:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/ILustrasi-CONTOH-Khutbah-Jumat-Tema-Tanda-Lemahnya-Iman-Seorang-Muslimin.jpg)
PRIANGAN.COM – bulan Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Quran (Syahrul Quran) karena pada bulan ini, khususnya di malam Lailatul Qadar, Al-Quran pertama kali diturunkan oleh Allah SWT sebagai pedoman bagi umat manusia dan pemisah antara benar dan salah (QS. Al-Baqarah: 185).
Ini merupakan waktu penting bagi umat Islam untuk meningkatkan frekuensi membaca, memahami, dan menerapkan Al-Quran.
Mengenai Jumat, khususnya pada hari Jumat tanggal 27 Februari 2026, kami sebagai laki-laki yang beragama Islam akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Jumat, yang dikenal sebagai Sayyidul Ayyam atau Raja Hari, dianggap oleh umat Islam sebagai hari yang penuh dengan berkah.
Khusus untuk khutbah Jumat kali ini, berikut adalah naskah khutbah Jumat yang telah diunggah oleh Priangan.com dari berbagai sumber pada 27 Februari 2026 dengan tema "Ramadan sebagai Bulan Al-Quran".
Khutbah 1
Alhamdulillah yang telah menerangi hati orang-orang yang dekat dengan-Nya dengan cahaya keselarasan, dan meninggikan derajat sahabat-sahabat-Nya di alam semesta, serta memperbaiki rahasia para pencari dengan kebaikan pujiannya dalam agama, dan memberi minum kepada tuan-tuan pemilik hubungan-Nya dari minuman yang lezat dan manis rasanya, sehingga mereka datang menghadap untuk mencari keridhaan-Nya dengan cepat, dan salawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kami Muhammad serta keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang baik, dengan salawat dan salam hingga hari pertemuan.
Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yang satu tanpa sekutu, dengan kesaksian yang jernih dan tulus, semoga dengan ini kami mendapatkan keselamatan dari api yang sangat menyala, dan semoga dengan ini kesedihan kami berkurang. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, yang paling mulia dari seluruh makhluk, yang dibawa naik ke langit melalui Buraq hingga melewati tujuh lapis langit. Sesudah itu, wahai saudara-saudara, saya menasihati kalian dan juga diriku sendiri untuk takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya, dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: "Bulan Ramadhan adalah bulan di mana Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan yang jelas tentang petunjuk dan perbedaan."
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Memulai khutbah singkat ini, khatib menasihati kita semua, khususnya dirinya sendiri, untuk selalu berupaya meningkatkan rasa takwa dan iman kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala kewajiban dan menghindari segala yang dilarang serta diharamkan.
Jamah yang dimuliakan Allah.
Di bulan Ramadan ini, sejumlah umat Muslim sibuk dengan berbagai aktivitas ibadah. Mulai dari pagi hari, siang, sore hingga malam menjelang tidur, ibadah terasa menjadi kegiatan yang tak pernah terlepas dari amal sunnah di bulan yang mulia. Salah satu bentuk ibadah yang selalu dikaitkan dengan bulan penuh ampunan ini adalah tadarus Al-Quran. Oleh karena itu, Ramadan juga dikenal sebagai syahrul qur’ān atau bulan Al-Quran. Dapat dikatakan, Ramadan tanpa gemericik lantunan ayat suci seperti masakan tanpa garam. Allah SWT berfirman,
Bulan Ramadan yang diturunkan di dalamnya Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan yang jelas dari petunjuk dan perbedaan.
Maknanya, "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut serta pemisah (antara yang benar dan yang salah)." (QS Al-Baqarah [2]: 185)
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan secara keseluruhan (bukan secara bertahap) dari lauḥul maḥfudz ke baitul ‘izzah pada bulan Ramadan, khususnya pada malam Lailatul Qadar. Pendapat ini diungkapkan oleh berbagai ulama seperti Ibnu Katsir dalam Tafsīr Al-Qur'ānil ‘Adzīm, Fakhruddin al-Razi dalam Mafātīḥul Ghaib, Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsīr as-Sa’dī, serta sejumlah ahli tafsir lainnya.
