga akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, misalnya deforestasi dan eksploitasi alam yang kelewat batas.
Seperti Goenawan, Maria menekankan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sejak dulu telah memberikan teladan tentang bagaimana menjalani kehidupan tanpa merusak lingkungan.
"Padahal jika kita melihat masa lalu, leluhur kita hidup seimbang dengan alam. Hutan, sungai, dan sumber air dijaga dengan penuh rasa hormat. Terdapat nilai dan kearifan lokal yang mengajarkan bahwa alam bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk dipelihara demi kelangsungan hidup bersama," kata Maria menjelaskan.
Menurutnya, salah satu korban bencana alam selain manusia adalah cagar budaya (CB) serta objek yang diduga menjadi cagar budaya (ODCB). Oleh karena itu, terdapat hubungan erat antara pentingnya menjaga lingkungan dan pelestarian objek warisan budaya.
Maria berharap pertemuan terbaru Kandang Kebo dapat menghasilkan ide dan strategi untuk merancang pendekatan konservasi yang didasarkan pada kebijaksanaan masa lalu. Strategi ini dapat digunakan untuk menghadapi tantangan saat ini dan menyongsong masa depan.
Selain Goenawan, pada acara tersebut juga hadir dua pembicara lainnya: Yustinus Suranto yang dikenal sebagai tokoh sekaligus penggemar kayu budaya Nusantara dan Dyahning Retnowati dari BKSDA DIY.
Sesi pertemuan ditutup dengan kegiatan penanaman benih pohon bersama. Dalam suasana mendung dan suhu siang yang cukup panas, puluhan peserta pertemuan tampak antusias dalam menggali lubang dan menanam akar tanaman di dalamnya.
Sedangkan ratusan bibit pohon yang ditanam berasal dari sumbangan dari
- Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai Serayu, Opak, dan Progo;
- Pekarangan Perkembangbiakan Kelompok Penggemar Alam Banyugiri, Pakis, Magelang;
- Masyarakat Ficus Indonesia Kediri;
- Komunitas Taman Lestari;
- Pak Kliwon (Komunitas Penggemar Sungai Winongo);
Agus Hendratno.
Mengenai Kandang Kebo, Maria menyampaikan bahwa komunitas yang dipimpinnya dibentuk pada tahun 2015 dan fokus pada pelestarian budaya.
"Nama Kandang Kebo sendiri menggambarkan kami sebagai orang yang bodoh, tetapi bersedia belajar, sekaligus mengingatkan kita pada simbol kesederhanaan, ketekunan, serta kekuatan kerja sama masyarakat agraris," kata Maria.
Ia mengatakan Kandang Kebo secara rutin mengadakan kegiatan blusukan ke lokasi situs warisan budaya serta menyelenggarakan pertemuan diskusi. Menurutnya, Kandang Kebo berkomitmen menjadi tempat belajar, berkarya, dan menjadi wadah penyebaran budaya bagi kalangan pemuda.
Makam yang Tidak Menyeramkan
Makam Seniman Girisapto, yang menjadi tempat berkumpulnya para seniman, berada di sebuah bukit di Imogiri, yaitu di seberang Makam Raja-Raja Mataram. Makam ini dibuat oleh Saptohoedojo, seorang tokoh utama seni rupa Indonesia.
Berdasarkan pantauan news, terdapat beberapa seniman terkenal dari Yogyakarta yang dimakamkan di sini, seperti pelukis Djoko Pekik (meninggal 2023) dan seniman ketoprak Bondan Nusantara (meninggal 2022).
Yani Saptohoedojo, istri dari Saptohoedojo, menjelaskan alasan dibangunnya makam khusus yang luasnya sekitar 5 hektare.
"Kuburan Seniman disajikan sebagai penghormatan bagi para seniman dan tokoh budaya yang telah memberikan dedikasinya untuk negara serta memperkenalkan nama baik melalui karyanya," kata Yani yang sempat hadir dalam pertemuan tersebut.
Karena para seniman menyukai keindahan, maka makam tersebut tidak dibuat menyeramkan, melainkan dibuat indah agar mereka yang datang merasa bahwa hidup seniman itu penuh keindahan. Setelah wafat pun, keindahan tetap terjaga.
Yani mengatakan bahwa makam mulai dibangun pada tahun 1981. Sebelumnya, Saptohoedojo telah memohon izin terlebih dahulu kepada Sultan Hamengku Buwono IX karena Makam Seniman dibangun di dekat Makam Raja-Raja Mataram.
"Setelah mendapat izin, Pak Sapto membeli tanah ini dengan menukar yang lebih luas, dua kali lipat," kata Yani.
Istri almarhum Saptohoedojo mengatakan sebelumnya kondisi di makam sangat kering sehingga ditanam pohon-pohon di tempat tersebut.