Menikmati Pemandangan Indah Lereng Gunung Ungaran di Kedai Bantir Coffee House -->

Menikmati Pemandangan Indah Lereng Gunung Ungaran di Kedai Bantir Coffee House

24 Feb 2026, Selasa, Februari 24, 2026

JATENG.COM, SEMARANG -Tren kedai kopi yang menawarkan pemandangan alam masih menarik perhatian kalangan muda.

Di tengah kebisingan kota dan perangkat elektronik yang selalu menyala, banyak orang memutuskan untuk mencari tempat yang tenang, menjauh dari keramaian, menghirup udara segar, sambil menikmati secangkir kopi sambil melihat hijaunya lereng bukit.

Tidak heran, warung kopi di lereng gunung semakin ramai dikunjungi pengunjung, terutama pada hari akhir pekan.

Salah satu kejutan yang menyenangkan berada di bagian barat Kabupaten Semarang.

Kaki Gunung Ungaran menawarkan sebuah sudut damai yang dikenal sebagai Bantir Hill, destinasi kecil yang perlahan menjadi surga untuk menikmati kopi di tengah hutan pinus.

Kabut masih berada di ujung daun saat langkah-langkah menginjak jalur tanah menuju puncak kecil Bantir Hill.

Kabut halus mengelilingi area tersebut, seakan-akan memeluk siapa pun yang datang.

Dari kejauhan, bentuk Gunung Ungaran terlihat samar, namun tetap megah.

Angin yang mengusik dahan pohon pinus menghasilkan irama alami, tenang, sederhana, dan menenangkan.

Di tengah pemandangan hijau yang luas, terdapat sebuah kafe kecil dengan meja-meja yang menghadap langsung ke lereng bukit. Nama tempat tersebut adalah Bantir Coffee House.

Tidak ada dinding tinggi atau kaca besar yang memisahkan pengunjung dari alam.

Hanya terdapat udara segar, pemandangan yang luas, dan aroma kopi yang menyelinap perlahan.

“Kami ingin menghadirkan suasana ngopi yang benar-benar menyatu dengan alam. Di sini pengunjung bisa duduk santai, menikmati udara segar, dan tentu saja mencicipi olahan kopi khas kami," ujar Hafta M Fauzi, barista Bantir Coffee House, Senin (23/02/2026).

Menu yang disajikan sederhana, namun ramah di kantong.

Dimulai dari kopi susu es hingga teh dan minuman tanpa kopi, semuanya dapat dinikmati dengan harga yang murah.

Camilan ringan tersedia sebagai pendamping percakapan yang berjalan santai.

"Mulai dari Rp10 ribu sudah bisa mendapatkan minuman. Kami juga sering mengajak pengunjung berdiskusi tentang kopi, berbagi informasi gratis mengenai penyajian atau jenis tanaman kopi lokal," lanjut Hafta.

Menariknya, kawasan Bantir Hill saat ini masih dapat dikunjungi tanpa perlu membeli tiket. Belum ada pengelolaan yang sepenuhnya berjalan.

"Untuk saat ini masih gratis. Namun nanti ketika sudah kembali beroperasi, kemungkinan akan diterapkan sistem tiket," tambahnya.

Bukan hanya sebagai tempat untuk sekadar minum kopi, Bantir Hill juga menjadi tempat persembunyian bagi mereka yang ingin melakukan proses penyembuhan.

Beberapa pengunjung datang membawa tempat tidur ayunan, sementara yang lain membangun tenda kecil.

Beberapa keluarga sedang menyiapkan tikar, sementara para pemuda sibuk mencari foto dengan latar belakang kabut dan pohon pinus.

Saat senja tiba, kabut perlahan menghilang.

Matahari mulai menyinari melalui celah-celah daun. Udara dingin masih terasa, mendampingi setiap tegak kopi.

Angin halus menggerakkan cabang pohon, menghasilkan suara gemericik yang terdengar seperti bisikan dari alam.

Di antara para pengunjung, terlihat Arif, seorang pengunjung dari Kudus, yang sengaja datang bersama teman-temannya untuk merasakan suasana kopi di lereng gunung.

"Saya mengenal tempat ini melalui media sosial. Penasaran karena terlihat sejuk dan tenang," ujarnya.

Ia menyampaikan di Kudus jarang menemukan suasana seperti di Bantir Coffee House, menurutnya pemandangan alam membuat tempat tersebut berbeda.

"Lebih tenang. Bisa melihat kabut, hutan pinus, sambil minum kopi. Sangat cocok untuk menghilangkan kelelahan setelah bekerja," katanya.

Menurut Arif, harga minuman yang terjangkau juga menjadi keunggulan tambahan.

"Penampilannya menarik, tetapi harganya tetap terjangkau. Itu yang membuat saya betah. Jika ada waktu, saya ingin kembali ke sini," katanya.

Bukit Bantir bukan hanya lokasi untuk berfoto atau tujuan populer di media sosial. Ia merupakan ruang istirahat, tempat untuk berhenti sejenak dari kegaduhan kota.

Tempat untuk berdiam diri sambil menikmati kopi, atau berkumpul dengan teman dekat sambil tertawa ringan di tengah hutan pinus.

Di tempat ini, waktu terasa bergerak lebih perlahan. Tidak ada suara klakson, tidak ada antrian yang panjang. Yang ada hanyalah secangkir kopi panas, pemandangan hijau, dan pikiran yang secara perlahan menjadi lebih ringan.(BudI Susanto)

TerPopuler