Dedi Mulyadi Geleng Kepala, Dana Usaha Dipakai Nikahkan Anak Pedagang Es -->

Dedi Mulyadi Geleng Kepala, Dana Usaha Dipakai Nikahkan Anak Pedagang Es

1 Feb 2026, Minggu, Februari 01, 2026
Ringkasan Berita:
  • Dedi Mulyadi tidak menyangka, uang yang diberikan kepada Suderajat tidak digunakan untuk usaha, tetapi untuk menikahi putrinya.
  • Ketua RW menyatakan bahwa sebenarnya Andi, anak Jajat, disarankan untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
  • Kepala desa menyatakan hasil penilaian lintas instansi menemukan tanda-tanda disabilitas pada Suderajat dan istrinya.
 

SUMSEL.COM- Gubernur Jawa Barat Dedi merasa kaget dan bingung ketika mengetahui rencana para pedagang es kue Suderajat dalam mengelola dana bantuan yang diberikannya.

Dedi Mulyadi tidak menyangka, uang yang diberikan bukan digunakan untuk usaha, tetapi untuk menikahkan anaknya.

Meskipun demikian, sebagaimana diketahui, uang tersebut digunakan untuk melunasi hutang dan menutupi kebutuhan sehari-hari yang disampaikan oleh Suderat.

Kemurahan hati muncul akibat rasa kasihan terhadap tuduhan dari oknum TNI dan polisi yang menyebut Suderajat menggunakan bahan spons dalam es kue gabus yang dijualnya.

Sudrajat justru mendapatkan berbagai bantuan seperti uang puluhan juta, bantuan perbaikan rumah, sepeda motor, hingga ibadah umroh secara gratis.

Termasuk Dedi Mulyadi memberikan dana sebesar Rp 15 juta.

Rp 10 juta digunakan untuk biaya sewa dan pelunasan hutang.

Rp 5 juta sebagai modal usaha.

KDM berharap Suderajat tidak lagi menjual es kue dan beralih ke bisnis lain menggunakan modal yang telah diberikan.

"Maka uang ayah utuh? Sudah mantap bagaimana," kata KDM.

Bukan digunakan sebagai modal usaha, Jajat justru berencana memanfaatkan uang sebesar Rp 5 juta dari Dedi untuk menikahkan anaknya.

Begini, untuk anak saya yang akan menikah, pak, Andi," katanya.

Ketua RW menyatakan bahwa sebenarnya Andi, anak Jajat, disarankan untuk melanjutkan studinya di Sekolah Rakyat.

"Ingin bersekolah, sekolah rakyat. Putus sekolah dari SD. Dari dinas sosial ingin diajak kembali bersekolah gak," katanya.

Dedi juga setuju dengan rencana tersebut.

"Ya benarkan saja semuanya. Ini babeh kalau ingin memanfaatkannya sekarang sudah bagus lho. Memiliki rumah baru, tabungan uang. Dengan RW lebih kaya babeh lho. Memiliki motor baru, tinggal memanfaatkannya. Tapi ini jika pengelolaannya tidak tepat, tiga bulan sudah hilang semua," kata Dedi Mulyadi.

Penjualan kue es ini ternyata tidak memerlukan modal dari Jajat.

"Lebih baik berdagang dulu, besok berdagang es kue," katanya.

Artinya kue es tidak memerlukan modal sama sekali. Uang Rp 5 juta itu utuh," ujar Dedi.

Karena sistem perdagangan tersebut merupakan pembayaran.

Maka Jajat berencana menggunakan uang milik Dedi untuk menggelar pesta pernikahan anaknya.

"Membuat anak. Katanya ingin menikah," katanya.

Mendengar hal tersebut, Dedi Mulyadi sampai menggelengkan kepala karena nasihat dan saran yang dia berikan ditolak secara langsung.

"Hmm, saya berikan itu sebagai bekal untuk babeh, bukan untuk anak. Orang merasa kasihan pada babeh, bukan pada anak. Untuk kehidupan babeh," katanya.

Ia menyarankan dana tersebut digunakan untuk memulai bisnis baru.

"Kami menyarankan kepada bapak, misalnya berjualan es kue harus pergi jauh, kalau membuka warung laku tidak. Atau anaknya bisa menjadi gojek?" kata Dedi Mulyadi.

Sudirajat dan Istrinya Mengalami Tanda-Tanda Disabilitas

Sebelumnya, Suderjat berjumpa dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Pada pertemuan itu, Suderajat dikatakan sering berbohong mengenai bantuan yang diterimanya serta tempat tinggalnya, di mana ia menyatakan sedang menyewa namun ternyata memiliki rumah sendiri.

