
Pada usia 22 tahun, Munifah menunjukkan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan. Lulusan terbaik Universitas Terbuka (UT) Jakarta dari Program Studi Sistem Informasi ini mampu menyelesaikan pendidikannya dalam waktu 3,5 tahun, sambil menjalani pekerjaan paruh waktu (part-time) sebagai admin.
Bagi Munifah, belajar jarak jauh bukan hanya sebagai pilihan, tetapi keputusan yang paling cocok dengan situasi dan kesiapan dirinya. Ia mengakui, tantangan terbesar selama menempuh studi di UT adalah tuntutan kemandirian yang tinggi.
"Karena mungkin tidak selalu bertemu dosen secara langsung, jadi segala sesuatu harus dilakukan sendiri. Harus bertanggung jawab sendiri, disiplin, dan mengatur waktu sendiri," katanya setelah acara wisuda UT Jakarta pada hari Minggu (1/2) di UT Convention Center, Tangerang Selatan.

Sesuai dengan Kuliah Jarak Jauh
Munifah mendaftar di UT pada awal tahun 2022, setelah menjalanigap yearselama enam bulan. Sebelumnya, dia pernah mencoba jalur SNMPTN dan SBMPTN, serta mendaftar Global Korea Scholarship (GKS) ke Korea Selatan. Namun belum berhasil.
Setelah pendaftaran universitas konvensional ditutup, Munifah memutuskan untuk mengambil UT agar tidak terlambat dalam melanjutkan studi. Keputusan ini justru menjadi titik balik yang penting dalam perjalanan hidupnya.
Kuliah jarak jauh benar-benar sangat sesuai untuk saya. Karena sebenarnya awalnya juga belum siap untuk masuk ke kuliah biasa. Denganonline itu dapat diakses dari mana saja dan sambil bekerja, sehingga lebih fleksibel dalam mengatur jadwalnya," katanya.
Fleksibilitas sistem UT memungkinkan Munifah tetap melanjutkan studinya tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Ia bekerjapart-time sebagai admin dengan sistem work from home(Kerja dari rumah) dan jam kerja yang sesuai dengan kebutuhan.
Selama kuliah, alhamdulillah mendapatkan kesempatan yang samaowner-nya. Bahwa nanti dalam bekerja, prioritas utama adalah kuliah dan pekerjaan menjadi prioritas kedua. Jadi jika ingin mengizinkan diri mengikuti kegiatan kampus, bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan pekerjaan," katanya.

Strategi Lulus Lebih Cepat
Munifah memilih sistem non-SIPAS (Sistem Paket Semester), yaitu paket pembelajaran yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengatur sendiri mata kuliah setiap semester. Sejak awal, ia telah membuat rencana studi mulai dari semester pertama hingga akhir.
"Saya memang ingin lulus lebih cepat sejak awal. Saya sudah menyusun daftar mata kuliah yang akan saya ambil mulai dari semester satu hingga semester terakhir. Jadi nanti saya hanya perlu mendaftar, dan jika ada nilai yang belum lulus, saya bisa masukkan di semester terakhir," jelasnya.
Menggunakan strategi tersebut, Munifah mampu menyelesaikan pendidikannya dalam tujuh semester dan meraih gelar lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.93.
Menurutnya, perbedaan utama antara SIPAS dan non-SIPAS terletak pada fleksibilitas serta kecepatan dalam menyelesaikan studi. Skema non-SIPAS memberikan kesempatan lebih luas bagi mahasiswa untuk mengatur tempo belajarnya sendiri.
Menatap Mimpi ke Jepang
Setelah secara resmi meraih gelar sarjana, Munifah tidak ingin berhenti sampai di sini. Ia rencananya akan melanjutkan studi ke jenjang S2 dalam waktu dekat dan saat ini sedang mempersiapkan diri, termasuk mencari data mengenai beasiswa luar negeri serta mempersiapkan sertifikat IELTS.
Jepang menjadi negara yang menjadi targetnya. Minatnya muncul setelah mendapatkan dukungan dari seorang dosen di Universitas Indonesia yang memiliki banyak mahasiswa binaan di sana.
"Beliau menyarankan mencoba Jepang karena kualitas pendidikannya baik," ujar Munifah.

Dalam bidang studi, Munifah tertarik mengkaji data sains atau kecerdasan buatan (AI), sesuai dengan latar belakang ilmu sistem informasi yang ia pelajari selama masa kuliah.
Ia berharap mampu mempertahankan konsistensi dan semangat belajarnya sehingga impian untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dapat tercapai.
"Semoga tetap konsisten seperti saat ini dan segera melanjutkan pendidikan lagi, agar semangatnya tetap tinggi," tambahnya.