Jaga Keseimbangan Lingkungan Dieng, GDA Tingkatkan Wisata Petik Stroberi di Taman Syailendra Wonosobo -->

Jaga Keseimbangan Lingkungan Dieng, GDA Tingkatkan Wisata Petik Stroberi di Taman Syailendra Wonosobo

11 Feb 2026, Rabu, Februari 11, 2026
Jaga Keseimbangan Lingkungan Dieng, GDA Tingkatkan Wisata Petik Stroberi di Taman Syailendra Wonosobo

JATENG.COM, WONOSOBO - Taman Syailendra adalah aset yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) Wonosobo di kawasan dataran tinggi Dieng, dengan pengelolaan diserahkan kepada Global Dharma Asri (GDA).

Sejauh ini, area tersebut terkenal dengan penginapan berbentuk rumah kayu dan pemandangan pegunungan yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Menghadapi rencana pengembangan tahun 2026, pihak pengelola mengambil tindakan yang berbeda.

Alih-alih menambah jumlah kabin atau membangun hotel baru, GDA justru mengalihkan pengembangan wilayah ke sektor agrowisata yang berbasis perkebunan stroberi.

Tindakan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah Dieng.

Kepala GDA, Sahlan mengatakan, perhitungan bisnis menunjukkan hasil yang lebih menguntungkan dibandingkan ekspansi penginapan.

Kemarin saya tambah 3 kabin saja membutuhkan biaya sekitar Rp500 juta.

Sementara saya menanam stroberi hanya memerlukan sekitar Rp150 juta.

Penghasilannya lebih dari dua kali lipat dibanding kami di kabin," katanya, Rabu (11/2/2026).

Tindakan ini merupakan bagian dari rencana perluasan bisnis pada tahun 2026.

"Menyangkut pariwisata, kita akan meningkatkan pendapatan dari wisatawan yang berkunjung ke Taman Syailendra," katanya.

Paket wisata memetik stroberi dimulai dengan uji coba penanaman sebanyak 1.500 polybag. Respons pasar diklaim melebihi harapan.

"Kita melakukan pengujian kemarin dengan 1.500 polybag, ternyata antusiasme masyarakat wisatawan sangat luar biasa," katanya.

Perbedaan harga tidak menjadi kendala. Di toko buah, stroberi dijual dengan harga Rp40.000 per kilogram. Namun di tempat wisata, harganya mencapai Rp100.000 per kilogram dan tetap diminati.

Berdasarkan tren tersebut, perluasan pengembangan mencapai sekitar 5.000 polybag dengan konsep pariwisata yang lebih terencana.

Kita mengembangkan sekitar 5.000 polybag.

Maka harapan kami, nanti kita akan membuat sebuah wisata memetik stroberi, kita sajikan, kita rancang," katanya.

Area tersebut kelak dilengkapi dengan tempat foto untuk menarik perhatian pengunjung, khususnya keluarga dan siswa.

Selain perhitungan bisnis, aspek lingkungan juga menjadi pertimbangan.

Pembangunan kabin yang besar di dataran tinggi Dieng dianggap berpotensi menurunkan kemampuan penyerapan air.

Jika di dataran Dieng, semua akan dibangun kabin, otomatis penyerapan airnya juga akan berkurang.

Saya merawat lingkungan di sana, oleh karena itu beralih," tambahnya.

Rencana pembangunan kabin atau hotel berubah menjadi penanaman stroberi di area yang kosong.

Saat ini jumlah kabin yang dioperasikan mencapai 11 unit. Namun, penilaian terhadap usaha tetap dilakukan guna mengevaluasi potensi keuntungan jangka panjang antara kabin dan tanaman stroberi.

Pengunjung ke kebun stroberi terjadi hampir setiap hari, khususnya dari kalangan siswa.

"Sebenarnya setiap hari hampir selalu ada siswa SD dan SMP yang datang ke sana untuk memetik stroberi. Pada akhir pekan ketika para wisatawan berkunjung, Alhamdulillah juga ramai," katanya.

Jika pengujian setelah Lebaran berjalan lancar, pihak pengelola rencananya akan menyewa lahan tambahan seluas beberapa hektar guna memperluas kawasan pariwisata.

"Jika berhasil, Taman Syailendra ini akan kita kembangkan sebagai destinasi wisata strawberry," lanjutnya.

Tujuannya, Taman Syailendra menjadi tempat agrowisata stroberi yang terkenal di kawasan Dieng.

"Maka nanti di Taman Syailendra bisa menjadi salah satu, istilahnya destinasi wisata yang berkaitan dengan perkebunan stroberi," tutupnya. (ima)

TerPopuler