Semua ulama sepakat bahwa membaca Al-Quran merupakan ibadah yang sangat mulia. Mereka sejak dahulu menjadikan membaca Al-Quran sebagai kegiatan selama bulan Ramadan. Imam Syafi’i mampu menyelesaikan bacaan Al-Quran sebanyak enam puluh kali dalam satu Ramadhan, sedangkan Imam Malik menghentikan aktivitas mengajarannya pada bulan Ramadan agar dapat fokus pada pembacaan Al-Quran.
Kemudian, Sufyan at-Tsauri juga akan meninggalkan ibadah-ibadah sunnah selama bulan Ramadan agar dapat lebih fokus dalam membaca Al-Quran. Zubaid bin Harits al-Yamani, seorang ulama ahli hadis dari kalangan tabi'in, ketika memasuki bulan Ramadan akan mengumpulkan banyak mushaf untuk dibaca bersama para muridnya. Masih banyak lagi riwayat yang menceritakan perhatian para ulama dalam melakukan tadarus pada bulan Ramadan.
Menurut Ibnu Rajab al-Hambali, seorang ulama besar dalam bidang Aqidah yang mengikuti madzhab Asy’ariyah dan dalam bidang fikih mengikuti madzhab Hambali, menyatakan bahwa dasar anjuran untuk memperbanyak membaca Al-Quran selama Ramadan terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas, yaitu:
Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Malaikat Jibril. Beliau bertemu dengannya setiap malam di bulan Ramadhan untuk membaca Al-Qur'an bersama. Oleh karena itu, Rasulullah SAW lebih dermawan dalam berbuat baik daripada angin yang ditiupkan.
Maknanya, "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling murah hati. Dan beliau lebih murah hati lagi pada bulan Ramadhan ketika beliau berjumpa dengan Jibril. Jibril datang kepadanya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur'an. Kekayaan hati Rasulullah ﷺ melebihi angin yang berhembus." (HR Bukhari).
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad mengirim hafalan Al-Quran kepada Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan. Oleh karena itu, membaca Al-Quran secara lebih banyak disarankan pada malam hari di bulan tersebut. Alasan memilih malam adalah karena waktu tersebut merupakan saat yang tenang, sehingga seseorang dapat lebih fokus dan mampu memahami makna ayat-ayat Al-Quran.
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Untuk memperoleh pahala tadarus yang terbesar, kita juga perlu memperhatikan adab-adab dalam membaca Al-Quran. Sebagai kitab suci yang sangat dihormati oleh umat Islam, tentu membacanya memiliki aturan-aturan tertentu. Salah satu adabnya adalah membaca setiap ayat dengan khusyuk dan merenungkan maknanya.
Ayat-ayat dalam Al-Quran menyimpan banyak pelajaran yang tak pernah habis. Janji pahala dan surga bagi hamba yang taat, ancaman azab neraka bagi yang durhaka, kisah-kisah umat terdahulu, serta berbagai hal lainnya, semuanya tercantum dalam kitab yang terdiri dari 114 surat. Oleh karena itu, seharusnya ketika kita membacanya tidak hanya sekadar mengucapkan, tetapi juga memikirkan maknanya dengan penuh kekhusyukan. Allah SWT berfirman,
Buku yang Kami turunkan kepadamu adalah berkah, agar mereka memikirkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengingatnya.
Maknanya, "(Al-Qur'an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh dengan berkah agar mereka memahami isinya dan orang-orang yang bijaksana mendapatkan pelajaran." (QS Shad [38]: 29)
Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama Al-Quran diturunkan ke bumi adalah agar manusia merenungkan isi kandungannya, sehingga dapat menjadi petunjuk hidup yang benar (hudan linnās). Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam karyanya al-Iqtān menyampaikan bahwa kita dianjurkan untuk merenungkan ayat-ayat Al-Quran saat membacanya hingga terasa sedih dan menangis. Jika belum mampu menangis, usahakan tetap khusyuk dan penuh rasa sedih sehingga wajah kita tampak seperti sedang menangis. (Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqān fī ‘Ulūmil Qur’ān: juz I, hal. 297)
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Adab berikutnya ialah menghias suara. Al-Quran yang dibacakan dengan suara yang indah akan membuat hati terpesona sehingga muncul rasa khusyuk dan mendorong pendengar untuk memikirkan maknanya. Oleh karena itu, ketika membaca Al-Quran, kita juga dianjurkan menggunakan suara yang merdu. Imam Nawawi menyatakan, seluruh ulama, baik dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, maupun para ulama setelahnya, sepakat bahwa menghias suara saat membaca Al-Quran hukumnya sunnah.
