Habib Jafar Ajak Kaya Hati Saat Ramadan, Jangan Ukur Diri dari Materi -->

Habib Jafar Ajak Kaya Hati Saat Ramadan, Jangan Ukur Diri dari Materi

27 Feb 2026, Jumat, Februari 27, 2026
Habib Jafar Ajak Kaya Hati Saat Ramadan, Jangan Ukur Diri dari Materi

HARIAN BOGOR RAYA – Penulis dan dai muda Husein Jafar Al Hadar yang akrab dipanggil Habib Jafar menyeru pentingnya menjadi "muslim dengan hati yang kaya" di tengah tren masyarakat modern yang mengukur harga diri berdasarkan materi. Ajakan ini disampaikan dalam acara Ramadan Baik Bersama Katadata di Taman Literasi Blok M, Kamis (26/2/2026), yang digelar menjelang waktu berbuka puasa.

Dalam ceramah dengan tema "Menjadi Muslim yang Kaya Hati, Bukan Hanya Kaya Materi", Habib Jafar mengungkapkan ironi yang sering terjadi setiap bulan suci. Di satu sisi, Ramadan dianggap sebagai kesempatan untuk menahan lapar, haus, dan keinginan duniawi. Namun di sisi lain, kenyataan sosial justru menunjukkan peningkatan pengeluaran dan gaya hidup yang sering menjauhi semangat kesederhanaan.

Menurutnya, puasa seharusnya menjadi tempat untuk melatih empati sosial. "Puasa membuat kita merasakan lapar dan haus. Dari situ muncul rasa empati. Kita menjadi memahami betapa beratnya hidup orang yang kekurangan, dan karena itu kita diingatkan untuk tidak meninggalkan orang lain merasakan hal tersebut sendirian," katanya di depan audiens yang memadati area literasi publik tersebut.

Habib Jafar menekankan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga belajar untuk keluar dari fokus pada diri sendiri. Ia menyatakan bahwa kegiatan berbagi tidak boleh terbatas pada simbol atau upacara tahunan. Ia menekankan bahwa rasa peduli harus muncul dari pengalaman empati yang nyata, bukan sekadar kebiasaan sosial tanpa makna.

Selanjutnya, ia mengkritik pandangan sempit terhadap rezeki. Rezeki, menurutnya, bukan hanya tentang harta atau kekayaan materi. Kesehatan, waktu luang, keluarga yang utuh, serta iman merupakan bentuk rezeki yang lebih bernilai tinggi. Dalam suasana kehidupan perkotaan yang serba cepat, kehadiran bahkan menjadi sesuatu yang sering kali diabaikan.

"Banyak keluarga bahagia tidak berasal dari pemberian uang, melainkan dari waktu yang diberikan. Kehadiran seseorang adalah rezeki yang paling dibutuhkan saat ini," katanya. Pernyataan ini juga menjadi kritik terhadap gaya kerja dan ambisi ekonomi yang sering kali mengorbankan hubungan personal serta kualitas kebersamaan.

Habib Jafar juga menyentuh fenomena membandingkan diri dengan orang lain sebagai sumber kecemasan zaman sekarang. Ia mengatakan, masalah sering kali tidak berada pada jumlah harta, tetapi pada sikap mental yang belum siap mengelola kepemilikan. Kekayaan tanpa kedewasaan batin bisa menimbulkan ketidaknyamanan, dorongan untuk pamer, hingga persaingan status yang melelahkan.

"Banyak masalahnya bukanlah dari harta, melainkan dari pikirannya. Kekayaan sejati adalah kekayaan pikiran dan hati," katanya. Ramadan, menurutnya, merupakan kesempatan untuk menyusun kembali standar keberhasilan dan kecukupan agar manusia tidak terjebak pada ukuran palsu yang dibentuk oleh tekanan sosial maupun media.

Pada kesempatan yang sama, Chief Commercial Officer Katadata Heri Susanto menekankan bahwa tema "kaya hati" diangkat sebagai wujud refleksi terhadap tren masyarakat modern yang cenderung menghubungkan harga diri dengan angka pencapaian ekonomi. Ia menegaskan bahwa Ramadan mengajarkan perubahan orientasi dari memiliki menjadi bermakna, dari mengumpulkan menjadi berbagi.

Heri juga merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 245 untuk menunjukkan bahwa sedekah dan zakat bukanlah bentuk kehilangan. Menurutnya, ukuran seorang muslim tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi seberapa besar manfaat yang dibagikannya kepada sesama serta dampak sosial yang dihasilkan dari kepemilikan tersebut.

Di sisi lain, Manajer Databoks Jamalianuri menjelaskan tren peningkatan permintaan informasi mengenai zakat dan donasi digital selama bulan Ramadan. Data menunjukkan bahwa saluran digital semakin diminati, terutama oleh kalangan generasi muda yang lebih mengutamakan kemudahan akses, transparansi, serta fleksibilitas waktu dalam menjalankan kewajiban sosialnya.

Wakil Direktur Keuangan dan Pengembangan Bisnis Katadata Ivan Triyogo Priambodo menambahkan bahwa zakat memiliki potensi besar sebagai alat dampak sosial yang berkelanjutan. Menurutnya, jika dikelola dengan profesional dan transparan, zakat bukan hanya kewajiban individu, tetapi juga dapat menjadi investasi sosial yang memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Seri diskusi di Taman Literasi Blok M menunjukkan bahwa "kaya hati" bukanlah tujuan yang bisa diraih secara instan, melainkan proses dalam membangun pola pikir yang cukup, penuh empati, dan selalu hadir untuk sesama. Ramadan, sebagaimana dijelaskan oleh Habib Jafar, menjadi awal untuk menyusun pikiran dan niat, karena dari sini perubahan sosial yang lebih besar dapat berkembang.***

TerPopuler