
Ringkasan Berita:
- Keributan ini dimulai ketika Dwi memposting konten yang menunjukkan paspor Inggris milik anaknya disertai pernyataan, “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan.”
- Akibat konten tersebut, banyak pengguna internet mengkritiknya
- Penulis Tere Liye memandang isu tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
TRIBNNEWS.COM - Dwi Sasetyaningtyas, lulusan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menjadi perbincangan di media sosial. Banyak pengguna internet mengkritiknya.
Keributan ini dimulai ketika Dwi memposting konten yang menunjukkan paspor Inggris milik anaknya bersama pernyataan, "Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan."
Pernyataan itu memicu respon tajam dari netizen yang meragukan etika dan kontribusi Dwi sebagai penerima dana investasi negara.
Namun, di balik kritikan yang banyak, terungkap sejumlah tindakan nyata yang telah ia lakukan.
Meskipun ceritanya menimbulkan perdebatan, catatan kinerja Dwi dalam pelayanan di tanah air selama sembilan tahun terakhir cukup luas.
Lulusan Teknologi Energi Berkelanjutan dari Delft University of Technology, Belanda, ini tercatat telah melakukan berbagai tindakan nyata yang menginspirasi berbagai daerah di Indonesia.
Dwi berkontribusi dalam penelitian mengenai kerangka model bisnis energi surya yang kini digunakan di Pulau Sumba. Dalam bidang lingkungan, ia menginisiasi penanaman lebih dari 10.000 pohon bakau di pantai Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, hingga Karawang.
Tidak hanya itu, melalui inisiatif "Kawan Kompos", ia menyelenggarakan pelatihan gratis kepada ribuan orang dalam memproses sampah organik dari rumah tangga.
"Selama 9 tahun masih jauh dari sempurna, karena segala sesuatu yang saya lakukan menggunakan sumber daya uang, tenaga, serta berbagai keterbatasan yang saya miliki," kata Dwi melalui akun Instagramnya.
Ia juga dikenal telah melakukan renovasi terhadap sekolah di Sumba, NTT, serta memberdayakan lebih dari 200 ibu rumah tangga agar mampu menghasilkan pendapatan melalui usaha yang berkelanjutan.
Kritikan Menyentak Tere Liye terhadap Pengkritik Dwi Sasetyaningtyas
Di tengah derasnya kritik, penulis produktif Tere Liye memberikan pernyataan yang tajam. Ia menilai tanggapan masyarakat, pejabat, hingga tokoh terhadap video Dwi sudah masuk kategori "terlalu berlebihan" atau tidak wajar.
Tere Liye mempertanyakan mengapa kesalahan administratif atau pilihan pribadi seseorang justru lebih dikritik dibandingkan tindakan kriminal yang sangat serius seperti korupsi.
"Ah, yang menyebut Indonesia jelek-jelekan adalah mereka yang korupsi, mengambil uang rakyat melalui proyek-proyek. Yang suka nepo, yang memberi suap. Hanya karena dia berkata 'cukup saya saja yang WNI', itu hanyalah pendapatnya," tegas penulis novel Negeri Para Bedebah tersebut.
Meski mengakui tidak menyukai konten video Dwi yang dianggap "mencari validasi", Tere mengajak masyarakat untuk merenung.
Ia menyesali netizen yang begitu keras mengkritik lulusan LPDP tetapi diam terhadap isu-isu besar seperti melemahnya KPK atau kerusakan lingkungan nasional.
Apa kesalahan orang ini? Apakah dia mencuri? Korupsi? Zalim? Jika tidak, lupakan saja video yang penuh dengan keinginan akan validasi," tutup Tere Liye.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan penerima beasiswa negara mengenai batasan antara kehidupan pribadi, komunikasi publik yang bijak, serta makna sebenarnya dari pengabdian kepada Tanah Air.