
Bengkalispos.com.CO.ID - JAKARTABulan Ramadan dan Idulfitri menjadi kesempatan bagi sektor industri dan dunia bisnis untuk meningkatkan kinerja. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan bahwa para pelaku industri dan pengusaha telah bersiap menghadapi peningkatan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri 2026.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyampaikan bahwa bulan Ramadan dan Idulfitri memberikan dampak positif terhadap kegiatan industri serta perdagangan dalam negeri. Terutama bagi sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah tangga seperti makanan-minuman, ritel, mode, transportasi, logistik, dan kemasan.
Secara historis, produksi dan distribusi cenderung meningkat beberapa minggu sebelum Ramadan, kemudian kembali normal setelah Idulfitri. Untuk Ramadan – Idulfitri 2026, Kadin Indonesia memprediksi tingkat utilisasi produksi dan permintaan tetap mengalami peningkatan musiman, tetapi lebih terbatas dan terkendali.
Peningkatan tersebut sangat tergantung pada daya beli di awal 2026, stabilitas kurs mata uang, serta biaya masukan seperti energi dan logistik. "Tahun ini, posisi Tahun Baru Imlek yang dekat dengan Ramadan berpotensi menyebabkan peningkatan momentum konsumsi di awal tahun," kata Erwin kepada Bengkalispos.com.co.id, Minggu (1/2/2026) malam.
Meskipun demikian, pelaku industri memperhatikan meningkatnya ketegangan geopolitik global, perubahan nilai tukar, dan situasi ekonomi di awal tahun 2026. Mengingat perubahan-perubahan tersebut, strategi dunia usaha cenderung waspada dan fleksibel dalam memperkuat pengelolaan risiko nilai tukar, efisiensi biaya, penyesuaian kontrak pembelian, serta diversifikasi sumber pasokan.
"Catatan Kadin menekankan pentingnya menjaga kestabilan harga energi, kelancaran distribusi logistik, serta impor bahan baku dan barang modal yang produktif agar produksi untuk memenuhi lonjakan musiman tidak terganggu," tambah Erwin.
Dalam keterangannya terpisah, Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyoroti bulan Ramadan dan Idulfitri sebagai momen penting dalam siklus ekonomi nasional, karena menjadi pendorong peningkatan pengeluaran masyarakat. Dampaknya paling jelas terlihat pada sektor-sektor usaha yang secara langsung berhubungan dengan permintaan konsumen, seperti makanan dan minuman, ritel, mode, transportasi, logistik, serta akomodasi dan pariwisata.
"Permintaan selama periode Ramadan - Idulfitri terjadi secara konsisten setiap tahun. Namun, biasanya bersifat musiman dan tidak selalu menunjukkan peningkatan daya beli yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pelaku usaha cenderung meresponsnya dengan menyesuaikan produksi secara bertahap dan terukur," ujar Shinta kepada Bengkalispos.com.co.id, Senin (2/2/2026).
Shinta menyoroti data dan indeks industri yang menunjukkan pertumbuhan di awal tahun 2026. Berdasarkan data Survei Bank Indonesia, rata-rata kapasitas produksi yang dimanfaatkan berada pada kisaran 73,15%, yang menunjukkan bahwa sektor usaha masih memiliki ruang untuk meningkatkan penggunaan produksi tanpa menghadapi tekanan kapasitas.
Dari segi teknis, dunia bisnis siap meningkatkan produksi menjelang Ramadan - Idulfitri, namun keputusan tersebut tetap bergantung pada keyakinan terhadap permintaan yang benar-benar ada. Di sisi lain, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Januari 2026 mencatat peningkatan yang signifikan hingga level 54,12.
Peningkatan posisi IKI sebesar 2,22 poin dalam sebulan terutama dipengaruhi oleh perbaikan variabel produksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku industri mulai meningkatkan aktivitas produksi guna menghadapi kenaikan permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Sejalan dengan itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Indeks Manufaktur Indonesia versi S&P Global pada Januari 2026 naik sebesar 1,4 poin menjadi 52,6. Menunjukkan bahwa pertumbuhan dalam produksi dan pesanan baru terus berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
"Penguatan ini terutama didorong oleh permintaan dalam negeri, yang pada awal tahun 2026 memiliki kaitan erat dengan kesiapan sektor usaha dalam menghadapi berbagai perayaan musiman, bukan hanya Ramadan - Idulfitri tetapi juga Tahun Baru Imlek," jelas Shinta.
Apindo mencermati strategi para pelaku usaha yang umumnya berfokus pada pemeliharaan kelancaran pasokan dan operasional, sehingga lonjakan permintaan dapat direspons tanpa menimbulkan tekanan pada... supply chainBeberapa perusahaan telah memulai peningkatan penggunaan produksi secara terbatas, memperkuat perencanaan logistik, serta menciptakan persediaan untuk produk-produk yang memiliki pola permintaan musiman yang tinggi.
Catatan Shinta, sektor bisnis juga mengadopsi pendekatan yang hati-hati dan terukur dalam mengambil keputusan terkait produksi dan operasional perusahaan. Berdasarkan laporan PMI Index S&P, meskipun output dan pesanan baru meningkat, dunia usaha masih menghadapi tekanan pada biaya masukan serta berbagai perubahan yang terjadi, sehingga efisiensi operasional tetap menjadi prioritas utama.
"Selain itu, keputusan perluasan tenaga kerja dan investasi jangka panjang tetap dilakukan dengan penuh pertimbangan, menunjukkan kewaspadaan terhadap prospek permintaan setelah Idulfitri," tambah Shinta.
Kewaspadaan ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor luar dan dalam negeri, seperti meningkatnya ketegangan geopolitik global, fluktuasi kurs mata uang, serta kondisi daya beli masyarakat pada awal 2026 yang masih perlu diperhatikan. Pelaku usaha mengambil berbagai tindakan pencegahan, mulai dari pengamanan bahan baku, penguatan pengelolaan cash flow, hingga penyesuaian strategi harga dan promosi agar tetap bisa diakses oleh pelanggan.
"Poin utama dari dunia bisnis adalah bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri harus dipertahankan agar tidak hanya menjadi lonjakan musiman, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian riil secara berkelanjutan," ujar Shinta.