Mbah Kirno Ditahan 20 Tahun, Keluarga Khawatir Dihukum karena Dianggap Sakti -->

Mbah Kirno Ditahan 20 Tahun, Keluarga Khawatir Dihukum karena Dianggap Sakti

1 Feb 2026, Minggu, Februari 01, 2026

-MEDAN.com - Seorang laki-laki tua bernama Mbah Kirno (60), penduduk Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dipenjara di dalam kandang logam selama 20 tahun oleh anggota keluarganya sendiri.

Mbah Kirno akhirnya dilepaskan dari tahanan besi oleh anggota Polres Lamongan, Ipda Purnomo setelah bertahun-tahun lamanya.

Berada di belakang rumah Mbah Kirno, terdapat kandang besi dengan ukuran lebar 0,5 meter, tinggi 1 meter, dan panjang 2 meter.

Selama ditahan, Mbah Kirno secara teratur diberi makan dan minum oleh keluarganya.

Sarti, saudara kandung Mbah Kirno, menyatakan bahwa alasan keluarga membatasi kebebasan Mbah Kirno adalah karena rasa takut.

Mbah Kirno dianggap berbahaya dan memiliki kekuatan gaib.

"Ya karena memiliki ilmu sakti seperti itu akhirnya kami keluarga memutuskan untuk mengurungnya," kata Sarti, Rabu (28/1/2026), dilaporkan Jatim.com.

Keluarga menganggap Mbah Kirno sebagai seseorang yang mengalami gangguan jiwa (ODGJ).

Menurut Sarti, ketika masih muda, Mbah Kirno sering mencari 'ilmu'.

"Ia (Mbah Kirno) usianya belum cukup untuk menjadi ilmu Jawa yang masuk kategori tingkat tinggi yang dibutuhkan. Akhirnya kekuatan kondisi batinnya belum memadai. Jadi seperti itu," tegasnya.

Akibat situasi tersebut, keluarga memutuskan untuk membawa Mbah Kirno ke kandang besi karena khawatir dia akan disakiti.

"Mbah Kirno dimasukkan seperti itu karena keluarga mengalami penganiayaan, merasa takut. Bahkan mengancam akan membunuh suami nenek saya juga dianiaya," tegasnya.

Sarti mengatakan, kekuatan yang dimaksud keluarga telah terbukti, termasuk Mbah Kirno memakan besi dan menggunakan gigi untuk memotong bambu.

“Sering makan besi, makan bambu itu pakai gigi. Minum oli 1 liter, makan api juga gak apa-apa. Saya tau sendiri itu bukan bohong saya,” tambahnya.

Alasan tersebut juga menjadi penyebab keluarga membatasi gerak Mbah Kirno, karena dianggap berpotensi membahayakan anggota keluarga.

"Intinya adalah karena dia mengancam akan membunuh keluarga," jelasnya.

Namun demikian, sambung Sarti, keluarga tetap memberikan makan tiga kali sehari kepada Mbah Kirno.

"Sebenarnya sedih. Karena dia adalah keluarga saya. Kakak kandung saya. Ya, saya makan apa. Saya juga memberi kepada kakak saya," tutupnya.

Peristiwa orang yang dikurung menggambarkan masalah struktural terkait kemiskinan, kesehatan mental, perlindungan sosial yang lemah, serta bagaimana negara hadir dalam kehidupan warga yang paling rentan.

Di berbagai wilayah, masih terdapat kasus individu yang dipenjara oleh keluarga atau lingkungan sekitarnya.

Alasan yang sering muncul kembali adalah dianggap berbahaya, tidak mampu mengelola diri sendiri, atau karena keluarga tidak memiliki dana maupun akses terhadap fasilitas kesehatan dan sosial.

Praktik ini sering dijustifikasi dengan alasan "terpaksa", namun pada akhirnya tetap melanggar hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi.

Dibebaskan Ipda Purnomo

Ipda Purnomo tiba bersama Kapolsek Sawoo, AKP Tutut Aryanto serta Kasat Binmas Ponorogo, AKP Agus Syaiful Bahri.

Mereka mengunjungi rumah Mbah Kirno pada hari Kamis (29/1/2029) sekitar pukul 16.25 WIB.

Hanya saja, Ipda Purnomo tidak dapat langsung membebaskan Mbah Kirno, karena keluarga sempat menolak.

Untuk melepaskan Mbah Kirno dari dalam kurung tersebut juga menghadapi kendala, karena kunci gembok hilang. Warga harus mencari tukang las.

Melalui usaha tersebut, Mbah Kirno akhirnya mampu keluar dari penjara besi yang mengurungnya selama 20 tahun.

Saat pertama kali dirilis, Mbah Kirno marah dan mengamuk.

Namun, ia kemudian mengikuti perkataan Ipda Purnomo. Rambut hingga kuku dibersihkan.

Terakhir, Mbah Kirno juga diberi mandi oleh Ipda Purnomo, kemudian diberikan pakaian pengganti.

Setelah dilepaskan, Mbah Kirno diantar oleh Ipda Purnomo ke rumahnya di Lamongan.

"Hari ini saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir di sini, termasuk dari Polres, Dinkes, Pemerintah Desa, dan Koramil. Kami datang menjemput salah seorang warga Ponorogo, yaitu Bapak Kirno," ujar Ipda Purnomo.

Pengamatan Jatim.com, Mbah Kirno terlihat dipeluk oleh putranya, Wahyudi, sebelum masuk ke mobil milik Ipda Purnomo.

"Kami mohon Bapak segera pulih, Bapak," ujar Wahyudi sambil memeluk Mbah Kirno dengan erat, Rabu.

Sarti, saudara kandung Mbah Kirno juga berdoa agar kakaknya segera pulih.

"Silakan keluarga yang ingin berkunjung. Saya mengizinkannya. Jika ingin mengambil tidak masalah. Namun jika belum siap, biar saya yang merawatnya," ujar Pak Purnomo.

Artikel ini telah tayang di news.com

(*/ -medan.com)

Baca berita MEDAN lainnya di Google News

Ikuti pula informasi lainnya melalui Facebook, Instagram, Twitter, dan Channel WA

Berita terkini lainnya di Medan

TerPopuler