Merespons hal tersebut, Camat Bojonggede Tenny Ramdhani menyatakan bahwa Suderajat tinggal di kontrakan bukan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang dalam proses perbaikan melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Selama tahap pembangunan berlangsung, Suderajat sementara dipindahkan ke kontrakan.

"Berdasarkan hasil penilaian, Pak Suderajat termasuk warga kategori miskin. Ia memang memiliki rumah sendiri. Namun saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu, sehingga dia sementara tinggal di kontrakan,” kata Tenny kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026)

Berdasarkan penjelasan Tenny, proses perbaikan rumah Suderajat telah dimulai sejak Desember 2025.

Selain itu, rumah tersebut pernah roboh akibat bencana hujan deras dan angin kencang di awal tahun. Sejak kejadian itu, pedagang es gabus ini bersama keluarganya tidak lagi tinggal di rumah sendiri.

Tenny menganggap, perdebatan yang muncul di media sosial terjadi karena informasi yang tidak lengkap mengenai keadaan Suderajat.

Kondisi tinggal di kontrakan sering dianggap sebagai tanda ketidaksesuaian pernyataan, tanpa mempertimbangkan situasi renovasi rumah yang sedang berlangsung saat ini.

Di tengah kritikan masyarakat dan beredarnya berbagai isu palsu, Tenny menyatakan hasil penilaian lintas lembaga menemukan tanda-tanda disabilitas pada Suderajat dan istrinya.

Kondisi tersebut diduga terkait dengan gangguan jiwa pasca-trauma, sehingga kemampuan berbicara keduanya sangat terbatas.

Kemudian mengenai berbagai isu yang beredar tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video) selalu berubah-ubah dan terlihat seperti sedang berbohong.

Berdasarkan hasil penilaian kami, terdapat tanda-tanda disabilitas baik pada Tuan Suderajat maupun istrinya," katanya.

Berdasarkan hasil penilaian tersebut, terdapat indikasi adanya gangguan psikologis akibat trauma. Oleh karena itu, komunikasi lisan dengan pihak yang bersangkutan memang cukup terbatas dan sulit dilakukan.

"Apalagi kondisi istrinya terlihat lebih buruk," katanya.

Ia menambahkan, pernyataan dari ketua RT dan RW setempat juga mengindikasikan adanya keterlambatan psikologis dan mental pada Suderajat.

Kondisi ini diduga telah terjadi sebelumnya dan semakin memburuk akibat tekanan trauma pasca kejadian (difitnah oleh aparat) serta banyaknya orang yang datang ke rumahnya.

"Kami hanya membicarakan indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas adalah istrinya," katanya.

Bahkan Suderajat terlihat mengalami keterlambatan secara psikologis dan mental ketika diajak berkomunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya.

"Jadi Pak Suderajat memang memiliki disabilitas dan membutuhkan perhatian khusus. Selain itu, ada tekanan setelah kejadian (trauma) serta banyaknya orang yang datang ke rumah pada saat itu (tidak terbiasa berhadapan dengan banyak orang)," katanya.

Pihak kecamatan berharap penjelasan tersebut mampu menghentikan isu yang beredar dan membawa kembali permasalahan Suderajat ke dalam konteks yang sebenarnya, yaitu upaya pemerintah dalam menangani warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.

Kebohongan Suderajat

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengkritik sikap pedagang es gabus, Ajat Suderajat, yang sempat viral setelah dituduh menjual es dengan bahan spons.

Dedi membeberkan tiga pernyataan Suderajat yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Hal tersebut terungkap ketika Dedi kembali berjumpa dengan Ajat Suderajat dan Ketua RW setempat.

Pada pertemuan itu, Dedi mengakui menemukan beberapa keterangan Suderajat yang berbeda dibandingkan penjelasan Ketua RW.

Bohong soal pendidikan anak

Sudrajat sebelumnya mengatakan anaknya bersekolah di Sekolah Dasar Negeri.

Namun, menurut Dedi, sekolah yang dihadiri anak Suderajat merupakan lembaga pendidikan swasta.

Anaknya yang bersekolah di sekolah swasta, kata babe kemarin mengatakan bahwa sekolahnya adalah negeri. Ini (yang benar) sekolahnya adalah swasta. Aku sudah berbicara dengan babeh ini, itu sekolah pasti swasta tidak mungkin gratis. Karena sekolahnya swasta maka harus membayar," kata Dedi Mulyadi sebagaimana dilaporkan dari YouTube-nya pada Kamis (29/1/2026).

Namun, Dedi menyatakan bahwa anak Suderajat seharusnya tidak perlu membayar iuran meskipun bersekolah di sekolah swasta.

Ia juga berencana untuk memeriksa pemerintah Kabupaten Bogor apakah memang masih ada pemungutan iuran yang dilakukan oleh pihak sekolah.

