
MENTERI Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan kehadiran batalyon infanteri pembangunan teritorial (Yonif TP) merupakan simbol kehadiran negara. Ia menyatakan bahwa keberadaan markas militer ini mampu menciptakan rasa aman bagi masyarakat.
Pernyataan ini diungkapkan Sjafrie saat melakukan kunjungan kerja ke Yonif TP 888/Satria Sejati, Bangunrejo, Pamotan, Rembang, Jawa Tengah, pada Selasa, 17 Februari 2026. “Keberadaan Yonif TP menjadi simbol kehadiran negara yang memberikan rasa aman, harapan, dan masa depan yang lebih kuat bagi NKRI,” ujarnya seperti dilaporkan dalam siaran pers pada Kamis, 19 Februari 2026.
Menurut Sjafrie, pembentukan batalyon di setiap kota dan kabupaten merupakan langkah pemerintah dalam memperkuat sistem pertahanan, sekaligus membentuk satuan-satuan yang disiplin, siap bertempur, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia berharap batalyon-batalyon pembangunan ini dapat berkembang menjadi kekuatan teritorial yang kompeten, tangguh, dan diakui oleh masyarakat.
Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2029, batalion teritorial pembangunan yang disebut Sjafrie akan dibentuk di setiap kabupaten dan kota, dengan jumlah total sebanyak 514 batalion.
Dengan demikian, pemerintah juga merencanakan bahwa setiap batalion pembangunan angkatan darat akan ditemani oleh dua batalion komponen cadangan guna memperkuat kemampuan pertahanan. Oleh karena itu, sebanyak 1.080 batalyon komponen cadangan akan dibentuk di seluruh Indonesia pada tahun ini.
Inisiatif Centra, organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang pertahanan, mengkritik rencana peningkatan jumlah markas TNI Angkatan Darat. Ketua Inisiatif Centra Al Araf menilai strategi pertahanan semacam ini tidak tepat. Di era modern warfareseperti saat ini, menurutnya, yang perlu diperkuat adalah teknologi pertahanan serta profesionalisme anggota TNI sebagai komponen utama dalam konflik.
Al-Araf mengilustrasikan konflik antara Rusia dan Ukraina, yang menunjukkan bagaimana perang modern kini lebih bergantung pada kemajuan teknologi. Ia berargumen bahwa membangun banyak batalyon hanya akan memberatkan anggaran. Dana tersebut seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan pelatihan tentara yang saat ini kemampuannya masih di bawah standar, serta mengganti alat utama sistem senjata TNI yang sudah usang dan tidak memadai.
Untuk Al Araf, konsep pertahanan yang dimulai dengan mendirikan batalyon pembangunan serta dua batalyon komponen cadangan di setiap wilayah tidak memiliki tujuan yang jelas. "Akhirnya, proyek ini hanya berhenti pada wujudnya saja," katanya pada Kamis, 12 Februari 2026.