
Bengkalispos.com.CO-Pemerintah mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi buah sebagai langkah pencegahan penyebaran Virus Nipah, penyakit zoonotik yang menular dari hewan ke manusia.
Salah satu cara penyebaran yang perlu diwaspadai adalah mengonsumsi buah atau minuman yang tercemar oleh kelelawar buah.
Kepala Badan Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Murti Utami menjelaskan, virus Nipah diketahui memiliki sumber alami pada kelelawar buah yang dapat mengkontaminasi makanan, minuman, atau lingkungan sekitar tanpa disadari. Oleh karena itu, kewaspadaan dalam pola makan sehari-hari sangat penting.
"Jangan mengonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena kelelawar bisa mengotori air nira pada malam hari. Oleh karena itu, perlu dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (2/1).
Selain itu, masyarakat diharapkan mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
Buah yang memiliki bekas gigitan dari kelelawar sebaiknya langsung dibuang dan tidak boleh dimakan, meskipun tampak masih layak secara fisik.
Tantangannya, sebagian masyarakat masih menggemari buah yang pernah digigit kelelawar, karena dianggap lebih matang. bahkan terdapat orang yang percaya pada mitos tertentu mengenai khasiat buah yang pernah digigit kelelawar.
Tindakan pencegahan juga berlaku terhadap penggunaan produk hewani. Murti menegaskan bahwa daging ternak perlu dimasak hingga matang sempurna, serta sebaiknya menghindari memakan hewan yang diduga terkena Virus Nipah.
Hubungan langsung dengan hewan ternak seperti babi dan kuda yang mungkin terkena infeksi juga sebaiknya dihindari. Jika kontak tidak bisa dihindari, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi wajib dilakukan.
Kementerian Kesehatan juga menekankan perlunya penerapan protokol kesehatan, mulai dari mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menjalankan etika batuk dan bersin, hingga memakai masker jika mengalami gejala, terutama untuk kelompok yang rentan.
Dengan meningkatkan kesadaran dan mengambil langkah pencegahan yang mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan penyebaran Virus Nipah bisa diminimalisir dari awal.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap kemungkinan penyebaran Virus Nipah, penyakit menular yang berbahaya dan kembali dilaporkan muncul di kawasan Asia Selatan, khususnya di India.
Meskipun hingga saat ini Indonesia belum melaporkan kasus pada manusia, risiko penyebaran tetap harus dipersiapkan mengingat tingkat kematian yang cukup tinggi.
Virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang baru muncul dan menyebar dari hewan ke manusia. Virus ini berasal dari kelelawar buah (Pteropus sp.) sebagai inang alami, kemudian dapat menular kepada manusia.
Baik secara langsung, melalui hewan penengah seperti babi, maupun melalui konsumsi makanan dan minuman yang tercemar, contohnya buah atau nira. Penyebaran antar manusia juga dilaporkan, khususnya melalui kontak dekat dengan penderita.
Secara medis, gejala yang ditimbulkan oleh Virus Nipah sangat beragam. Pada tahap awal, penderita mungkin mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan gejala seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, hingga kesulitan bernapas.
Gejala infeksi virus Nipah mencakup demam, nyeri tenggorokan, kehilangan kesadaran, sakit kepala, nyeri otot, serta muntah.
Kondisi yang lebih parah dapat menyebabkan infeksi berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) dengan gejala seperti sakit kepala parah, gangguan kesadaran, kejang, hingga koma. Tingkat kematian akibat penyakit ini dilaporkan mencapai 40 hingga 75 persen.(jpg)