
LEBAK, Bengkalispos.com- Video mengenai paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berisi telur mentah yang dibagikan kepada siswa SMA Negeri 1 Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten, menyebar luas di media sosial. Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan bahwa mereka telah mengambil tindakan terkait kejadian ini dan memberikan penjelasan.
Video yang beredar sejak Jumat (23/1/2026) menampilkan paket makanan MBG yang diterima siswa dalam keadaan tidak layak untuk dimakan, dengan telur dan jagung masih mentah. Dalam rekaman yang berlangsung sekitar 33 detik, seorang guru mengkritik kelayakan makanan tersebut karena sekolah tidak memiliki fasilitas memasak.
"Kondisi makanan MBG di SMA 1 Cigemblong tidak layak. Telurnya masih mentah, begitu juga dengan jagungnya. Apakah siswa harus memasak sendiri? Dari mana kompor yang digunakan untuk memasak di sekolah?" ujar seorang guru dalam rekaman video yang beredar.
Saat ditanyai, pihak sekolah mengonfirmasi kejadian tersebut. Wakil Kepala Sekolah sekaligus Humas SMA Negeri 1 Cigemblong, Pepi Habibi, menyampaikan bahwa kondisi telur mentah baru diketahui setelah makanan dibagikan ke kelas dan dibuka oleh para siswa.
"Setelah dipecahkan, telurnya masih mentah dan berbau tengik. Sekitar 100 porsi yang bermasalah dari total 227 siswa penerima MBG pada hari itu," kata Pepi saat dihubungi melalui panggilan telepon, Minggu (25/1/2026).
Temuan Lalat hingga Buah Berlendir
Pepi menambahkan, kejadian ini bukan yang pertama terjadi sejak pelaksanaan program MBG di sekolahnya sejak Januari 2026. Pihak sekolah mencatat paling sedikit tiga insiden makanan yang dianggap tidak layak untuk dikonsumsi.
"Pertama, pada tanggal 12 Januari ditemukan belatung di dalam sayuran. Kedua, buah melon yang dibagikan sudah mengeluarkan lendir. Ketiga, telur mentah kemarin. Kejadian ini terulang kembali," katanya.
Menurut Pepi, pihak sekolah telah beberapa kali memberikan keberatan dan peringatan kepada penyedia makanan. Namun, masalah yang sama tetap terulang kembali.
"Yang menjadi kekhawatiran kami adalah keselamatan para siswa. Jika terjadi keracunan, siapa yang akan menanggung jawab?" kata dia.
Klarifikasi Penyedia Makanan
Di sisi lain, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Amanah Permas Agung selaku pihak yang menyediakan makanan memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut. Kepala Dapur SPPG, Rasudin, menyatakan bahwa kejadian telur mentah terjadi karena kesalahan dalam proses pengambilan dan pengemasan makanan.
"Telur mentah berada di dekat telur yang telah matang. Saat dipindahkan dari area pengolahan ke tempat persiapan dan pengemasan, telur tersebut tercampur," kata Rasudin dalam rekaman video yang dikirimkan kepada Bengkalispos.com, Minggu.
Ia menjelaskan, berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV), telur mentah dan telur matang terdapat dalam satu wadah. Saat kejadian, petugas memasak tidak berada di lokasi sehingga relawan mengira telur tersebut sudah matang.
"Berat telur yang tertukar sekitar 15 kilogram. Ini bukan disengaja, melainkan kesalahan dalam proses kerja," katanya.
Evaluasi Badan Gizi Nasional
Mengenai temuan sebelumnya, Rasudin mengakui adanya beberapa kejadian pada bahan makanan lain. Namun, ia menyatakan bahwa setiap peristiwa memiliki penyebab yang berbeda dan terkait dengan proses penyesuaian operasional dapur yang masih dalam tahap awal.
Di sisi lain, Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengakui kejadian tersebut dan menyatakan telah dilakukan tindakan selanjutnya.
"Benar, kejadian itu terjadi pada Jumat (23/1). Kami sudah menangani dan berkoordinasi dengan Kepala SPPG," ujar Asep saat dihubungi.
Asep menambahkan, BGN Kabupaten Lebak telah menyusun laporan khusus mengenai peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program MBG di masa depan agar kualitas makanan bagi siswa tetap terjaga dan aman untuk dikonsumsi.