Keteladanan Jenderal Hoegeng, Kapolri Berwibawa -->

Keteladanan Jenderal Hoegeng, Kapolri Berwibawa

7 Feb 2026, Sabtu, Februari 07, 2026

Bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA -- Hoegeng Imam Santoso dikenal sebagai seorang petugas kepolisian yang jujur, tegas, dan memiliki integritas yang tinggi. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dari tahun 1968 hingga 1971.

Memulai dari bawah, karier Hoegeng di Kepolisian penuh dengan berbagai tantangan. Sebelum menjabat sebagai kepala Kepolisian Negara (sejak 1969, nama lembaga ini berubah menjadi Kepolisian RI/Polri) pada 5 Mei 1968, ia telah menempati berbagai posisi.

Pada tahun 1956, Hoegeng memimpin Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) di Medan, Sumatra Utara. Sekitar empat tahun setelahnya, ia menjadi anggota staf direktorat II di Markas Besar Polri. Bahkan, ia pernah menjabat sebagai menteri iuran negara pada tahun 1965 dan menteri sekretaris kabinet inti pada tahun 1966.

Ketulusan Hoegeng dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan kepolisian tidak perlu dipertanyakan lagi. Seperti yang disampaikan dalam buku Hoegeng yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, tokoh ini sudah dikenal bersih sejak sebelum menjalani karier di Mabes Polri.

Saat bertugas di Medan, Sumatra Utara (Sumut), banyak kejadian yang mengejutkan dilakukan oleh pria yang memiliki tiga anak ini. Ia membuang perabotan mewah dari rumah dinasnya secara paksa. Barang-barang mahal tersebut diletakkan di tepi jalan. Tindakan ini tidak tanpa alasan. Benda-benda itu sebelumnya dikirim oleh para pemilik usaha ilegal sebagai upaya agar bisnis mereka berjalan lancar (baca: didukung oleh pihak kepolisian).

Hoegeng pernah marah-marah sambil melemparkan berbagai hadiah ke luar jendela rumah dinasnya. Meskipun harganya tidak besar, tetap saja itu merupakan suap, dan pasti ada maksud tertentu di baliknya.

Kehadiran Hoegeng di Sumut bertujuan untuk mengatasi bisnis ilegal, penyelundupan, dan perjudian. Sebelum ia tiba, bisnis-bisnis tersebut berjalan dengan lancar di Medan. Hal ini karena para pelaku merasa aman karena adanya "dukungan" dari oknum tentara dan oknum polisi.

Hoegeng kemudian mengikuti jejak praktik kongkalikong tersebut. Ia menemukan, akhirnya berujung pada 'Cina Medan', sementara oknum aparat hanyalah pihak bawahan mereka. "Sebuah kenyataan yang sangat memalukan," kata Hoegeng dengan marah, sebagaimana dicatat dalam buku karya Aris Santoso, Ery Sutrisno, Hasudungan Sirait, dan Imran Hasibuan (halaman 50).

Di tangan pria asal Pekalongan ini, para pemain judi dan penyelundup tidak mampu bergerak. Semua tertangkap, termasuk para pelaku juga dihadapkan pada proses hukum.

Berhasil di Sumut, Hoegeng mendapatkan tugas untuk mengatasi praktik KKN di Kantor Imigrasi, kemudian menjadi menteri Urusan Negara. Ia mampu menjalankan tanggung jawabnya. Selanjutnya kembali ke polisi sebagai kepala polisi negara menggantikan Soetjipto yang mengundurkan diri. Hoegeng dilantik oleh presiden Soeharto pada 15 Mei 1968.

Sebelumnya, Soeharto memberi peringatan kepada Hoegeng agar polisi tidak memikirkan tugas-tugas dari angkatan lain yang memiliki fungsi tempur. Pada masa itu, Polri berada di bawah naungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) atau TNI.

Bagi Soeharto, polisi sebaiknya menjalankan tugas sesuai dengan perannya. Tidak boleh ada lagi kelompok di kalangan perwira yang menyebabkan persaingan yang tidak sehat.

