
Bripka Seladi Memilih Jalur Berbeda, Menjadi Pemulung Setelah Pensiun Daripada Menerima Suap
JATENG.COM - Kisah Bripka Seladi, seorang petugas kepolisian yang setelah pensiun beralih profesi menjadi pemulung demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Selama menjalankan tugasnya (sebelum pensiun), ia dikenal sebagai polisi yang bersih.
Bahkan sekuping kopi pun tidak ia minum jika itu merupakan imbalan.
Ia tidak peduli meskipun sikapnya tersebut dapat menyebabkan dijauhi.
Cerita Bripka Seladi tampaknya menjadi angin segar di tengah munculnya berita mengenai sejumlah oknum yang merusak nama institusi kepolisian.
Ketika kesempatan untuk memperoleh keuntungan pribadi muncul, polisi ini tetap memegang teguh prinsip kejujuran dan menolak terlibat dalam tindakan korupsi.
Integritas tersebut tetap ia pertahankan hingga memasuki masa pensiun atau purna tugas.
Seorang mantan polisi lalu lintas yang juga menjalani pekerjaan sampingan sebagai pemulung menjadi viral di media sosial pada tahun 2024.
Peristiwa ini sempat menjadi perbincangan netizen karena memulung dianggap sebagai pekerjaan yang kotor dan tidak dihargai, terutama ketika sosok polisi terlibat dalam aktivitas tersebut.
Namun di balik aktivitas tersebut, seorang polisi berpangkat Bripka justru ingin menjadi polisi yang “bersih”, tidak menerima suap, dan menjalankan tugas dengan penuh kejujuran.
Kisah Bripka Seladi, memilih menjadi pemulung sampah daripada menerima suap
Namanya Bripka (Purn) Seladi (65), mantan anggota Satuan Lalu Lintas Polresta Malang Kota.
Ia telah memasuki masa pensiun sejak 2017 saat berusia 58 tahun.
Posisi terakhir yang ia pegang adalah sebagai pemeriksa pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM).
Posisi tersebut kerap dinilai rawan godaan, karena membuka peluang bagi oknum untuk menerima suap dari pemohon SIM agar diluluskan tanpa melalui prosedur tes yang semestinya.
Namun Seladi memutuskan untuk tetap mempertahankan kejujurannya.
“Terakhir bertugas sebagai pemeriksa pembuatan SIM A dan C di Polresta Malang Kota, saya memutuskan untuk jujur dan menolak menerima uang pelicin karena sudah menjadi aturan dan berkaitan dengan kompetensi pengemudi,” kata Seladi sebagaimana dilaporkan Kompas.com, Senin (23/12/2024).
Alih-alih memanfaatkan posisinya untuk tindakan korupsi seperti menerima suap atau pemungutan liar, ia justru memilih jalur yang berbeda dengan menjadi seorang pemulung.
Sejak tahun 2004, ia mengumpulkan barang bekas untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta melunasi hutang.
"Semua peserta ujian SIM yang lulus saya keluarkan, biasanya ada yang tidak lulus meminta bantuan dengan memberikan amplop berisi uang, saya menolak hal tersebut," kata Seladi.
Dari kegiatan mengumpulkan sampah, setiap hari Seladi mampu mendapatkan penghasilan tambahan antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000.
Aktivitas tersebut masih terus ia lakukan hingga saat ini.
"Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak sudah tumbuh dewasa, ada yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS), anggota polisi di Polda Malang, dan telah menyelesaikan pendidikan sarjana S1," kata Seladi dilansir dari Kompas.com, Minggu (22/12/2024).
Seladi menyatakan, siapa pun profesi yang dijalaninya, jika dilakukan dengan baik dan tekun, tidak ada yang memalukan, selama dasarnya adalah kejujuran dan ketulusan.
Menerima suap justru menyebabkan permasalahan yang lebih besar
Seladi mengatakan, lebih baik mengajukan pemohon SIM untuk mengikuti ujian SIM kembali.
Tindakan tersebut dilakukan sebagai wujud perhatian dengan memberikan petunjuk karena berkaitan dengan keselamatan dalam berkendara.
"Tidak mungkin saya mengizinkan pemohon SIM jika tidak memahami rambu-rambu jalan, tidak memiliki kompetensi, ini akan berbahaya nanti, jadi saya berikan petunjuk agar pemohon dapat lulus dengan kompetensi yang ditentukan, tanpa biaya tambahan," kata Seladi.
Seladi menyadari bahwa memberikan atau menerima suap justru akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar.
Selain melanggar aturan hukum, hal tersebut juga menjadi beban tersendiri bagi pemberi dan penerima suap.
“Bukan berarti saya menolak rezeki, tapi saya hanya mencari yang halal, yaitu dengan mencari tambahan melalui memungut sampah tadi, itu lebih tenang bagi saya,” kata Seladi.
Menolak pemberian imbalan meskipun hanya sekuping kopi
Kredibilitas Bripka Seladi telah teruji, bahkan oleh rekan sejawat sesama polisi.
Seladi menyatakan, ia tidak hanya menolak pemberian uang pelicin, tetapi juga tindakan ketergantungan keluarga.
Ia mengakui pernah diminta oleh rekan sesama anggota polisi untuk meluluskan pemohon SIM yang dibawanya, tetapi ia tetap menolak.
"Kadang ada oknum polisi yang menggunakan nama pemohon, lalu bila meminta bantuan kepada saya, saya tetap mengharuskan pemohon datang langsung untuk mengikuti ujian sesuai prosedur," kata Seladi.
Bahkan, Seladi selalu waspada terhadap setiap bentuk pemberian dari rekan kerjanya, meskipun hanya sekuping kopi di pagi hari.
"Lebih baik saya menolak dari awal, meskipun nanti saya dijauhi atau dibenci rekan kerja, daripada saya minum kopinya lalu merasa berhutang dan harus melakukan praktik korupsi," kata Seladi.
Dengan sikap jujurnya, Seladi mengakui, saat ini memiliki banyak saudara yang baik dari rekan-rekan polisi, masyarakat atau sesama pemulung, dan hal itu memberikan kebahagiaan khusus baginya. (Kompas.com)