"Tetapi sekarang masyarakat menginginkan pendidikan dasar SD dan SMP gratis, baik di sekolah negeri maupun swasta. Karena sudah ada keputusan Mahkamah Konstitusi. Jika belum gratis, nanti saya akan menanganinya ke Pemda Kabupaten Bogor," jelasnya.

Bohong soal status rumah 

Sudrajat sebelumnya mengakui menyewa rumah selama beberapa tahun.

Namun, pernyataan Suderajat ditolak oleh Ketua RW setempat.

"Pada dasarnya orang tua (Suderajat) membelikan rumah pada tahun 2007. Setelah dibeli, ia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya saat itu," kata Ketua RW sebagaimana dilaporkan oleh YouTube Dedi Mulyadi pada Kamis (29/1/2026).

Mendengar penjelasan dari Ketua RW, Dedi langsung memarahi Suderajat karena dianggap tidak jujur.

"Babe mengatakan sedang menyewa, tapi itu palsu. Mengapa dia terus berbohong," katanya.

Sudirajat juga mengakui kesalahan yang telah ia lakukan dan memohon maaf.

Sebelumnya, Suderajat mengakui menerima kekerasan dari oknum aparat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat pada hari Sabtu (24/1/2025) setelah dituduh menggunakan bahan spons dalam barang dagangannya di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat pada hari Sabtu (24/1/2025).

Sudrajat menyampaikan, kejadian tersebut dimulai ketika seorang anak membeli barang dagangannya.

"Bapaknya polisi, saya belum tahu. Dibejek-bejek, es kuenya saya. Terus es kue saya dilempar ke muka saya. Saya ditendang, dikepret, ditonjok," ujarnya saat dijumpai newsBogor.com, Selasa (27/1/2026).

Ayah dari lima anak tersebut mengakui wajahnya dihantam, kakinya ditendang dengan menggunakan sepatu lars.

Bahkan, Suderajat mengakui tubuhnya disiram dengan selang dan diancam akan digantung oleh pihak tertentu.

Karena penganiayaan yang dialaminya, Suderajat mengalami cedera di beberapa bagian tubuhnya, termasuk wajah, bahu, dan kaki kanannya.

Menurutnya, dalam kejadian tersebut terdapat beberapa orang yang berada di lokasi, mulai dari pengurus lingkungan, pejabat kelurahan, hingga oknum aparat.

Lima kali (dipukul) bunyi pukulan, ini nyeri (menunjukkan beberapa luka). Katanya ini bedak es," katanya.

Meski demikian, Suderajat hanya mampu berserah diri dan berharap peristiwa ini mendapatkan balasan yang seimbang dari Allah SWT.

"Biarkan Allah Yang Maha Kuasa yang membalas," katanya.

Sudrajat mengakui bahwa polisi dan TNI belum memberikan permintaan maaf kepadanya.

"Tidak ada permintaan maaf atau apa pun, menurut saya semua tidak ada yang meminta maaf ke saya," kata Suderajat saat diwawancarai Kompas.com di rumahnya, Selasa (27/1/2026).

Namun, setelah kejadian tersebut, ia mendapatkan kompensasi dari pihak berwajib sebesar Rp 300.000 karena barang es gabus yang dibawanya mencair dan rusak.

Viral di Medsos

Sebelumnya, Aiptu Ikhwan dan Heri menjadi viral di media sosial karena memberikan keterangan mengenai es gabus yang dijual oleh Suderajay tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Dilaporkan dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @feedgramindo, Ikhwan sempat memperlihatkan es gabus yang dimaksud.

"Jadi sekarang ada pelaku yang mencoba menyembunyikan hal tersebut. Intinya, ini tidak boleh dimakan. Karena tadi kita coba, rasanya berbeda, bukan kue. Ternyata bahan dasarnya dari spon. Spon yang diberi sirup," kata Ikhwan dalam video.

Video kemudian menampilkan Heri sedang melakukan pemeriksaan terhadap Suderajat.

"Kenapa kamu menjual?" tanya Heri kepada Suderajat.

"Jika berhenti (berjualan), anaknya makan apa?" jawab Suderajat.

"Kamu bagaimana, ini kalau dimakan oleh anak kecil akan menyebabkan penyakit," kata Heri dengan nada keras.

Babinsa akhirnya memaksa Suderajat untuk mengonsumsi es jadul yang sebelumnya telah dihancurkan dengan tangan.

"Makan saja, habiskan, habiskan! Tenggulai," kata oknum Babinsa tersebut.

"Yang muntah biar kamu saja. Jangan anak kecil, ya. Kasihan tuh," tambahnya.

Momen Polisi dan TNI Meminta Maaf dengan Pelukan Suderajat

Sebelumnya, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo akhirnya bertemu langsung dengan pedagang es gabus, Suderajat (49) di mushala, Bojonggede, Bogor, pada Selasa (27/1/2026) malam.

