
Ringkasan Berita:
- Pembunuhan ayah oleh anak di Karawang diduga disebabkan oleh trauma KDRT sejak kecil; pelaku mengakui memiliki rasa takut dan marah sejak usia Taman Kanak-Kanak serta sering menyaksikan ayah melakukan kekerasan terhadap ibunya.
- Saat malam sebelum kejadian, tersangka mengalami mimpi buruk setelah membaca berita tentang kekerasan dalam rumah tangga, lalu dalam keadaan panik mengambil pisau dan menusuk ayahnya yang sedang tertidur.
- UPTD PPA Karawang memberikan pendampingan psikologis kepada pelaku meskipun memiliki status sebagai tersangka hukum.
Laporan Muhammad Azzam
BEKASI.COM, KARAWANG-Insiden penusukan yang dilakukan seorang anak terhadap ayah kandungnya di Kabupaten Karawang diduga disebabkan oleh trauma akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami pelaku sejak usia muda.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Karawang, Karina Nur Regina menyampaikan, pihaknya segera berkomunikasi dengan Kepolisian guna mengunjungi anak tersebut.
Tujuannya adalah untuk mengumpulkan keterangan dan memberikan bimbingan
"Berdasarkan pengakuan anak dengan inisial B, ia mengaku telah menyimpan rasa marah dan takut sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK)," ujar Karina pada Sabtu (31/1/2026).
Ia menjelaskan, kekerasan yang dialaminya tidak hanya terjadi pada dirinya sendiri, tetapi juga sering dilakukan ayah kandung terhadap ibunya.
"Sejak kecil, B mengalami trauma akibat kekerasan dalam keluarga. Kekerasan tersebut ia lihat dan alami secara langsung," kata dia.
Malam sebelum kejadian, B sempat membaca beberapa artikel berita mengenai kasus seorang ayah yang menusuk anaknya. Bacaan tersebut akhirnya masuk ke dalam pikiran bawah sadar.
Saat sedang tidur, B mengalami mimpi buruk. Dalam mimpinya, ia melihat ayahnya membawa pisau dan menikam dirinya saat sedang tertidur.
"Ketakutan B membuatnya terbangun dalam keadaan sangat cemas. Ia merasa apa yang terjadi dalam mimpinya benar-benar bisa terwujud," kata Karina.
Dalam keadaan mental yang tidak stabil, rasa takut dan luka lama yang selama ini tersimpan kembali muncul. B kemudian berpikir bahwa jika kejadian dalam impiannya itu terjadi di dunia nyata, lebih baik ia melakukan hal tersebut lebih dulu.
"Dari pengakuannya, setelah bangun dari mimpi buruk itu langsung mengambil pisau dan pergi ke kamar ayahnya. Di sanalah kejadian terjadi," kata Karina.
Setelah kejadian tersebut, B mengakui menyesal atas tindakannya. Namun secara emosional, ia mengaku tidak mampu menangis atau mengekspresikan perasaannya seperti biasanya.
Menurut Karina, rasa menyesal terbesar dirasakan oleh B karena adiknya turut menyaksikan kejadian tersebut. Adik B diketahui mengikuti B ke kamar ayah mereka dan menyaksikan langsung peristiwa penusukan.
"B pernah bertanya kepada adiknya apakah tindakannya itu benar. Adiknya menjawab bahwa apa yang dilakukan B adalah salah. Dari sana, B merasa sangat menyesal karena mengecewakan adiknya," jelas Karina.
Saat ini, UPTD PPA Kabupaten Karawang terus memberikan bantuan psikologis kepada B. Pendampingan tersebut juga akan diperluas melalui rencana pertemuan bersama ibu kandung B untuk mengeksplorasi lebih lanjut sejarah kekerasan dalam rumah tangga yang dialami keluarga tersebut.
"Walaupun anak ini terlibat sebagai pelaku, kami tetap memberikan dukungan secara psikologis serta dalam proses hukumnya," ujarnya.
Warga Perumahan Rumah Dinas Peruri, Desa Telukjambe, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang dikejutkan dengan tindakan seorang anak yang membunuh ayahnya sendiri, pada Rabu (28/1/2026).
Korban dengan inisial R, berusia 44 tahun, merupakan karyawan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Peruri, meninggal dunia akibat tindakan anaknya sendiri yang masih di bawah umur, dengan inisial B dan status sebagai pelajar.
Mengenai hal tersebut, Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan mengonfirmasi hal itu.
Mereka melalui Unit Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pidana Perlindungan Orang (PPO) telah melakukan pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP) terkait kejadian tersebut.
Ya, benar, korban sempat dibawa ke rumah sakit. Namun, dinyatakan telah meninggal," ujar Wildan saat dihubungi pada Rabu (28/1/2026).
Wildan menjelaskan, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 03.30 WIB di Perumahan Dinas Peruri Desa Telukjambe.
Korban diketahui bernama RA mengalami beberapa luka parah akibat serangan benda tajam.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, tersangka pelaku yang masih duduk di bangku SMA, merupakan anak dari korban. Pelaku diduga melakukan serangan dengan menggunakan sebilah pisau dapur.
Berdasarkan keterangan sementara, kejadian dimulai ketika tersangka terbangun dari tidurnya dan mengalami mimpi buruk yang melibatkan korban beserta ibunya.
Pelaku akhirnya merasa takut jika mimpi itu menjadi kenyataan, sehingga mengambil pisau dapur dan pergi ke kamar korban yang sedang tertidur.
"Dalam ruangan yang gelap, tersangka diduga langsung menyerang korban dengan memotong bagian bawah telinga hingga ke belakang leher. Korban yang terbangun dalam kondisi berlumuran darah sempat keluar kamar dan meminta bantuan sebelum akhirnya jatuh di depan rumah," ujarnya.
Saksi yang mendengar keributan kemudian pergi ke lokasi dan menemukan korban mengalami luka sobek di bagian wajah hingga leher, dada, serta kaki sebelah kiri.
Korban segera dibawa ke Rumah Sakit Primaya untuk menerima perawatan medis, sementara tersangka pelaku ditangkap oleh warga dan diserahkan kepada pihak berwajib. (MAZ)
Baca berita lain dari Bekasi.com di Google News
Ikuti channel BEKASI melalui WhatsApp