bengkalispos.com- Ketegangan di wilayah Palestina yang dikuasai kembali memuncak setelah Israel menahan Imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Muhammad Ali Abbasi, pada Senin (16/2) malam di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Penangkapan ini terjadi beberapa hari sebelum bulan suci Ramadan, masa ibadah utama bagi umat Muslim Palestina.Sheikh Abbasi secara langsung dilarang memasuki area masjid selama seminggu. Menurut pejabat Palestina dan otoritas Yerusalem yang diduduki Israel, tindakan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membatasi peran imam, khatib, serta al-Murabitin, tokoh yang biasa menjaga kegiatan keagamaan di Masjid Al-Aqsa.
Merupakan respons terhadap tindakan tersebut, "Otoritas Palestina mengingatkan tentang peningkatan aktivitas Israel di kawasan Al-Aqsa... menjelang dan selama bulan puasa Ramadan," demikian pernyataan resmi Otoritas Palestina, yang dilaporkan oleh Arab News. Pernyataan ini menunjukkan kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di salah satu tempat suci paling berharga bagi umat Islam.
Dilansir dari Palestine Chronicle,Selasa (17/2/2026), otoritas Israel juga melarang petugas wakaf Islam dalam menyiapkan fasilitas bulan Ramadan, termasuk pemasangan tenda, pos kesehatan, dan pengaturan jamaah. Lebih dari 250 larangan telah dikeluarkan terhadap individu yang terkait dengan Masjid Al-Aqsa sejak awal tahun, sementara sekitar 25 karyawan Waqf dipindahkan atau ditahan.
Di sisi lain, kelompok pemukim Zionis melaporkan memperpanjang waktu kunjungan pagi ke kompleks masjid dengan pengawalan polisi, menyebabkan ketegangan yang lebih besar.
Tidak lama setelah penahanan Imam Abbasi, tingkat kekerasan terus meningkat ketika pasukan Israel menembak seorang pemuda Palestina berusia 18 tahun dekat dinding pemisah (Apartheid Wall) di sebelah barat Qalqilya, sebuah kota di Tepi Barat. Pemuda tersebut meninggal di rumah sakit akibat luka tembak.
"Ini merupakan bagian dari operasi militer yang semakin meningkat di seluruh Tepi Barat," kata pejabat Palestina. Sejak Oktober 2023, lebih dari 1.100 penduduk Palestina meninggal dan sekitar 11.500 lainnya terluka dalam aksi militer Israel.
Wilayah Tepi Barat terletak di seberang Sungai Yordan, dengan sebagian besar wilayah ini diduduki oleh Israel sejak tahun 1967, termasuk kota-kota penting Palestina seperti Ramallah, Nablus, Hebron, Bethlehem, dan Qalqilya. Wilayah C, yang mencakup sekitar 61 persen dari Tepi Barat, sepenuhnya berada di bawah penguasaan sipil dan militer Israel berdasarkan kerangka Oslo.
Selain operasi militer, Israel kembali memulai proses pendaftaran lahan di Wilayah Tepi Barat, tindakan yang memungkinkan otoritas Israel mengklaim tanah sebagai "kekayaan negara" untuk pertama kalinya sejak tahun 1967.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengecam kebijakan tersebut, mengingatkan bahwa tindakan ini "mempercepat penguasaan nyata atas wilayah Palestina dan merusak peluang penyelesaian politik."
Raja Abdullah II Yordania memberikan peringatan serupa ketika bertemu dengan pejabat Inggris di London. Ia mengatakan, "Tindakan Israel untuk memperluas pengaruh atas wilayah Palestina serta membatasi akses penduduk menjelang Ramadan berpotensi memicu ketegangan yang lebih besar di kawasan."
Peningkatan persiapan militer Israel menjelang bulan Ramadan juga terjadi. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letjen Eyal Zamir, menyebut tahun 2026 sebagai "tahun penting," dengan rencana operasi multi-arena yang mencakup wilayah Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Suriah, dan Iran. Zamir menekankan peningkatan kemampuan manuver darat, mobilitas operasional, sistem tempur robotik, serta kesiapan logistik darurat.
Pembatasan akses juga berdampak pada pekerja Palestina. Sekitar 140.000 pekerja dilarang memasuki Israel sejak konflik di Gaza, yang menurut pejabat keamanan Israel dapat memperburuk ketidakstabilan. Media Israel melaporkan penempatan pasukan tambahan serta operasi penangkapan yang diperluas.
Keadaan ini menjadi tantangan bagi kestabilan wilayah dan tanggapan dari komunitas internasional. Penahanan Imam Abbasi, pembatasan akses, operasi militer, serta pengendalian wilayah memperkuat dominasi Israel terhadap daerah yang diduduki, sekaligus melemahkan kewenangan Palestina.
Pemimpin Palestina meminta tindakan keras dari komunitas internasional. "Dunia perlu menjamin hak beribadah dihormati serta menjaga status hukum dari situs suci Al-Aqsa," ujar pejabat senior Otoritas Palestina. Pesan ini menekankan pentingnya diplomasi global untuk menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut.
Segera menyambut Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi, gabungan tindakan penahanan tokoh agama, pembatasan aktivitas ibadah, operasi militer, serta pengawasan wilayah berisiko memicu ketegangan yang lebih luas di salah satu daerah paling rentan secara agama dan politik di dunia.