Selanjutnya, dalam pertemuan tersebut, Aiptu Ikhwan dan Serda Heri meminta maaf kepada Suderajat setelah menuduh es gabus menggunakan spons dan melakukan kekerasan di Kemayoran, Jakarta, pada Sabtu (24/1/2026).

Pada pertemuan itu, Aiptu Ikhwan dan Serda Heri didampingi oleh Dandim 0501/JP, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra, Danramil 04 Bojonggede Mayor Arm Ruwijo, Danramil Kemayoran Mayor CPN M. Firdaus, Kapolsek Johar Baru Kompol Saiful, Kapolsek Bojonggede AKP Abdullah Syafei, serta Kades Rawa Panjang Mohammad Agus.

Berdasarkan video yang diterima Kompas.com, mereka bertemu di salah satu mushola dekat tempat tinggal Suderajat. Ikhwan dan Heri tampak berdiri di samping Suderajat.

Aiptu Ikhwan menyampaikan permohonan maafnya karena tidak ada maksud untuk melukai Suderajat.

Ikhwan bersama Pak Heri datang ke sini ditemani teman-teman, kami ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian tersebut, tidak ada maksud untuk melukai Bapak,” kata Ikhwan kepada Suderajat, dilansir Kompas.com.

Kemudian, Ikhwan juga memohon berkah dan berharap tidak ada lagi masalah di masa depan. Pada saat itu, ia terlihat berjabat tangan dengan Suderajat yang juga didampingi istrinya.

Kemudian, Heri juga berjabat tangan dengan Suderajat dan meminta maaf.

"Saya memohon maaf dari lubuk hati yang paling dalam kepada Pak Suderajat. Saya sangat memohon maaf, Pak, semoga selalu sehat," kata Heri kepada Suderajat.

Dalam pertemuan tersebut, Roby juga membenarkan bahwa kehadirannya bersama Ikhwan dan Heri bertujuan untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

"Kami mewakili pihak pimpinan menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Bapak Suderajat terkait kesalahan dalam perlakuan anggota saat menangani dugaan es dari spons," kata Roby saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

"Alhamdulillah dia memaafkan dan tulus, merasa masalah telah selesai," tambahnya.

Beri Bantuan

TNI melalui Kodim 0501/Jakarta Pusat memberikan bantuan berupa satu buah lemari es, satu unit mesin penyeduh air, dan satu tempat tidur springbed guna mendukung usaha Suderajat serta kenyamanan keluarganya.

"Kami mendampingi pedagang es gabus tersebut, sekaligus memberikan dukungan untuk memperkuat aktivitas usahanya," demikian pernyataan resmi Kodim yang diterima Kompas.com, Rabu.

Kodim menekankan kejadian ini sebagai pelajaran bagi seluruh pihak agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

"Diharapkan peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang lagi," lanjut pernyataan resmi.

Petugas juga mengungkapkan akan melakukan peninjauan internal dan memberikan sanksi disiplin terhadap anggota yang terlibat.

Berakhir Damai

Setelah pertemuan tersebut, kini Suderajat menyatakan telah memaafkan pihak yang terlibat dan menganggap kejadian yang menimpanya sebagai sebuah musibah.

"Sudah berdamai," kata Suderajat setelah bertemu dengan aparat kepolisian dan TNI di sebuah mushola, Selasa (27/1/2026) malam hari.

Pada pertemuan tersebut, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo secara langsung menyampaikan permintaan maaf.

Aiptu Ikhwan dan Serda Heri tampak mencium tangan serta memeluk Suderajat. Ikhwan juga menyampaikan permintaan maaf kepada istri Suderajat.

Sudrajat menggambarkan peristiwa pukulan dan penganiayaan itu sebagai ujian kehidupan yang ia terima dengan tulus.

Ia tidak memiliki keinginan agar pihak-pihak yang terlibat ditindak secara hukum atau diberi sanksi yang lebih keras.

"Saya sudah ikhlas karena Allah, maaf semua. Itu namanya musibah, Allah Maha Kuasa sudah mengetahuinya," ujar Suderajat.

Keputusan tersebut diambil agar ia dapat kembali berdagang dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarganya.

Selama 30 tahun berdagang es gabus, Suderajat mengatakan sudah terbiasa menghadapi tantangan hidup sebagai pedagang kecil.

"Alhamdulillah banyak bantuan yang diterima, ada TV, kulkas, peralatan elektronik, dan furniture. Saya juga berencana untuk berangkat haji bersama istri saya," tambahnya.

Baca berita lain dari sumsel.com di Google News

Ikuti dan daftar di saluran Whatsapp sumsel.com

TerPopuler