Hoegeng sepakat. Namun, ia juga meminta agar angkatan lain tidak ikut campur dalam urusan internal Kepolisian. Soeharto hanya diam. Bahkan hingga mengakhiri masa jabatannya sebagai kapolri, Hoegeng tidak mengetahui sikap sebenarnya dari Soeharto.

Selama menjabat sebagai kapolri, Hoegeng sangat menjunjung disiplin. Ia selalu tiba di kantor sebelum pukul tujuh pagi. Dari rumah dinasnya di Menteng menuju Mabes Polri di Kebayoran Baru, ia selalu memilih jalur yang berbeda setiap hari. Metode ini dilakukan agar kapolri dapat memahami situasi lalu lintas serta kesiapan petugas lalu lintasnya.

Jika terjadi kemacetan di jalan, dia tidak ragu untuk turun dari kendaraannya dan mengatur arus lalu lintas. Hoegeng menjalankannya dengan tulus, sekaligus memberikan teladan kepada bawahannya di lapangan.

Beberapa warga mengambil foto dengan latar belakang Monumen Hoegeng setelah diresmikan oleh Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo di area Stadion Hoegeng, Pekalongan, Jawa Tengah. - (Antara/Harviyan Perdana Putra)

Sebagai pemimpin utama Kepolisian, Hoegeng memiliki hubungan dekat dengan masyarakat. Baginya, tidak diperlukan adanya penjaga di halaman rumah agar setiap orang merasa nyaman dan tidak ragu untuk berkunjung ke rumahnya. Ia menjadikan rumahnya sebagai "rumah komando" yang selalu terbuka 24 jam untuk urusan dinas kepolisian.

Selama masa jabatannya sebagai kapolri, terdapat dua kasus yang menggegerkan masyarakat. Pertama adalah kasus Sum Kuning, yaitu perkosaan terhadap penjual telur bernama Sumarijem, yang diduga dilakukan oleh anak dari pejabat tinggi di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan justru ditahan oleh polisi dengan dugaan memberikan keterangan palsu. Kasus ini kemudian menyebar dan membuatnya dianggap terlibat dalam 'kegiatan ilegal PKI'.

Ketegasan dari pihak berwenang semakin jelas saat persidangan diadakan secara tertutup. Jurnalis yang meliput kasus Sum harus menghadapi Dandim 096 di Yogyakarta.

Hoegeng bertindak. "Kita tidak takut menghadapi siapa pun yang berkuasa. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, meskipun keluarga sendiri, jika bersalah tetap kita tindak. Majulah! Semakin cepat semakin baik," tegas Hoegeng (halaman 95).

Kasus lain yang menarik perhatian adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah yang dilakukan oleh Robby Tjahjadi. Berkat jaminan dari 'seseorang', pengusaha ini hanya menghabiskan beberapa jam di tahanan Komdak. Kekuasaan si penjamin begitu besar hingga Kejaksaan Jakarta Raya memutuskan untuk menutup kasus ini. Siapakah orang yang memberikan jaminan tersebut?

Namun, Hoegeng tidak takut. Dalam kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tidak bisa berbuat apa-apa. Pejabat yang terbukti menerima suap ditahan oleh polisi.

Isu yang beredar, akibat pengungkapan kasus ini pula yang menyebabkan Hoegeng dihentikan tugasnya, 2 Oktober 1971 dari jabatan kapolri. Kasus ini ternyata melibatkan beberapa pejabat dan perwira tinggi ABRI (halaman 118).

Banyak orang menganggap masa pensiun pertama di kepolisian sebagai hal yang menyenangkan. Tinggal menikmati rumah mewah dan barang-barang di dalamnya, serta kendaraan yang siap digunakan. Semua itu diperoleh melalui suap dari para pengusaha.

Ternyata masa-masa menyenangkan tidak berlaku bagi Hoegeng yang menolak suap. Pria yang pernah dijuluki "The Man of the Year 1970" ini mengakhiri karier tanpa memiliki rumah, kendaraan, atau barang mewah.

Rumah dinas menjadi milik Hoegeng berdasarkan pemberian dari Kepolisian. Beberapa kapolda bersama-sama membeli mobil Kingswood, yang akhirnya menjadi satu-satunya kendaraan yang dimilikinya.

TerPopuler