Mahasiswa Unej Ciptakan Mesin Granulator Pupuk dari Limbah Gamping -->

Mahasiswa Unej Ciptakan Mesin Granulator Pupuk dari Limbah Gamping

2 Feb 2026, Senin, Februari 02, 2026
Mahasiswa Unej Ciptakan Mesin Granulator Pupuk dari Limbah Gamping

JATIMTIMUR.COM, Jember –Mahasiswa Jurusan Teknik Universitas Jember (Unej) menciptakan mesin granulator pupuk organik yang menggunakan limbah batu kapur atau gamping. Inovasi ini bertujuan untuk membantu petani mendapatkan pupuk ramah lingkungan dengan harga lebih murah, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari limbah tambang.

Mesin ini dibuat oleh Ahmad Iwan, mahasiswa Teknik Mesin, bersama Rina Lestari, akademisi dari Departemen Teknik Pertambangan Universitas Jember. Selama tahap pengembangannya, tim mendapatkan bimbingan dari Koordinator Program Studi S2 Teknik Mesin Unej, Prof. Mahros Darsin.

Limbah Tambang

Kepala tim peneliti, Rina Lestari, menerangkan bahwa ide ini muncul dari menumpuknya limbah batu gamping di perusahaan pertambangan yang berada di Desa Grenden, Kecamatan Puger, Jember. Limbah tersebut bahkan tidak memiliki harga yang layak.

"Kami melihat masih ada sisa limbah batu gamping yang tidak terjual. Harganya sangat murah, sekitar Rp100 per kilogram," kata Rina, Senin (2/2/2026).

Mengamati situasi tersebut, tim peneliti berusaha menemukan cara agar limbah batu kapur bisa dimanfaatkan dan memberikan manfaat tambahan bagi penduduk setempat.

"Melalui dana hibah inovasi industri yang diberikan oleh LP2M, kami berupaya meningkatkan nilai ekonomi limbah tersebut dengan memprosesnya menjadi pupuk," ujarnya.

Ramah Lingkungan

Rina menyampaikan bahwa batu kapur bersifat anorganik sehingga tidak dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik. Oleh karena itu, tim melakukan penggabungan dengan beberapa bahan organik agar memenuhi kriteria pupuk organik berkualitas.

"Akhirnya tim menggabungkannya dengan bahan-bahan organik lain agar memenuhi standar pupuk organik yang baik," tambahnya.

Komposisi pupuk yang diproses menggunakan mesin granulator ini terdiri dari batu gamping sebagai bahan utama, fosfat untuk meningkatkan kadar nutrisi, kotoran sapi yang telah difermentasi, serta tetes tebu yang berperan sebagai bahan pengikat sekaligus penambah nutrisi.

Menurut Rina, inovasi ini dibuat khusus agar para petani dapat mendapatkan pupuk berkualitas dengan biaya yang lebih murah.

"Jika biaya produksi dikurangi, manfaatnya langsung dirasakan oleh petani yang luas. Perusahaan juga dapat berkembang pesat dan menciptakan banyak kesempatan kerja," katanya.

Selain memiliki dampak ekonomi, inovasi ini dianggap selaras dengan program pemerintah yang bertujuan mendukung kemandirian pangan nasional.

"Kami berharap penelitian ini terus berkembang hingga memperoleh izin pemasaran, sehingga perusahaan dapat melakukan produksi dalam jumlah besar," katanya.

Mesin Terintegrasi

Ahmad Iwan, seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin di Universitas Jember, mengungkapkan bahwa proses pembuatan alat tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

"Satu bulan dialokasikan untuk tahap persiapan dan perencanaan, sedangkan sisa waktu ditujukan pada proses produksi di Laboratorium Manufaktur Teknik Mesin," katanya.

Ia menjelaskan, komponen utama mesin ini terdiri dari plat logam dan pipa galvanis anti karat pada bagian roller. Mesin dioperasikan dengan motor berdaya 1.500 watt yang dikombinasikan dengan gear box tipe WPA dengan rasio 1:50 untuk meningkatkan torsi.

Iwan menganggap desain mesin granulator ini termasuk inovatif di Indonesia karena menggabungkan fungsi pengaduk (mixer) dan granulator dalam satu sistem kerja.

"Kami membuatnya dari awal tanpa mengadopsi desain dari perusahaan apa pun. Kami berharap alat ini benar-benar mampu memproses bahan baku yang tersedia dengan efektif," tambahnya.

TerPopuler