MBS: Politik Ganda Saudi, Serukan Solidaritas Muslim Tapi Ingin AS Serang Iran -->

MBS: Politik Ganda Saudi, Serukan Solidaritas Muslim Tapi Ingin AS Serang Iran

1 Feb 2026, Minggu, Februari 01, 2026

Bengkalispos.com.CO.ID, WASHINGTON -- MediaAxiospada Jumat (30/1/2026) melaporkan bahwa, Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman (KBS) mengingatkan bahwa Iran akan semakin kuat jika Presiden AS Donald Trump tidak melakukan tindakan terhadap ancaman serangannya. Berdasarkan laporanAxios, KBS, tokoh yang dipercaya Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), memberikan peringatan tersebut dalam arahan tertutup di Washington di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

Pernyataan KBS berbeda dengan pendirian kerajaan sebelumnya yang menekankan kewaspadaan dan mengingatkan risiko perang yang lebih besar dengan Iran. Diketahui, tiga minggu lalu, MBS disebut telah meminta Trump untuk tidak melakukan tindakan militer karena berpotensi memicu konflik yang lebih luas di kawasan. Peringatan ini dikabarkan turut memengaruhi Trump untuk menunda serangan.

KBS mengunjungi Washington saat Amerika Serikat memperkuat kekuatan militer di kawasan Teluk. Meskipun Trump mengintruksikan penambahan besar-besaran pasukan AS, pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa belum ada keputusan dan diplomasi tetap menjadi pilihan.

KBS mengadakan rapat di Gedung Putih pada Kamis (26/1/2026) bersama beberapa pejabat tinggi Amerika Serikat, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine. Beberapa sumber menyampaikan kepadaAxiosbahwa fokus pembahasan adalah pada kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Namun, KBS dilaporkan meninggalkan pertemuan tersebut tanpa adanya kejelasan mengenai strategi atau tujuan pemerintahan Trump. Dalam pertemuan tertutup lainnya dengan para ahli dan perwakilan organisasi Yahudi, Menteri Pertahanan Saudi disebut menyatakan bahwa ketidakmampuan bertindak secara militer setelah ancaman yang dikeluarkan selama berminggu-minggu akan memicu semangat Iran.

Presiden Masoud Pezeshkian, di sebelah kanan, bertemu dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman, di Teheran, Iran, pada hari Kamis, 17 April 2025. - (Kantor Kepresidenan Iran via AP)

Perilaku KBS di Washington, seperti yang dilaporkan oleh Axios, jelas berbeda dengan sikap terbuka Arab Saudi yang menegaskan rasa hormat terhadap kedaulatan Iran serta memilih solusi diplomatik. Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman sebelumnya menyatakan bahwa kerajaan tidak akan memperbolehkan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya digunakan untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran.

Pernyataan itu diungkapkan dalam percakapan telepon antara putra mahkota yang juga menjabat sebagai perdana menteri dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Saudi (SPA), Selasa.

Menteri Bin Salman menekankan bahwa Kerajaan menghargai kedaulatan Republik Islam Iran, sambil menegaskan bahwa Arab Saudi "tidak akan memperbolehkan penggunaan wilayah udaranya atau wilayah teritorialnya dalam tindakan militer apa pun terhadap Iran oleh siapa pun, tanpa memandang tujuannya."

Ia juga menegaskan kembali dukungan Kerajaan Arab Saudi dalam menyelesaikan persengketaan melalui komunikasi yang dapat meningkatkan rasa aman dan ketenangan di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Pezeshkian menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan negara-negara Islam terhadap Iran dalam situasi yang penuh kekhawatiran akan kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Tehran, sebagaimana dinyatakan oleh kantor presiden Iran.

"Kebijakan pemerintah Republik Islam Iran yang berlandaskan prinsip-prinsip dasar didasarkan pada pemeliharaan persatuan dan kohesi etnis serta sekte, serta memperkuat solidaritas nasional," ujarnya, sebagaimana dilaporkan oleh kantor presiden.

Pezeshkian juga menekankan arti pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim. "Saya sepenuhnya percaya bahwa umat Islam dan negara-negara Islam adalah saudara, dan saya sangat yakin bahwa dengan bersama-sama dan melalui kolaborasi, kita mampu menciptakan kawasan yang aman, berkembang, serta maju bagi rakyat," ujarnya.

Pezeshkian menekankan bahwa Iran tetap siap "menerima setiap proses yang menuju perdamaian, ketenangan, serta menghindari konflik dan perang, dalam kerangka hukum internasional sambil sepenuhnya menjaga dan menghormati hak-hak bangsa dan negara."

 

RIA Novostimelaporkan pada Sabtu (31/1/2026), bahwa Amerika Serikat (AS) belum memberikan informasi mengenai tujuan dan rencana mereka terkait Iran kepada aliansi-aliannya di kawasan Teluk Persia. Mengutip laporanFox News,media Rusia melaporkan bahwa Amerika Serikat juga tidak memberitahu pihak Arab Saudi selama pertemuan konsultasi di Washington "untuk memperoleh kejelasan."

