
Ringkasan Berita:
- Namun secara batin, Pegayon lahir jauh sebelum itu muncul dari kegelisahan, kerinduan, serta kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya.
- Seiring berjalannya waktu, Pegayon berkembang menjadi sebuah papan nama budaya Gayo.
- Dari komunitas, berubah menjadi lembaga. Dari lembaga, berkembang menjadi desa.
- Pegayon merupakan bukti bahwa budaya yang dijaga dengan penuh kasih akan selalu menemukan jalan untuk kembali dan berkembang di tanah airnya sendiri.
Liputan Jurnalis Gayo Fikar W Eda | Aceh Tengah
Gayo.com, TAKENGON -Pegayon hari ini bukan hanya nama sebuah komunitas seni.
Ia telah menjadi tanda pengingat jalan pulang sebuah pusat budaya yang awalnya berkembang di Jakarta, kemudian menyebar ke seluruh Tanah Gayo.
Yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, bahkan pernah muncul di Banda Aceh, Lhokseumawe, serta kota-kota lainnya.
Pegayon merupakan cerita mengenai anak-anak Gayo yang tumbuh di kota besar, tetapi tetap menjaga hubungannya dengan asalnya.
Pegayon dipimpin oleh Ansari Jamal yang kini lebih dikenal sebagai Azzam Pegayon bersama teman-temannya:
Rio Pegayon dan generasi muda Gayo yang lahir serta berkembang di Jakarta.
Mereka mengatur kembali setiap helai akar tersebut melalui seni dan budaya.
Akar Gayo. Identitas seorang manusia yang paham dengan jelas dari mana ia berasal.
Secara institusional, Pegayon berdiri teguh dengan nama Yayasan Pegayon Darussalam, tercatat secara resmi pada 3 Januari 2017 sesuai dengan Akta Notaris Eka Astri Maerisa SH MH MKn beserta Surat Keputusan Menkumham yang menyertai.
Namun secara batin, Pegayon lahir jauh sebelum itu muncul dari kegelisahan, kerinduan, dan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya.
Yayasan Pegayon Darussalam dibentuk oleh Tgk Anshari Jamal, AMd Par SPdI MM. Karim Enal Oteh Al Gayoni, Fikrio Indra Putra, Fauzul Abadi, Ajli Rahmandi, dan Rahmat Miko.
Momentum kelahirannya berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Kamis, 27 Oktober 2016, saat mereka mewakili Gayo, Provinsi Aceh menampilkan Tari Guel dalam Perayaan dan Penyerahan Sertifikat Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Kebudayaan Gayo
Seiring waktu, Pegayon berkembang menjadi sebuah papan nama kebudayaan Gayo.
Ia melahirkan berbagai kreativitas yang mengharumkan nama Gayo, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
Pada tanggal 14 hingga 25 Desember 2018, Pegayon tampil dalam Festival Seni Rakyat Dunia yang diadakan di Turki, acara yang diikuti oleh 15 negara.
Gayo menyampaikan pesan kepada dunia melalui gerakan, irama, dan semangat tradisi.
Tidak berhenti sampai di situ, Pegayon juga membuka jalan yang lebih terpencil namun lebih dalam:
Berdirinya Pesantren Pegayon yang berada di Buntul Sara Ine, Km 42 Jalan KKA, wilayah perbatasan antara Aceh Utara dan Bener Meriah.
Di tempat ini, Festival Kopi Gayo Desember 2023 pernah diadakan—sebuah pertemuan antara kopi, seni, dan kenangan bersama.
Jejak Pegayon tidak dapat dipisahkan dari kisah luka dan ketangguhan masyarakat setempat.
Perang di Aceh pada tahun 1999 hingga 2000, yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka dan TNI, menyebabkan banyak penduduk mengungsi dari kampung halaman mereka.
Pak Senang Aman Sus merupakan salah satu tokoh penting yang tak terpisahkan dari sejarah Dusun Kem dan Buntul Sara Ine, kawasan yang termasuk dalam Desa Seni Antara, Bener Meriah.
Kedua dusun itu pernah hangus menjadi abu. Penduduk mengungsi, kampung ditinggalkan.
Hanya tersisa satu musholla yang berdiri sendirian di antara sisa rumah dan lahan pertanian. Pak Senang beserta keluarganya berusaha bertahan, tidak ingin meninggalkannya.
