Waktu Mohamad Roem Diberi Amulet oleh Bung Karno dan Jenderal Sudirman untuk Diplomasi -->

Waktu Mohamad Roem Diberi Amulet oleh Bung Karno dan Jenderal Sudirman untuk Diplomasi

18 Jan 2026, Minggu, Januari 18, 2026

Mohammad Roem menceritakan pernah menerima bantuan berupa jimat dari seorang dukun atas perintah Bung Karno dan Jenderal Soedirman. Istrinya mencari solusinya.

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Bengkalispos.com edisi Februari 1971 dengan judul "Jimat Diplomat" | Penulis: Mohammad Roem

---

Bengkalispos.com hadir di channel WhatsApp, ikuti dan peroleh berita terbaru kami di sini.

---

Bengkalispos.comOnline.com -Pada Majalah Bengkalispos.comedisi Februari 1971, Mohammad Roem menceritakan pengalamannya memperoleh jimat dari seorang dukun berdasarkan perintah Presiden Sukarno yang disaksikan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Saat itu, Tuan Roem menjabat sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam negosiasi dengan Belanda sebagai pelaksanaan Perjanjian Renville. Proses negosiasi tersebut berjalan lambat. Oleh karena itu, kedua pemimpin bangsa tersebut merasa perlu untuk memperkuat semangat Mohammad Roem.

Yang menarik, Mohammad Roem sempat bingung dalam mencoba melepaskan diri dari jimat tersebut. Karena dia diberitahu bahwa jimat itu tidak boleh terpisah darinya. Secara tidak sengaja, Nyonya Roem memberikan "jalan keluar".

Bagaimana ceritanya?

“...

Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa saya akan kembali menggunakan jimat dalam hidup saya. Alangkah baiknya ayah memberi saya pelajaran bagaimana menghadapinya, meskipun ayah mengatakan bahwa tidak perlu percaya pada jimat. Saat itu saya teringat dengan pelajaran ayah mengenai menghormati keyakinan nenek. Presiden dan Panglima Besar tentu harus saya hormati, mungkin lebih dari apa yang saya lakukan terhadap nenek.

Komandan Utama menambahkan, "Benda ini tidak boleh terpisah dari Saudara. Di sanalah letak kekuatannya, jika hilang, kekuatan bisa berbalik. Lindungilah dengan sebaik-baiknya."

Karena sang dukun berdiri saat menyampaikan jimat tersebut, saya pun berdiri menerima benda itu, lalu langsung saya masukkan ke saku celana. Untuk pakaian sehari-hari di Yogyakarta pada masa itu, saku celana merupakan tempat yang paling cocok.

Letakkan di saku jas," kata Jenderal Besar. "Saku di celana terlalu tidak sopan.

Tanpa berpikir panjang, saya menjawab, "Celana saya tidak kurang hormat dibanding kemeja. Barang-barang penting dan berharga, saya simpan di celana. Saku kemeja tidak aman, mudah terjatuh."

Saya senang melihat bahwa saya berhasil meyakinkan Jenderal Besar bahwa celana tempat menyimpan adalah yang paling aman.

Setelah berbincang dalam suasana yang hangat, saya pun pamit dari Panglima Besar. Kembali ke kantor delegasi, saya memikirkan apa yang akan saya sampaikan kepada Mas Karim (Mr. Karim Pringgodigdo, sekretaris jenderal delegasi) jika dia bertanya tentang apa yang dibicarakan dengan Presiden. Saya akan mengatakan bahwa Presiden ingin membahas beberapa hal terkait personel dari Masyumi dengan saya.

Sementara itu, saya berhasil, berkat pelajaran dari ayah dalam menghadapi jimat yang kedua ini. Namun dulu, ayah yang menyelesaikannya. Sekarang ayah sudah tiada. Jika saya membuang jimat itu, tidak ada yang akan tahu. Presiden dan Panglima Besar tidak akan bertanya. Tapi bagi saya sendiri, hal itu terasa kurang menghormati dua pejabat tinggi negara kita. Maka selama beberapa hari, jimat itu tidak pernah lepas dari saya, disimpan dengan aman di saku celana sebagai rahasia besar.

Perundingan berlangsung sangat lambat. Kondisi tersebut hampir mirip dengan Agresi Militer yang kedua. Pada suatu hari, seorang Amerika, yang merupakan penasihat dari Komite Kebaikan, berkata, "Saya benar-benar marah. Orang Belanda terlalu memperhatikan hukum, tapi"You are wonderfulKalian bisa menghadapi Belanda dengan pendekatan yang legalistik juga.

Meskipun saya menyadari memiliki jimat di saku celana, saya berkata, "Apakah Anda tahu bahwa semua anggota delegasi kami, mulai dari usia enam tahun, telah belajar dari Belanda tentang berbagai ilmu pengetahuan yang kami kuasai."

Pada hari Minggu setelah saya mendapatkan talisman tersebut, saya tidak perlu keluar rumah pagi-pagi. Rapat Masyumi akan diadakan pukul 10.00 saja. Saya menikmati pagi yang sejuk sambil sedikit bersantai.

Sekitar pukul 10.00 setelah mandi dan sarapan, saya akhirnya pergi ke kamar untuk berpakaian. Betapa kagetnya saya ketika melihat bahwa bukan hanya jimat yang hilang, tetapi seluruh celana saya juga telah menghilang.

Saya berlari ke belakang dan bertanya pada istri saya di mana celana saya. Istri saya, yang agak kaget melihat saya bingung, menjawab, "Dibersihkan dan sekarang masih basah ada di belakang." Dengan marah saya berkata, "Mengapa sudah dicuci, 'kan belum waktunya." Istri saya juga marah. "Kalau tidak boleh dicuci, jangan dibiarkan di lantai."

Saya masih merasa marah. "Saya tidak melemparkannya ke lantai, mungkin celana itu jatuh dari gantungan. Istri saya semakin kesal. "Siapa yang tahu kalau celana itu jatuh."

Saya berlari ke tempat menjemur dan melihat air masih menetes dari celana tersebut. Selanjutnya, saya masukkan tangan saya ke saku celana dan keluarkan tangan itu dengan bekas ikatan jimat. Saya masukkan kembali tangan saya ke saku dan setelah meraba-raba, saya merasa bahwa jimat itu telah hancur. Saya keluarkan tangan saya yang membawa sebagian kertas yang rusak. Bubuk kertas itu saya buang. Saya melakukan hal ini beberapa kali, yang diperhatikan dengan cermat oleh istri saya.

Istriku masih merasa tidak puas, karena aku marah tanpa alasan. Dengan nada kesal dia mengatakan, "Kertas sudah rusak masih disimpan di saku celana."

"Bagian dokumen yang sangat rahasia dalam negosiasi," kata saya. Saya menyesal karena marah tanpa bisa bertanggung jawab. Tapi pada saat itu saya belum mampu menjelaskan semuanya kepadanya. Ketika saya diberi celana lain dari lemari oleh istri saya, saya merasa lega.

Jika saya mengingat kembali, memang tidak pernah terpikir oleh saya bagaimana cara menyelesaikan jimat, seperti yang dilakukan ayah saya dalam menyelesaikan jimat yang pertama. Saya tidak bisa membayangkan sampai kapan saya akan "tidak boleh melepaskan jimat itu".

Muncul dalam pikiran untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Presiden dan Panglima Besar agar mendapatkan jimat yang baru. Namun, pikiran ini saya abaikan, karena tidak sesuai dengan pandangan hidup saya.

…”

TerPopuler