Di bawah hujan, Adi jual jas hujan untuk rezeki -->

Di bawah hujan, Adi jual jas hujan untuk rezeki

1 Feb 2026, Minggu, Februari 01, 2026

Hari Bebas Kendaraan (CFD) di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, ramai dikunjungi warga yang memanfaatkan akhir pekan untuk beraktivitas olahraga pada hari Minggu (1/2) pagi.

Sejak pagi, area ini dipenuhi oleh pengunjung yang berlari, bersepeda, atau berjalan santai. Langit yang awalnya mendung, tiba-tiba berubah menjadi hujan deras.

Saat sebagian pengunjung memilih berhenti dan mencari tempat berteduh, dari balik keramaian terdengar suara keras yang mengganggu hujan, "Jas hujan, jas hujan."

Suara itu datang dari Adi (39), pedagang jas hujan keliling yang gesit berkeliling area CFD. Ia berjalan kaki melewati hujan sambil memakai jas hujan yang terlihat sudah diperbaiki akibat sobekan.

Di tangannya, Adi menggenggam satu kantong plastik besar yang berisi puluhan jas hujan, yang dibagikan dari satu pengunjung ke pengunjung lainnya.

Dalam waktu singkat, penjualan Adi hampir mencapai separuh. Hujan yang tiba-tiba turun membuat sejumlah warga memutuskan untuk membeli jas hujan agar tetap dapat melanjutkan kegiatan di CFD atau perjalanan mereka.

Adi menjual dua macam jas hujan. Untuk jas hujan ponco, dia menetapkan harga Rp 10 ribu per unit. Sedangkan jas hujan lengkap, mulai dari bagian atas hingga bawah, dijual dengan harga Rp 20 ribu.

Adi mengakui bahwa ia sudah lama terlibat dalam pekerjaan ini, meskipun hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

"Ya cukuplah, cukup lama itu," kata Adi saat diwawancarai.Bengkalispos.comdi sela hujan.

"Benar, sejak dulu. Tapi hanya saat hujan. Jika tidak hujan, ya tidak," katanya.

Jika tidak menjual jas hujan, Adi biasanya mencari penghasilan dengan menjual minuman dalam kemasan di pasar.

“Jualan ini, jualan minuman, minuman ini kayak kemasan itu,” katanya.

"Jika titiknya di pasar," lanjut Adi.

Namun, situasi pasar yang saat ini cenderung sepi juga berdampak pada pendapatannya.

"Kini jauh berbeda dengan dulu, agak sepi juga," kata Adi.

"Ya, memang berdampak juga, karena orang yang belanja ke pasar sudah tidak ke pasar lagi," katanya sambil tersenyum.

Jas hujan yang ia jual ia peroleh dari pasar Tanah Abang. Jumlah persediaan yang dibawanya setiap kali berjualan tidak pasti.

"Nah, penjualannya itu tergantung dari adanya barangnya saja," kata Adi.

“Iya, paling lusinan,” tambahnya.

Saat hujan mulai mengguyur kawasan Bundaran HI, Adi segera berangkat ke lokasi CFD. Jarak antara pasar dengan area tersebut sekitar 2,5 KM, yang ia tempuh dengan berjalan kaki.

"Baru saja ketika hujan turun langsung pergi," katanya.

"Nah, karena di pasar itu pas," katanya.

"Berjalan, berjalan kaki. Sepanjang jalan," katanya.

Menurut Adi, jas hujan yang baru benar-benar dibutuhkan saat hujan mulai turun dan masyarakat masih melakukan kegiatan di luar ruangan.

"Benar, hanya saat hujan," katanya.

Meski penjualan jas hujannya laris, Adi mengatakan pendapatan dari menjual jas hujan sulit diprediksi.

"Ya tergantung, tergantung seberapa lama. Jika redanya lama maka barangnya ada, ya lumayan," katanya sambil tertawa.

"Jika hujannya singkat maka yang didapat hanya beberapa butir saja, tidak jelas, tidak pasti, tidak bisa ditentukan," katanya.

Berdagang di tengah hujan juga menimbulkan tantangan yang unik. Adi mengakui sering merasa kedinginan ketika harus terkena hujan sambil menjual barang dagangannya.

"Ya, kadang memang dingin. Ya sudah pasti, karena kehujanan kan," katanya.

"Beberapa kali disiapkan obat untuk mengusir angin atau yang lainnya," tambahnya.

"Minum dulu sesekali sebelum menjual," kata Adi sambil tertawa.

Adi berasal dari Jawa Tengah dan pindah ke Jakarta guna mencari penghidupan. Sekarang, ia tinggal bersama keluarganya di sekitar wilayah Jakarta Pusat. Bagi Adi, hujan justru menjadi tanda untuk kembali pergi ke jalan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada hari itu, jumlah jas hujan yang ia bawa memang tidak banyak.

"Ya, sejak pagi ini. Alhamdulillah sedikit, hujannya hanya sebentar. Persediaannya juga tidak banyak," katanya.

"Ya, saya habiskan saja yang itu," tambahnya.

Setelah hujan reda, Adi berencana untuk membeli persediaan kembali dan melanjutkan aktivitas berdagangnya.

“Mau beli dulu,” ujarnya.

"Benar, nanti sambil menunggu hujan, karena sekarang musim hujan," katanya sambil berjalan cepat.

Di balik langkahnya yang melewati hujan CFD, Adi menyimpan harapan kecil, ia berharap bisa memperluas bisnisnya.

"Semoga saja terjadi perubahan yang baik, itu yang diharapkan," ujarnya.

Saat hujan mulai reda, Adi masih memegang sedikit sisa jas hujan di tangannya. Selanjutnya, ia bersiap kembali ke pasar untuk membeli persediaan jas hujan, lalu kembali berkeliling menjajakan barang dagangannya.

TerPopuler