
TIGA murid penghayatkeyakinan animisme mengikuti pendidikan formal di SMK Alhilaal, Namlea, Pulau Buru, Maluku. Kepala SMK Alhilaal Namlea Megaria menyebutkan bahwa mereka datang dari Desa Danau Rana, Pulau Buru, Maluku. Jarak antara Danau Rana dan Namlea sekitar 60 kilometer.
"Mereka ketika pergi ke sekolah harus melewati Danau," ujarnya setelah menghadiri Seminar Literasi Keagamaan dan Budaya Lintas (LKLB) yang diadakan Institut Leimena di Ambon, Maluku, pada Kamis, 12 Februari 2026.
Perjalanan ke sekolah biasanya memakan waktu 1 hingga 1,5 jam dengan menggunakan sepeda motor. Namun, Megaria mengatakan para siswa pemeluk agama tersebut kini tinggal di asrama yang dekat dengan sekolah. "Agar lebih mudah dalam pergi ke sekolah," ujarnya.
Lulusan peserta LKLB ini menyatakan, sejak tahun 2007, SMK Alhilaal menerima siswa penghayat kepercayaan. Konstitusi, menurutnya, menjamin setiap warga berhak memperoleh pendidikan. "Tidak boleh terjadi diskriminasi. Saya sangat menghargai mereka," ujarnya.
Pada tahun ini, SMK Alhilaal menerima siswa yang berasal dari berbagai latar belakang agama. Jumlah total siswanya sekitar 282 orang. Rinciannya, terdapat 178 siswa beragama Islam, 42 siswa beragama Kristen, 9 orang penghayat Hindu Adat, serta 3 orang pengikut kepercayaan animisme.
Dalam proses pembelajaran, sekolah memberikan kebebasan kepada siswa yang memeluk agama tertentu untuk mengikuti pelajaran agama. Karena tidak ada guru khusus yang mengajar penghayat kepercayaan, mereka mengikuti materi yang disampaikan guru agama. "Mereka ingin mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru agama. Tidak ada tekanan," ujarnya.
Meskipun demikian, para guru tetap mengevaluasi kemampuan agama dari penghayat kepercayaan. Penilaian dilakukan berdasarkan kehadiran, tanggung jawab, disiplin, serta kerja sama dengan teman-teman.
Banyak siswa yang memeluk agama juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari. Saat pertunjukan tari, siswa penghayat kepercayaan animisme menampilkan Tari Cakalele khas Pulau Buru sebagai bentuk penyambutan tamu.
Tarian ini hanya dapat dilakukan oleh mereka sebagai bagian dari kearifan lokal. "Mereka memakai parang dan tombak asli sebagai bagian dari tradisi," ujarnya.
Setelah tampilan Tari Cakalele, biasanya dilanjutkan dengan Tari Sawat Buru yang dipersembahkan oleh siswa-siswi muslim. "Mereka bekerja sama dengan sangat indah," katanya.
Dari segi bantuan biaya pendidikan, ia menyatakan bahwa banyak siswa pemeluk agama mendapatkan Program Indonesia Pintar (PIP). Jika tidak memperolehnya, mereka akan diutamakan menerima beasiswa dari Pemerintah Provinsi Maluku, yaitu Beasiswa Miskin/Bantuan Siswa Miskin serta Kartu Maluku Cerdas.
Namun, ia menyatakan bahwa banyak siswa pemeluk agama yang ingin berpindah keyakinan. Ia berargumen bahwa perpindahan tersebut bukan disebabkan oleh kesulitan administratif dalam kependudukan untuk mempermudah bantuan. "Itu adalah pilihan mereka," katanya.
Stafsus Menteri Agama untuk Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Farid F. Saenong menyatakan pengalaman tersebut sebagai contoh terbaik yang patut diadopsi oleh daerah lain di Indonesia. Maluku telah membuktikan bahwa hidup dalam keragaman bukan hanya sekadar ucapan, tetapi kenyataan yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Maluku memang menjadi contoh yang baik dalam kehidupan bersama. Kami akan terus mengangkat Maluku sebagai representasi dari nilai-nilai ini," katanya di Ambon, Maluku.
Mengenai aturan yang mengatur penghayat kepercayaan, ia menjelaskan bahwa pada dasarnya peraturan tersebut berada di bawah kewenangan Kementerian Kebudayaan dan sudah diakomodasi. Namun, menurutnya masih diperlukan ruang yang lebih luas agar para penghayat kepercayaan dapat menyampaikan keyakinannya.
Megaria adalah seorang tenaga pendidik yang mengikuti program LKLB yang diadakan oleh Institut Leimena. Pada hari Kamis, 12 Februari 2026 di Ambon, Maluku, Institut Leimena bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku serta beberapa organisasi masyarakat menyelenggarakan Seminar dengan tema "Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)"
Kepala Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menyatakan bahwa Program LKLB bertujuan untuk memperkuat kerukunan antar umat beragama yang beragam dengan memberikan kompetensi kepada para pendidik dalam membangun hubungan dan kerja sama dengan individu yang memiliki agama dan keyakinan berbeda.
"Dimulai pada akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan bagi guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar LKLB dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan," ujar Matius Ho.
Matius menambahkan Pendidikan Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai contoh pendidikan yang mampu memperkuat kohesi sosial. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia pada tahun 2025, LKLB secara resmi ditetapkan sebagai salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk membentuk Komunitas ASEAN yang inklusif dan harmonis.
Pada bulan November lalu, contohnya, rombongan dari Kementerian Pendidikan Pemerintah Bangsamoro di Filipina mengunjungi Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, guna mempelajari pelaksanaan Program LKLB di kota Ambon.
Matius menyampaikan secara khusus di Ambon, program LKLB disesuaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan konteks budaya masyarakat setempat, yaitu dengan memanfaatkan musik sebagai alat pendidikan untuk memperkuat perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai "UNESCO City of Music".