Masyarakat Berau jadi penjaga pantai peneluran penyu -->

Masyarakat Berau jadi penjaga pantai peneluran penyu

21 Feb 2026, Sabtu, Februari 21, 2026
Masyarakat Berau jadi penjaga pantai peneluran penyu

KALTIM.CO, TANJUNG REDEB– Sebagai tempat bertelur penyu hijau terbesar di Asia Tenggara, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur memiliki peran penting dalam upaya konservasi global.

Untuk memperkuat peran masyarakat, YKAN bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur serta Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak melalui Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) mengadakan kegiatan.

Yaitu Pelatihan Teknis Pengawasan Penyu bagi masyarakat di Wilayah Konservasi Pantai dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Sekitarnya (KKP3K KDPS), pada tanggal 3 Februari hingga 7 Februari 2026.

Program SOMACORE didukung oleh Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Tindakan Iklim, Perlindungan Alam, dan Keselamatan Nuklir (BMUKN) melalui Inisiatif Iklim Internasional (IKI), serta dilaksanakan oleh konsorsium yang terdiri dari 10 organisasi nasional, regional, dan internasional di enam negara Segitiga Terumbu Karang.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie menegaskan bahwa status perlindungan penyu sangat kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional, sehingga tidak diperbolehkan untuk ditangkap, diperjualbelikan, atau dimanfaatkan dalam bentuk apa pun.

Di tingkat nasional, seluruh jenis penyu mendapatkan perlindungan penuh, sesuai denganPeraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan diperkuat dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025.

Penyu terdaftar dalam Appendix I CITES serta Daftar Merah IUCN dengan kategori terancam hingga sangat rentan.

Namun, perlindungan terhadap penyu tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh pihak pemerintah.

Kemitraan yang kuat dengan masyarakat menjadi faktor utama dalam keberhasilan pelestarian," tegasnya.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.500 pulau serta wilayah laut yang menjadi tempat tinggal bagi kekayaan hayati global, termasuk penyu laut. Dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia, enam di antaranya dapat ditemukan di perairan Indonesia.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penyu terus mengalami penurunan yang signifikan karena tindakan manusia, antara lain:

  • Pencurian telur;
  • Degradasi habitat pantai;
  • Pencemaran laut;
  • serta kegiatan perikanan yang tidak ramah lingkungan yang mengakibatkan penyu terjebak sebagai hasil tangkapan sampingan (bycatch).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy mengatakan bahwa partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan konservasi jangka panjang.

"Konservasi tidak dapat hanya mengandalkan aturan. Jika masyarakat memiliki kemampuan dan rasa kepemilikan, usaha pelestarian sumber daya pesisir dan laut akan jauh lebih berkelanjutan," katanya.

Data survei menunjukkan beberapa pantai di wilayah KKP3K KDPS menjadi tempat bersarang dan berjemur penyu yang ramai sepanjang tahun, dengan puncak kegiatan terjadi pada bulan Juni hingga Agustus.

Namun, tingkat kegiatan manusia di daerah pesisir sering kali membuat kawasan tersebut tidak ideal bagi penyu untuk datang dan bertelur dengan aman.

"Penyu sangat rentan terhadap kegiatan manusia. Bahkan gangguan yang sedikit saja bisa menghambat proses penyu bertelur. Oleh karena itu, perlindungan daerah pendaratan penyu perlu melibatkan masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas di kawasan tersebut," kata Rizya Ardiwijaya, Spesialis Terumbu Karang YKAN.

Pelatihan teknis ini dibuat dengan tujuan meningkatkan kemampuan kelompok masyarakat melalui pendekatan ilmu pengetahuan oleh warga.

Sebanyak 60 peserta yang terdiri dari kelompok nelayan dan masyarakat pesisir di Kecamatan Biduk-Biduk, Kecamatan Batu Putih, serta Kecamatan Maratua mengikuti pelatihan teknis intensif yang mencakup pemahaman tentang biologi dan ekologi penyu, pengenalan spesies, siklus hidup penyu, ancaman konservasi, hingga metode pemantauan pantai tempat penyu bertelur dan pengelolaan data.

Selain penyampaian materi, peserta juga melakukan praktik langsung di lapangan, seperti mengenali jejak penyu, mencatat sarang, serta simulasi pengumpulan dan pengelolaan data dengan menggunakan aplikasi berbasis Android.

Bagi masyarakat, pelatihan ini memberikan wawasan baru mengenai peran mereka dalam menjaga ekosistem pesisir. Suriyadi, salah seorang peserta dari Kampung Balikukup, menyampaikan bahwa partisipasi langsung dalam kegiatan pemantauan penyu membangun rasa tanggung jawab bersama.

"Latihan ini memberikan kami keterampilan dalam memantau habitat penyu. Saya sekarang merasa lebih bertanggung jawab untuk menjaga pantai agar penyu dapat terus bertahan," katanya.

Sebagai tindak lanjut, masyarakat yang telah diberikan pelatihan akan didampingi dalam melakukan pengawasan terhadap tempat peneluran penyu, mengumpulkan data mengenai jejak dan sarang penyu yang ditemukan selama enam bulan ke depan.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Selanjutnya diharapkan mereka mampu melakukan pengawasan mandiri. Data yang diperoleh ini akan menjadi dasar penting untuk perlindungan jangka panjang habitat penyu serta pengelolaan adaptif KKP3K KDPS. 2. Diharapkan mereka dapat melaksanakan pemantauan secara mandiri. Data yang didapat ini akan menjadi fondasi penting dalam menjaga habitat penyu jangka panjang dan pengelolaan adaptif KKP3K KDPS. 3. Mereka diharapkan mampu melakukan pengawasan sendiri. Informasi yang diperoleh ini akan menjadi dasar krusial bagi perlindungan habitat penyu dalam jangka panjang serta pengelolaan adaptif KKP3K KDPS. 4. Selanjutnya diharapkan mereka bisa melakukan pemantauan secara mandiri. Data yang didapatkan ini akan menjadi landasan penting dalam perlindungan habitat penyu jangka panjang dan pengelolaan adaptif KKP3K KDPS. 5. Diharapkan mereka mampu melakukan pengawasan mandiri. Data yang diperoleh ini akan menjadi dasar utama untuk perlindungan jangka panjang habitat penyu dan pengelolaan adaptif KKP3K KDPS.

Integrasi Teknologi untuk Konservasi

Selain memperkuat kemampuan masyarakat, YKAN juga mendukung inisiatif perlindungan penyu di Berau dengan menggunakan teknologi.Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Pada bulan Oktober 2025, dilakukan survei udara menggunakan teknologi UAV untuk memetakan penyebaran, jumlah populasi, serta penggunaan habitat penyu di perairan.

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode Sea Turtle Nesting Beach Indicator Tools.

Penggunaan pesawat udara tanpa awak memungkinkan pengumpulan data spasial dengan resolusi tinggi, cakupan luas, serta efisien dalam hal waktu dan biaya.

Penggabungan teknologi data dengan pengawasan langsung oleh masyarakat menjadi bagian yang sangat penting dalam penyusunan rencana tindakan perlindungan penyu di KKP3K-KDPS.

Perlindungan penyu memerlukan usaha yang berkelanjutan. Ketika masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan bekerja sama.

"Kami tidak hanya melindungi penyu, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir untuk anak cucu kita di masa depan," tambah Yusuf Fajariyanto, Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN.(*)

TerPopuler