Seorang pejabat negara yang merupakan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyampaikan kepada Fox Newsbahwa aliansi di Teluk Persia tidak berhasil memperoleh penjelasan lengkap mengenai pandangan Amerika Serikat terhadap situasi di kawasan. Ia juga menekankan pentingnya menyampaikan pendirian negara-negara GCC serta evaluasi mereka terhadap situasi kawasan kepada Amerika Serikat.

Pada bulan Januari, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa "armada besar" Amerika Serikat sedang bergerak menuju Iran "dengan cepat dan dengan kekuatan yang besar." Ia memberi peringatan bahwa jika tidak ada kesepakatan terkait program nuklir Iran, serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan "jauh lebih buruk" dibandingkan serangan sebelumnya.

Susun skenario

Pentagon dan Gedung Putih, berdasarkan laporan Wall Street Journaltelah menyusun rencana dan skenario bersama mengenai potensi serangan militer terhadap Iran. Skenario ini mencakup yang disebut sebagai "rencana besar", yaitu skenario serangan Amerika Serikat terhadap lembaga dan fasilitas pemerintah yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam dalam rangkaian operasi pemboman yang luas, menurut laporan surat kabar tersebut.

Opsi yang lebih terbatas adalah serangan terhadap target pemerintah yang bersifat simbolis, yang dianggap masih memungkinkan peningkatan eskalasi jika Iran tidak menyetujui kesepakatan, tambahnya. Di sisi lain, AS masih menyembunyikan tujuan strategisnya dan tidak memberikan detail informasi, demikian laporan surat kabar tersebut.

 

Ahli hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menjelaskan beberapa faktor strategis yang membuat Iran sulit untuk disentuh atau dihancurkan oleh militer negara mana pun, termasuk Amerika Serikat. Ia memprediksi bahwa AS hanya akan melakukan serangan kecil terhadap Iran sebelum 11 Februari, lalu mengklaim kemenangan agar menjaga reputasi di panggung dunia.

"Iran sulit digoyang dan bahkan tidak mungkin dihancurkan," ujar Reza dalam webinar Global Insight Forum dengan tema "Setelah Venezuela, Iran & Greenland: Siapa Target Berikutnya", yang diikuti secara virtual di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Reza menyebutkan alasan pertama yaitu, Iran adalah salah satu pusat peradaban awal, sejajar dengan China, India, dan Romawi. Kesadaran sejarah ini membangkitkan semangat besar dalam menjaga martabat bangsa, baik di kalangan pemerintah maupun rakyat.

Alasan kedua, kepemimpinan Iran secara umum dihormati dan dicintai oleh rakyatnya karena dianggap memberikan contoh teladan dalam hal ideologi serta berupaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dalam kerangka kemandirian nasional dan perlawanan terhadap pengaruh asing.

Ketiga, Iran memiliki kekuatan militer yang mandiri dan nyata, dengan teknologi pertahanan yang dikembangkan sendiri di dalam negeri tanpa ketergantungan besar pada pihak luar.

"Oleh karena itu, rudal telah disiapkan untuk berbagai jarak—pendek, sedang, hingga jauh—termasuk dalam menghadapi kapal induk di kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Angkatan Laut Iran juga secara rutin melakukan latihan di perairan strategis," ujar Reza, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Global Insight Forum (GIF).

Menurutnya, dalam situasi konflik yang terbuka, Iran berpeluang melakukan penutupan Selat Hormuz yang akan memberikan dampak signifikan terhadap lalu lintas energi dan perdagangan internasional.

"Jika Amerika Serikat menyerang Iran, tindakan ini (blokade) sangat mungkin dilakukan," ujarnya melanjutkan.

Keempat, negara-negara Teluk sedang dalam kondisi siaga tinggi menghadapi kemungkinan balasan dari Iran. Jika Iran mendapat serangan, tanggapan yang muncul bisa berupa peluncuran roket dalam jumlah besar yang mengganggu wilayah Timur Tengah.

Pengalaman konflik sebelumnya menunjukkan bahwa dalam perang singkat di masa lalu, kota-kota besar Israel mengalami kerusakan yang cukup besar dan hanya mampu bertahan setelah campur tangan langsung Amerika Serikat.

"Pada saat ini, Iran dikatakan memiliki persediaan peluru kendali dalam jumlah yang sangat besar," katanya.

Reza menambahkan bahwa alasan kelima, yaitu ketidakmampuan serius negara-negara NATO dalam mendukung serangan langsung terhadap Iran. "NATO dianggap telah belajar dari AS yang juga memanfaatkan tekanan ekonomi sebagai alat geopolitik," katanya.

Alasan terakhir, yaitu Iran memiliki kemampuan intelijen yang kuat dalam mengidentifikasi, menyelidiki, dan menangani jaringan lawan, baik di dalam maupun luar negeri serta ketegasan dalam memberikan hukuman kepada agen dan pendukung asing menjadi faktor penghalang yang signifikan.

TerPopuler