Namun dengan syarat, jangan sampai upaya ini merusak bacaan seperti memperpanjang harakat di luar batas yang diperbolehkan, membaca harakat pendek yang seharusnya panjang, menambah atau menghilangkan huruf, dan sebagainya. Jika terjadi demikian maka haram. Dasar anjuran memperindah suara ini antara lain berdasarkan perkataan Nabi berikut,
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
Maknanya, "Hiasilah Al Quran dengan suaramu." (HR Abu Dawud)
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Demikianlah khutbah singkat yang dapat disampaikan oleh khatib. Semoga kita semua senantiasa diberi semangat untuk membaca dan menerapkan ajaran-ajaran Al-Quran, serta pada hari akhir nanti mendapatkan syafaatnya. 2. Inilah khutbah ringkas yang bisa disampaikan oleh khatib. Mudah-mudahan kita semua selalu diberi kekuatan untuk membaca dan mengamalkan petunjuk-petunjuk Al-Quran, serta kelak di akhirat mendapat perlindungan darinya. 3. Berikut ini adalah khutbah singkat yang dapat disampaikan oleh khatib. Semoga kita semua terus diberi motivasi untuk membaca dan menjalankan ajaran Al-Quran, sehingga pada hari kiamat nanti kita bisa memperoleh syafaatnya. 4. Demikianlah isi khutbah singkat yang dapat disampaikan oleh khatib. Semoga kita semua selalu diberi semangat untuk membaca dan mengamalkan ajaran Al-Quran, serta pada akhirnya mendapatkan syafaat dari-Nya. 5. Inilah khutbah singkat yang bisa disampaikan oleh khatib. Semoga kita semua tetap diberi semangat dalam membaca dan menerapkan ajaran Al-Quran, dan pada hari akhir nanti beroleh syafaatnya.
Saya menyampaikan perkataan ini dan memohon ampunan kepada Allah untuk saya dan kalian, maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Yang Pemaaf lagi Pengasih.
Khutbah 2
Alhamdulillah wa kafya, wa usalliy wa asallimu 'ala sayyidina Muhammad al-Mustafa, wa 'ala aalihi wa ashhabihi ahli al-wafa. Asyhadu an la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidina Muhammad abduhu wa rasuluhu. Amma ba'du, ya ayyuha al-muslimuna, uwwasiyikum wa nafsii bi taqwa Allah al-aliyy al-azhim wa 'alimuu anna Allah amara kum bi amrin azhim, amara kum bil-shalat was-salam 'ala nabiyyihil kariim fa qala: innallaaha wa malaaikatuhu yusalluuna 'ala al-nabiyyi, ya ayyuha alladzina amanu shaluu 'alayhi wasallimu tasliman. Allahu thibba 3ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama shalayta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim wa barik 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama barakta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim, fi al-'alamina innaka hamidun majid. Allahu thibba 3alal muslimeena wal muslimeet wa al-mu'minine wal mu'minat al-ahyaa minhum wa al-ammwat, allahu thibba dfa3 'annaa al-bala' wal ghala' wal waba' wal fahsya wal munkar wal baghy wal suyuuf al-mukhtalifah wal shidaad wal mihaan, ma zhahara minhu wa ma bathana, min baladina haza khassatan wa min buldan al-muslimeen 'amman, innaka 'ala kulli syai'in qadir. Rabbana la tuakhidh na in nasiyina au akhthalna rabbana wa la tachmil 'alayna isran kama hamaltahu 'ala al-ladzina min qablin. Rabbana wa la tachmilnna ma la taqata lana bihi wa 'afu 'annaa wa ghir lana wa arhamnna anta maulana fansurna 'ala al-qawmi al-kafirin. Rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qinna 'adzabannaar. Wa al-hamdu lil-lahi rabbil 'alamin. 'Ibadallah, inna Allah ya'muru bial-adli wal ihsani wa i'ta' dzil qurbaa wa yanhiyi 'ani al-fahsyaa wal munkar wal baghy, ya3ithukum la'llakum tadhakkaruun. Fadzikru allaha al-azhim yadzkurukum wa ladzikru allaha akbaru.
Lihat berita terbaru Priangan.com lainnya di: Google News