"Tetapi situasi semakin memprihatinkan, membuat kami seluruh keluarga tidak mampu," kenangnya.
Ia mengalami penganiayaan. Bersama istrinya dan tiga anaknya, Tuan Senang berjalan kaki melewati hutan dari Kem menuju Tapanuli, Sumatera Utara, demi menyelamatkan hidup mereka.
Hanya setelah Perjanjian Helsinki ditandatangani pada 15 Agustus 2005, ia kembali ke kampung halamannya.
Tiga tahun setelahnya, pada tahun 2008, Tuan Senang dan istrinya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil serta bertugas sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri Seni Antara.
Selain itu, Tuan Senang merupakan seorang seniman dongeng, terampil dalam membacakan puisi dan irama tradisional.
Dalam perayaan Hari Ulang Tahun Bener Meriah 2022, ia tampil berdidong bersama seluruh kepala sekolah di Bener Meriah—sebuah tanda bahwa seni tetap bertahan melalui para guru.
Saat tiba di Kem pada tahun 1988, daerah tersebut masih berupa hutan yang belum terjamah.
Kem dan Buntul Sara Ine bersebelahan.
Lima tahun setelahnya, tepatnya pada 19 Juli 1993, berdirilah SD Swasta Buntul Sara Ine yang menjadi tanda awal pemulihan kehidupan.
Maka ketika mendengar Buntul Sara Ine dipilih sebagai lokasi Desember Kopi Gayo 2023, Pak Senang merasa sangat bahagia.
"Desa ini harus kita pulihkan dan kembalikan semangatnya. Salah satu caranya melalui seni," katanya.
Hari ini, Pegayon bukan hanya nama sebuah sanggar atau organisasi. Ia telah menjadi nama sebuah dusun, atau dalam bahasa Aceh disebut jurong.
Lengkapnya: Jurong Kem Pegayon, KM 42, Desa Alue Dua, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.
"Ya, kami memasuki wilayah Aceh Utara. Ini sesuai dengan GPS dan titik koordinat," ujar Azzam Pegayon.
Lokasi Jurong Kem Pegayon terletak di koordinat VVHX+8V6, berada di tengah hutan Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.
Di lokasi ini masih terdapat sebuah mushola, bernama Mushala Muyang Mersah Asal, yang dibangun antara tahun 1986 hingga pertengahan 1990-an.
Pada masa itu, bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam dan secara rutin menyelenggarakan shalat Jumat untuk warga sekitar.
Masjid Satu-satunya Gedung yang Tahan Lama
Menurut Azzam Pegayon, pimpinan pesantren Pegayon, mushala ini adalah satu-satunya bangunan yang masih bertahan dari seluruh struktur yang ada saat peristiwa pembakaran dalam konflik Aceh.
Saat ini, mushola tersebut sudah tidak layak digunakan sebagai tempat beribadah.
Namun demikian, siswa madrasah Pegayon tetap memanfaatkan ruang mushala sebagai tempat belajar dan bermain, meskipun tidak memiliki fasilitas pendukung dan permainan yang cukup.
Azzam Pegayon kepada Gayo.com, menjelaskan bahwa secara status, Mushala Muyang Mersah Asal berdiri di atas tanah wakaf yang dimiliki oleh penduduk asli Buntul Sara Ine, yang diwakafkan sebelum masa konflik.
Wakaf tersebut hingga saat ini masih berlaku, meskipun para pewakaf dan masyarakatnya sudah lama meninggalkan kawasan tersebut karena konflik yang terus berlangsung.
Sampai saat ini, Mushola Muyang Mersah Asal masih dalam keadaan tanpa pasokan listrik, tanpa bantuan, serta tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Keadaan tersebut membuat Mushala Muyang Mersah Asal bukan hanya tempat ibadah yang terlantar.
Namun, hal ini juga mencerminkan dampak jangka panjang dari konflik, ketidakjelasan batas wilayah, serta ketidakseimbangan pelayanan publik yang masih dirasakan oleh masyarakat hingga kini.
Dari komunitas, berubah menjadi lembaga. Dari lembaga, berkembang menjadi desa.
Pegayon merupakan bukti bahwa kebudayaan yang dijaga dengan penuh kasih akan selalu menemukan jalan untuk kembali dan berkembang di tanah airnya sendiri. (*)