
DESKAJABAR- Timnas Futsal Indonesia yang dilatih oleh Hector Souto berhasil menciptakan sejarah dengan lolos ke final Piala Asia Futsal 2026 untuk pertama kalinya, setelah mengalahkan tim kuat Jepang dengan skor 5-3 dalam laga semifinal yang berlangsung di Indonesia Arena, Jakarta, pada Kamis 5 Februari.
Dalam pertandingan tersebut, tim Hector Souto sempat memimpin 2-0 melalui gol yang dicetak Samuel Eko pada menit ke-12 dan gol dari Takehiro Motoishi yang terjadi secara tidak sengaja (23'). Dengan usaha keras, Jepang berhasil menyamakan skor dengan mencetak dua gol dalam lima menit, yaitu gol Takehiro (31') dan Kazuya Shimizu (35').
Saat babak kedua hampir berakhir, Firman Ardiansyah mencetak gol yang membawa Indonesia unggul 3-2. Namun kemenangan yang tampaknya sudah di depan mata kembali sirna setelah Jepang yang tak pernah menyerah mampu menyamakan skor menjadi 3-3 melalui gol penalti Shimizu.
Hasil imbang menyebabkan pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu selama dua kali lima menit. Dalam babak tambahan, tim Garuda memastikan kemenangan setelah mencetak dua gol, yaitu Reza Gunawan yang mencetak gol pada menit ke-45 dengan memanfaatkan kesalahan pemain Jepang, dan Dewa Rizki yang mencetak gol pada menit ke-48 saat gawang Jepang dalam keadaan kosong karena pemain mereka sedang melakukan power play.
Dengan kemenangan luar biasa ini, Indonesia akan bertanding melawan raja futsal Asia, yaitu Iran, dalam laga final Piala Asia Futsal 2026 yang akan digelar pada Sabtu 7 Februari pukul 19.00 WIB, setelah Iran mengalahkan Irak dengan skor 4-2 di babak semifinal.
Setelah pertandingan, pelatih timnas futsal Indonesia Hector Souto mengungkapkan bahwa ia sampai menangis setelah membawa timnya menciptakan sejarah baru dalam Piala Asia Futsal. Pelatih asal Spanyol ini mengaku kejadian ini terjadi karena teringat dengan keluarganya, khususnya pasangannya yang sedang merawat anak mereka di Spanyol.
Pertama-tama, saya ingin menyumbikan kemenangan ini kepada pasangan yang sedang merawat bayi kami di Spanyol. Sangat sulit berada jauh dari keluarga, dan itulah alasan saya menangis," ujar Souto dalam jumpa pers setelah pertandingan di Indonesia Arena, Kamis.
Ditanyakan tentang jalannya pertandingan, Souto mengatakan bahwa ia sudah memprediksi pertandingan ini akan berlangsung hingga babak tambahan. "Mengenai pertandingan, ini adalah laga yang sangat sulit, benar-benar sulit, seperti yang sudah saya duga. Jepang adalah tim yang luar biasa. Mereka memiliki pemain hebat, strategi yang modern, dan pelatih yang sangat saya hormati, yaitu Kensuke. Tapi begitulah olahraga, kadang menang, kadang kalah," kata Souto.
Suoto mengatakan anak asuhnya tampil sangat bagus di babak pertama. "Di babak kedua, saya meminta pemain untuk lebih menguasai bola dan menciptakan peluang, tetapi kami justru bermain terlalu langsung. Mungkin dalam pikiran mereka, keunggulan 2-0 sudah cukup. Padahal melawan Jepang, Iran, dan tim-tim kuat lainnya, keunggulan seperti itu tidak pernah cukup," katanya.
Berdasarkan situasi tersebut, Soutom menjelaskan bahwa para pemainnya baru benar-benar bermain sesuai rencana setelah skor mencapai 2-2. "Kami melakukan beberapa perubahan strategi yang menghasilkan gol ketiga, dan jika tidak salah ingat, gol keempat yang sangat penting," katanya.
Dengan kemenangan ini, ia mengungkapkan kepuasan terhadap performa yang ditunjukkan Iqbal Iskandar dan rekan-rekannya. "Apakah saya puas? Ya, sangat puas," ujar pelatih asal Spanyol itu.
Menolak Disebut Sebagai Tokoh Utama
Meskipun telah membawa Timnas Futsal Indonesia menciptakan sejarah dengan lolos ke final Piala Asia untuk pertama kalinya, Souto mengatakan dirinya menolak disebut sebagai tokoh utama dalam keberhasilan tersebut. "Pertama, saya tidak membuat sejarah," ujar Souto.
Souto menegaskan bahwa prestasi yang diraih Indonesia dalam dua hari ini tidak tercapai karena dirinya sendiri, melainkan berkat usaha tim. Ia juga merasa lelah dengan istilah yang menyebut namanya sebagai tokoh utama dalam pencapaian ini, karena menurutnya hal tersebut terwujud berkat kerja sama kolektif, bukan individu.
"Saya mulai merasa lelah dengan narasi 'pembuat sejarah' dan Hector Souto. Ini adalah hasil kerja sama. Bukan hanya pemain yang berada di sini," katanya.
Bahkan, ia secara jelas menyebutkan nama-nama yang tidak masuk dalam daftar pemain tahun ini, salah satunya adalah Evan Soumilena yang masih mengalami cedera. Evan malam ini menyaksikan usaha keras rekan-rekannya dari Indonesia Arena.
Dikatakan oleh Souto, para pemain yang tidak masuk dalam skuad juga layak menjadi bagian dari prestasi ini. "Bukan saya yang menciptakan sejarah, tim saya yang melakukannya. Ini bukan tentang satu orang, tetapi tentang semua orang," ujar Souto.***