
Liputan Jurnalis news.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Gaza terus mengalami penurunan kondisi akibat serangan udara yang berlangsung dan keterbatasan akses terhadap bantuan.
- Mayoritas penduduk masih tinggal di tempat pengungsian.
- Kondisi tempat tinggal yang dianggap tidak aman dan memiliki potensi bahaya terhadap keselamatan.
NEWS.COM, JAKARTA – Kondisi kemanusiaan di Wilayah Gaza semakin memburuk seiring dengan terus berlangsungnya serangan udara dan kurangnya akses terhadap bantuan.
Mayoritas penduduk masih tinggal di pengungsian dengan kondisi tempat tinggal yang dianggap tidak aman dan memiliki potensi bahaya bagi keselamatan mereka.
Laporan terbaru mengenai situasi kemanusiaan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyebutkan bahwa setidaknya dua per tiga penduduk Gaza, sekitar 1,4 juta orang, kini tinggal di sekitar 1.000 titik pengungsian.
Tenda Darurat dan Perumahan Berisiko Ambruk
Mayoritas pengungsi tinggal di lebih dari 800 titik darurat yang berupa kumpulan tenda tidak resmi di area terbuka. Banyak keluarga juga mencari perlindungan di bangunan rusak yang berpotensi ambruk.
Pada bulan Januari yang lalu, lebih dari 85.000 keluarga mendapatkan bantuan perumahan.
Namun, bantuan kemanusiaan masih sangat bergantung pada tenda yang memiliki daya tahan terbatas karena bahan untuk solusi tempat tinggal jangka panjang belum bisa masuk secara memadai.
"Sebagian besar penduduk Gaza terus berpindah tempat, dan banyak dari mereka menghadapi kondisi yang sangat memprihatinkan," demikian dilaporkan oleh situs resmi United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA), Sabtu (14/2/2026).
Sebanyak 230 kepala keluarga diberitakan tinggal di bangunan yang memiliki potensi bahaya ambruk.
Tim kemanusiaan terus mengevaluasi kebutuhan mereka serta memberikan pilihan pemindahan bagi keluarga yang ingin pindah.
Ancaman Bahan Peledak dan Bahaya Perlindungan
Kehidupan yang berat memaksa sebagian penduduk mencari kebutuhan dasar di tengah puing-puing.
Kondisi ini memperbesar paparan terhadap bahan peledak yang tersisa dari konflik.
"Anak-anak tetap terpapar bahan peledak dan lansia menghadapi peningkatan risiko kesehatan serta kesulitan dalam memperoleh perawatan dan bantuan," tambah OCHA, Sabtu (14/2/2026).
Setelah perjanjian gencatan senjata pada Oktober 2025, mitra penanganan ranjau mencatat 33 kejadian bahan peledak yang mengakibatkan sembilan kematian dan 65 luka, termasuk anak-anak.
Lebih dari 700 benda yang diduga merupakan alat peledak telah dikenali sebagai bahaya bagi penduduk sipil sejak Oktober 2023.
Tim kemanusiaan memperkuat pemahaman tentang bahaya bahan peledak dan telah memberikan edukasi kepada lebih dari 600.000 orang melalui kegiatan pelatihan keselamatan.
Dampak Psikologis dan Kelompok Rentan
Pengungsian yang berlangsung lama memperbesar tekanan psikologis dan risiko perlindungan, seperti kekerasan berdasarkan jenis kelamin serta ketegangan antar masyarakat.
Kelompok yang rentan seperti janda, keluarga dengan anak-anak, orang dengan disabilitas, serta rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan mengalami risiko yang lebih tinggi.
Di bulan Januari, 46 anak yang tidak memiliki pendamping berhasil dikembalikan kepada keluarganya, sedangkan 74 anak lainnya ditempatkan di lingkungan perawatan alternatif sambil menunggu proses pencarian keluarga.
Saat ini, terdapat 217 ruang yang ramah anak beroperasi guna memberikan dukungan psikososial.
Penilaian terkini dari HelpAge International menunjukkan bahwa para lansia pengungsi menghadapi kesulitan yang besar.
Banyak di antara mereka menjalani hidup dengan kondisi penyakit yang terus-menerus dan menghadapi kesulitan dalam memperoleh makanan, obat-obatan, serta akses layanan kesehatan.
Serangan udara dan kegiatan militer terus dilaporkan berlangsung di berbagai daerah di Gaza.
Kondisi ini memperparah situasi para pengungsi yang telah tinggal dalam keterbatasan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan pokok.
"Pengungsian yang terus-menerus dan kondisi hidup yang semakin buruk memperbesar tekanan psikologis serta risiko perlindungan," tutup UN OCHA.