Sejarah Gempa Bumi Yogyakarta Sejak 1840 -->

Sejarah Gempa Bumi Yogyakarta Sejak 1840

28 Jan 2026, Rabu, Januari 28, 2026

Gempa bumi kembali mengguncang Yogyakarta. Peristiwa gempa pertama yang tercatat di Yogyakarta terjadi pada tahun 1840.

---

Bengkalispos.com hadir di channel WhatsApp, ikuti dan peroleh berita terbaru kami di sini.

---

Bengkalispos.comOnline.com -Yogyakarta kembali dilanda gempa bumi. Pada hari Selasa, 27 Januari 2025, gempa dengan kekuatan 4,4 skala Richter mengguncang Kota Pelajar tersebut sekitar pukul 13.15 WIB.

Berdasarkan data yang diberikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), titik episentrum gempa berada pada koordinat 7,87 Lintang Selatan dan 110,49 Bujur Timur.

Episentrum gempa terletak sekitar 15 kilometer arah timur laut Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan kedalaman 11 kilometer.

Masih menurut keterangan dari BMKG, "Disclaimer: Informasi ini berfokus pada kecepatan, sehingga hasil pemrosesan data belum stabil dan dapat berubah seiring dengan kelengkapan data," tulis BMKG. Berdasarkan laporan kontributor Kompas.com di DIY, gempa terasa kuat di Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta.

Mengapa daerah Yogyakarta sering dilanda gempa?

Kita juga penasaran, mengapa daerah Yogyakarta sering dilanda gempa bumi?

Gempa bumi di Yogyakarta sering terjadi. Beberapa di antaranya menyebabkan korban jiwa yang cukup banyak – misalnya Gempa Jogja 2006 sebelumnya.

Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, seperti yang dilaporkan oleh Kompas.com, penyebab seringnya wilayah Yogyakarta mengalami gempa adalah karena kawasan ini termasuk dalam sistem aktif dan kompleks, karena adanya sumber gempa yang berpotensi baik dari laut maupun daratan.

"Dari laut terdapat wilayah subduksi yang memiliki kemampuan mencapai kekuatan gempa sebesar 8,7 dan di daratan terdapat patahan Opak yang cukup aktif serta mampu menghasilkan gempa dengan kekuatan maksimal 6,6," katanya.

Sesar Opak merupakan retakan yang terletak di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya di sekitar aliran Sungai Opak. Sesar Opak memiliki arah timur laut-barat daya, di mana blok sebelah timur bergerak ke utara dan blok sebelah barat bergerak ke selatan.

Lebar patahan Opak diperkirakan sekitar 2,5 kilometer. Patahan ini menjadi batas utama antara Lajur Batur Agung dengan dataran rendah Yogyakarta. Sesar ini mulai diketahui oleh masyarakat setelah gempa bumi terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006.

Menurut catatan sejarah, zona megathrustDi Yogyakarta telah terjadi gempa bumi sebanyak 12 kali sejak tahun 1800. Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa zona subduksi di selatan Jawa masih dalam kondisi aktif.

BMKG mencatat, di wilayah selatan Jawa, gempa bumi pernah diikuti oleh tsunami sebanyak 8 kali, yaitu pada tahun 1818, 1840, 1859, 1904, 1921, 1957, 1994, dan 2006 di Banyuwangi serta Pangandaran. "Ini adalah data penting mengenai risiko dan ancaman gempa di selatan Yogyakarta serta seluruh wilayah selatan Jawa," ujar Daryono.

Sejarah gempa yogyakarta

  1. Gempa Yogyakarta 1840

Gempa bumi pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Gempa Yogyakarta pada tahun 1840. Berdasarkan penelitian Newcomb dan McCann (1987), gempa berdampak kerusakan di Yogyakarta terjadi pada 4 Januari 1840, dengan wilayah yang terkena dampak antara lain Kebumen, Purworejo, Bantul, Salatiga, Demak, Semarang, Kendal, dan Banjarnegara.

  1. Gempa Bumi Bantul pada 10 Juni 1867

BMKG mencatat gempa yang merusak di Bantul pada masa itu menyebabkan ribuan rumah rusak dan lebih dari 500 jiwa meninggal. Guncangan gempa juga terasa di Klaten, Salatiga, dan Sragen.

  1. Gempa Bumi Yogyakarta 23 Juli 1943

Gempa bumi pada masa tersebut sangat merusak, bukan hanya terjadi di wilayah Bantul, Yogyakarta. Namun, beberapa kota seperti Cilacap, Tegal, Purwokerto, Kebumen, Purworejo, Bantul, dan Pacitan mengalami kerusakan pada bangunan.

Gempa besar yang tercatat dalam sejarah gempa Yogyakarta pada tahun 1943 juga menewaskan 213 orang, dengan jumlah korban luka mencapai 2.096 orang dan paling sedikit 15.275 rumah mengalami kerusakan.

  1. Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006

Gempa Yogyakarta yang terjadi pada 27 Mei 2006 merupakan peristiwa gempa bumi yang terkenal dalam sejarah gempa yang merusak kota tersebut. Meskipun kekuatannya tidak terlalu besar, yaitu sebesar M 6,4, gempa ini tidak hanya menyebabkan kerusakan berat pada bangunan di wilayah Bantul dan kota-kota sekitar Yogyakarta, tetapi juga menewaskan lebih dari 6.000 orang.

Daryono menyatakan bahwa ini adalah catatan sejarah gempa yang penting mengenai kemungkinan terjadinya gempa bumi di Yogyakarta, serta wilayah selatan Jawa secara umum. "Gempa semalam merupakan peringatan yang mengingatkan kita bahwa zona subduksi di selatan Jawa memang masih aktif," ujar Daryono.

TerPopuler